Cari Blog Ini
Mengapa Saya Menulis?
Manfaat Bertani/berkebun ( Selamat Hari Tani, 24 September 2020 )
Perjalanan
Laksmi sudah mengajarkan sebuah pelajaran penting, jika kejujuran masih merupakan nilai luhur yang dapat mengantarkan kita kepada kehidupan yang baik. Mengambil jalan pintas bukanlah sebuah pilihan, hanya karena keadaan tidak berjalan sesuai kehendak. Saat ini Nanta benar-benar merindukan seseorang yang selalu bertanya dimana dia berada, saat dia belum pulang ke rumah di malam hari.
Celotehan Anjani menyadarkan Nanta dari lamunan. Tubuh yang menanggung beban hati membuat angin dengan mudah menerbangkan pikiran. Meliuk-liuk dimainkan rasa sakit yang enggan berlalu. Matanya menyorot bayi cantik dihadapannya. Anjani lebih mirip dengan Laksmi daripada dirinya. Kulitnya sawo matang, wajahnya menggemaskan dengan bola mata besar dan bening. Sore ini tubuhnya dibalut baju merah muda bertabur bulatan-bulatan kecil berwarna putih. Kedua telapak kakinya dibungkus kaos kaki bergambar Hello Kitty. Dengan rambut yang sudah disisir rapi, jidatnya dihiasi bando lucu dengan warna senada. Laksmi mempersembahkan Anjani dengan sempurna, kecuali takdirnya sendiri.
Saat itu kira-kira pukul 21.15 Wita. Laksmi tak kunjung bisa memejamlan mata. Punggungnya terasa nyeri, gerakan bayi dalam rahimnya menimbulkan kontraksi berulang melalui pinggang lalu ke panggul. Durasinya semakin cepat dari waktu ke waktu. Dia merasakan perutnya semakin lama semakin mengeras. Hari itu masih kurang tiga minggu dari tanggal perkiraan lahir. Laksmi memilih bangun dari tempat tidur lalu mondar mandir menuju dapur, kamar mandi, ruang keluarga, dan ke kamar tidurnya lagi. Dia nampak sangat gelisah.
Setetes bercak darah yang meluncur dari mulut rahim Laksmi berhasil menghentak malam. “Masss… antarkan aku ke rumah sakit. Ada darah keluar, sepertinya aku segera melahirkan.” seru Laksmi sambil menyambar tas bayi yang mematung hampir dua bulan di samping tempat tidur mereka. Sontak Nanta mengambil kunci mobil, dompet, dan telepon genggamnya. Dengan sigap dia mendorong pintu garase agar city car berwarna hitam yang terparkir disana segera dapat dipacu. Ini kehamilan pertama istrinya, setelah penantian sepuluh tahun dalam pernikahan. Dari arah Nusa Dua, Nanta memacu mobilnya dengan tergesa. Menurut perkiraan, dia membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan untuk sampai di rumah sakit ibu dan anak Bunda, yang berlokasi di jalan Gatot Subroto, Denpasar.
“Masss… perutku sakit sekali!” jerit Laksmi berkali-kali.
“Sabar ya, sayang! Sebentar lagi sampai” ucap Nanta berpura-pura tenang. Laki-laki mana yang bisa bernapas dengan teratur disaat seperti ini. “Masss…kabarin ibu dan ayah di Jakarta ya, bilang cucu pertama mereka mau lahir!“ pinta Laksmi sambil mengelus perut buncitnya. “Nanti aku telpon. Atur napasmu, jangan buang-buang energi!” seru Nanta mengingatkan. “Perasaanku kok tidak enak ya... Doakan aku ya, Mas!” pinta Laksmi lagi. “Sudahlah, jangan berpikir aneh-aneh. Itu pengaruh hormon kehamilan. Aku sudah sering baca di Google.” Nanta kembali menenangkan istrinya.
“Apakah kau sudah memutuskan nama anak kita nanti?” tanya Laksmi sambil meringis.
“Iya, sayang…sudah. Kamu atur napas lagi ya, jangan banyak bicara…!” ucap Nanta.
“Aku tetap pada pilihanku ya Mas, jika benar bayi kita lahir perempuan, beri dia nama Anjani.” Kali ini Nanta menjawab tanpa menoleh istri di sampingnya, “Iyaaa, sayang!”
Berkali-kali mesin mobil itu terdengar meraung karena pedal gas yang ditekan terlalu keras dan pedal kopling kurang diangkat. Situasi itu membuat Nanta melupakan cara mengemudi yang baik. “Bagaimana kalau aku dan dia tidak selamat?” wajah Laksmi mulai menegang. “Semua akan baik-baik saja. Aku sudah menelpon dokter Mira tadi. Dia akan segera ke rumah sakit tanpa menunggu info dari perawat jaga IGD.” Nanta berusaha fokus pada jalan di depan. Lututnya mulai gemetar. “Kalau aku mati, apakah kau akan menikah lagi?” tanya Laksmi dengan suara lirih. Dia mulai tersengal kesulitan mengambil napas. Melihat kondisi istrinya, Dwipa kembali menambah kecepatan mobil.
Keringat membasahi bajunya. Laksmi merasa seluruh tubuhnya kesemutan menahan rasa sakit yang tiada tara. Wajahnya memucat. “Aku tidak mau kehilangan bayi ini, bahkan jika aku harus mati sekalipun,” gumam Laksmi .
“Sabar ya, Dokter akan menolongmu!” seru Nanta.
“Dokter itu harus menyelamatkan bayi kita lebih dulu.” suara Laksmi terdengar melemah. Kontraksi beruntun yang terjadi di rahimnya membuat Laksmi tidak nyaman. “Ya, tentu. Mereka akan menyelamatkan kalian berdua. Jangan habiskan tenagamu, sayang.”
Nanta sudah kehilangan cara untuk menenangkan istrinya. Dia menangkap kegelisahan itu. Sebuah kekhawatiran akan proses persalinan yang sudah lama mereka tunggu. Mempertahankan akal sehat menjadi sebuah usaha yang susah payah dilakukan Nanta, disaat dia sendiri dalam keadaan panik.
Sesampainya di depan ruang IGD, Laksmi segera dibaringkan pada bed yang sudah disiapkan perawat jaga. Dokter Mira telah menunggu disana. Dokter yang membantu program kehamilan Laksmi segera melakukan pemeriksaan. Mata Nanta tidak mampu menangkap semua kejadian yang berlangsung cepat. Kepalanya mau pecah melihat hiruk pikuk paramedis yang memberi pertolongan sigap kepada para pasien. Beberapa wanita lain menjerit kesakitan menanti kelahiran bayi. Hampir semua ditemani suami mereka. Nanta menguatkan hati untuk menemani istrinya sejenak, sebelum masuk ke ruang operasi. Seorang perawat datang menyentuh bahu kanannya.
“Mohon Bapak menunggu diluar, karena prosedur operasi akan segera dimulai.” pinta perawat itu dengan suara lembut. Duduk di sofa ruang tunggu dirasakannya bagai pesakitan. Tak lama seorang perawat lain memanggil namanya.
“Selamat ya, Pak! Bayinya perempuan, sehat dan cantik. Bapak boleh melihat adik bayi, mari ikut saya.” Sujud syukur Nanta terdengar meluncur dari bibirnya. “Terima kasih,Tuhan!” ucapnya berkali-kali. Belum sempat dia menanyakan kondisi Laksmi, pandangan matanya direbut oleh mahluk mungil yang menangis di depannya.
Entah berapa lama waktu berlalu ketika dokter Mira menyampaikan berita itu. “Laksmi mengalami kondisi apneu pasca operasi. Tensinya tak terukur, nadinya lemah, napasnya gasping, kontraksi uterus buruk, dan terjadi perdarahan aktif!” Dokter Mira memberi penjelasan dengan wajah sayu.
“Waktu kematian jam 23.15 Wita.” lanjut dokter Mira dengan hati-hati. Tangis Nanta pecah berantakan. Dia merasakan langit runtuh menimpa tubuhnya kemudian menghempasnya di batu karang tajam. Dalam kesendirian dia berusaha menyeka tetesan air di ujung matanya. Dengan langkah berat dia menyusuri lorong mencari tubuh Laksmi dibaringkan.
Diantara duka yang mendalam, Nanta teringat pada apa yang sudah dilakukannya untuk mendapatkan Anjani. Awalnya Laksmi menolak program yang ditawarkan dokter Mira. “Kita belum siap dengan jumlah dana yang cukup besar. Bagaimana kalau kita menabung dulu?” ajak Laksmi saat itu. Dia ingin semua dilakukan dengan perencanaan matang, karena bukan hanya biaya per siklus saja yag harus dipersiapkan. Mereka wajib mempunyai dana ekstra untuk biaya tidak terduga lainnya.
Ketika hasrat yang besar untuk memiliki seorang anak begitu menguasainya, Nanta sedang dihadapkan dengan beban pekerjaan yang cukup berat. Niat itu muncul saat dia harus menghadiri rapat penting dengan beberapa investor yang berminat untuk mengerjakan proyek pembangunan rumah sakit berskala internasional di daerah Pecatu Ungasan, Bali. Ini proyek besar, mengingat lokasinya yang strategis dekat patung Garuda Wisnu Kencana dan prediksi bisnis daerah wisata itu dimasa mendatang. Dengan jabatan yang ada dibahunya, sangat memungkinkan bagi Nanta untuk menentukan siapa yang bisa mengambil proyek besar itu. Mr. Akira dari Jepang menghadiahkan biaya program bayi tabung yang sudah ditunggunya.
Ketika semua diatur dengan rapi, tidak seorang pun tahu cerita itu. Begitu juga dengan istrinya sendiri, Laksmi. Dengan berat hati Nanta menyebut ada bonus kerja dari kantornya. Memaksakan mimpi justru telah membuat Nanta menyia-nyiakan jati dirinya. Perjalanan kisah untuk menghadirkan Anjani didua jam terakhir kehidupan Laksmi, menjadi cerita yang akan terus dikenang. Sedangkan waktu tidak memberikan kuasa untuk diputar ulang.
(penggalan cerpen dari kumpulan cerpen Perjalanan, Ni Wayan Sri Mulyani)
Keluarga Politikus
Entahlah, apa masalah yang dihadapi istri politikus itu. Maya selalu bersikap tertutup dengan para tetangganya. Awalnya aku kagum dengan sikap Maya yang tidak mau ikut kumpul-kumpul dengan para ibu untuk ngobrol di samping rumah di sore hari. Pikirku, dia menghindari kebiasaan bergosip yang kadang dilakukan para ibu dengan tidak sengaja.
Maya adalah seorang wanita karir yang bekerja sebagai customer service di salah satu bank swasta di Bali. Sebenarnya biaya kebutuhan perawatan tubuhnya jauh lebih tinggi dari gaji yang masuk setiap bulan. Tetapi itulah kenyataannya. Ada segelintir ibu-ibu modern di bumi ini yang tidak memperhatikan transferan bulanan dari kantor yang menggajinya.
Maya lebih memilih untuk menjaga perasaan hatinya sendiri daripada menjaga hati anaknya. Entah karena alasan produktif di luar rumah, atau sekedar gaya hidup. Baginya, pernikahan dengan seorang politikus sudah menjadi perangkap yang membatasi gerak.
Suami Maya memang seorang politikus dari salah satu partai politik di negeri ini. Karena kesibukannya, Pak Indra jarang tampak di rumah itu. Jika ada tetangga yang kebetulan melihat laki-laki itu masuk ke dalam rumah, maka dia adalah orang yang cukup beruntung.
Jangankan menggoda istri di dapur, duduk berdua saja mereka sangat jarang. Sekalinya tampak ngobrol serius, biasanya diakhiri dengan pertengkaran hebat. Dulu, aku pernah cemburu melihat dapur Maya yang dilengkapi alat-alat modern. Betapa nyamannya jika aku yang memasak disana. Tapi melihat kehidupan keluarga dengan hati saling berjauhan itu, aku jadi mensyukuri semua berkah yang kuterima. Rejeki bukan hanya uang. Suami yang berangkat kerja sambil menenteng rantang berisi masakanmu, atau makan dengan anak-anak di teras rumah adalah kelimpahan yang tiada tara. Bukan kemewahan dapurnya, tetapi cinta yang terus-menerus mengepul dari tungku kompor yang terus dinyalakan, yang membuatnya dirindukan. Bahagia itu tersimpan dalam kata cukup.
Mungkin aku satu-satunya tetangga yang pernah masuk ke dalam rumah besar Maya. Seminggu yang lalu, Pak Sukri, sopir Maya datang ke rumah dengan tergopoh-gopoh. Niken pingsan setelah jatuh dari tangga, dan Mba Ina, pengasuhnya sedang mengambil libur. Dua asisten lain kebetulan sudah berangkat ke pasar.
Aku datang dengan minyak kayu putih di tangan. Dengan lembut aku mencoba mengurut tengkuk Niken yang dingin, ada kesepian mendalam disana. Kusentuh bahunya lalu memijat lembut hingga pergelangan tangan. Aku mendapati kekecewaan yang bersarang menahun. Setelah lima belas menit berlalu akhirnya Niken siuman. Aku meminta Pak Sukri membawanya ke dokter, sekedar memastikan jika Niken baik-baik saja.
Tangisan Maya terdengar lagi. Ada yang berbeda dari tangisannya malam ini. Suara yang serak dengan teriakan melengking dan memekakkan telinga. Raungannya bagai lolongan serigala.
Aku yang tinggal tepat disamping kanan tembok rumahnya merasa tidak kuat dengan situasi yang semakin tidak jelas. Kuberanikan diri menekan bel yang dipasang tepat di depan pintu gerbang rumah bercat putih itu.
Pak Sukri, sopir di rumah itu tampak membukakan pintu. Beliau menemaniku masuk ke dalam rumah itu lagi. Maya sedang memukul wajahnya sendiri. Mengibaskan tubuhnya, lalu menjambak rambut ikal yang disemirnya dengan warna keemasan. Napasnya berkejaran dengan mata yang merah menyala.
Ada kemarahan yang tumpah ruah bagai air bah yang bebas setelah dibendung bertahun-tahun. Maya memaksa tubuhnya tetap berdiri dengan kekuatan yang tersisa dari kedua kakinya.
“Kau boleh cerita kepadaku. Sedang ada masalah apa, May?” tanyaku perlahan. “Ini masalahku sendiri. Kau tidak punya kewajiban untuk menolongku. Yang menangis juga aku. Tidak ada air mata yang kuminta darimu. Lalu apa urusanmu datang kemari?” teriak Maya terbakar emosi.
“Bukan begitu, May. Teriakanmu sudah mengganggu tetangga yang mau tidur. Masalahmu bukan urusanku. Tapi aku juga punya kuping yang masih sehat,” aku menjawab dengan rasa kesal. “Kalau begitu tutup saja kupingmu, atau simpan dikantong dastermu. Siapa suruh kupingmu mendengar jeritanku!” sahutnya tak kalah sengit.
Brak… kubanting pintu kamarnya dengan kuat. Sebuah lukisan Maya yang sedang tergantung di dinding jatuh ke lantai. Pecahan kacanya berhamburan. Mendapat perlawanan darinya, membuatku naik pitam. Aku bergegas beranjak pergi dari rumah itu.
“Dasar ibu-ibu kampungan kamu, Saras! Tiap hari tubuhmu bau dapur!” teriakannya mengekor langkahku.
Aku marah sekali. Tanpa menyadari kedudukannya sebagai ibu dari seorang gadis remaja, dia telah menghina para wanita yang iklas mengabdikan diri untuk keluarga mereka. Langkah sempat kuhentikan sejenak, tapi bukan untuk membalikkan tubuh dan menyerangnya balik. Aku hanya menarik napas sebentar, memberi jantungku kesempatan menata iramanya lagi.
Keesokan paginya, Pipit berlarian mencariku kesana kemari sambil berteriak-teriak. “Mama…mama…!” Aku segera mematikan kompor. “Lihat itu!” katanya sambil menunjuk ke arah rumah Maya. Sebuah ambulance datang tanpa menyalakan sirene. Sunyi senyap dengan pergerakan lembut. Dengan tangan terikat, Maya dibawa bersamannya.
Aku berlarian menghampiri suami Maya yang tampak berdiri mematung. “Ada apa?” tanyaku dengan napas memburu. “Maafkan aku, Saras. Kakakmu mengalami depresi berat, aku tidak bisa menemaninya di ambulance, karena dia terus mau membunuhku,” wajah Indra dipenuhi penyesalan. “Apa yang terjadi, In?” aku mencoba mencari jawaban dari sorot matanya yang kosong.
“Dia menuduhku punya wanita lain. Menduga Niken memakai narkoba. Mengira para pegawai di rumah mencuranginya. Merasa bos dikantor memanfaatkannya, dan semua sangkaan-sangkaan lain yang tumbuh subur dikepalanya.” Indra menarik nafas berat. Aku terduduk lemas dihadapan kakak iparku. Sikap seorang politikus susah ditebak. Bolehkah aku mempercayainya? Entahlah.
Indra memandang kehidupannya tanpa melihat. Maya menjalani perannya tanpa kehadiran rasa. Halaman rumah mereka indah dan terawat, tetapi lupa menggarap ladang kasih disana. Persediaan beras mereka tidak pernah habis, tetapi lumbung-lumbung cintanya kosong.
Seringkali mereka mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Menampilkan hidup penuh kebohongan di media sosial hanya untuk mengelabui diri sendiri. Dia menyia-nyiakan energi tubuh untuk membentuk citra dirinya lebih tinggi. Menjaga penilaian orang kepadanya, lalu melewatkan kebahagiaan sendiri. Ketika sampai pada suatu titik, mereka kehilangan jati diri. Terlanjur menjadi orang lain. Sejatinya alam sudah mengajar tanpa kata-kata.
Separuh usia ibu kami dihabiskan untuk mengabdi kepada keluarga. Selain mewariskan pandangan agama yang diyakini, ibu lebih banyak mengajarkan kami nilai-nilai luhur tentang kasih yang mendalam. Sikap baik itu diwariskan perlahan-lahan melalui pengasuhan, bukan dihadiahkan secara tiba-tiba. Selama ini ternyata Ibu bukan hanya bermaksud mengajarkan aku memasak atau merawat anak-anak, tetapi juga cara mencintai dan menertawakan hidup pada saat bersamaan.
(penggalan cerpen Keluarga Politikus dalam antologi cerpen Salma Dan Lelaki Kiriman Tuhan, Ni Wayan Sri Mulyani)
Hari Raya Galungan di Bali
Umat Hindu di Bali mengenal beragam hari raya keagamaan. Salah satu hari raya besar yang diperingati umat Hindu itu adalah Hari Raya Galungan.
Hari Raya Galungan merupakan sebuah rangkaian hari raya yang jatuh setiap 210 hari sekali. Dalam perhitungan kalender Bali, hari raya ini jatuh pada hari Budha Kliwon Wuku Dungulan (Hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan).
Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang memiliki arti “Menang”. Selain untuk memperingati hari terciptanya alam semesta dan jagat raya ini, Galungan juga dimaknai sebagai hari kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan/keburukan).
Tahapan Galungan dimulai dari perayaan Tumpek Wariga, yang jatuh pada Saniscara/Sabtu Kliwon Wuku Wariga. Hari ini juga dikenal sebagai Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag/Tumpek Pengarah. Tumpek ini jatuh 25 hari sebelum hari raya Galungan. Pada hari Tumpek Wariga/Tumpek Bubuh ini, umat Hindu memuja Sang Hyang Sangkara yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam tugas beliau sebagai pencipta dan pelindung alam semesta khususnya tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi ini. Mengucap syukur atas berkah beraneka pohon yang berguna bagi kehidupan alam semesta.
Sugihan Jawa berasal dari 2 kata yaitu Sugi yang berarti bersih/suci dan Jawa yang berarti luar. Sugihan Jawa dimaknai sebagai hari pembersihan/penyucian segala sesuatu yang berada di luar diri manusia, Makrokosmos (Bhuana Agung).
Keesokan harinya pada Sukra/Jumat Pon Wuku Sungsang adalah Hari Raya Sugihan Bali. Sugihan Bali berasal dari kata Sugi yang berarti bersih/suci dan Bali/Wali yang berarti dalam.
Sugihan Bali dimaknai sebagai hari pembersihan dan penyucian jiwa raga manusia, Mikrokosmos (Bhuana Alit). Mengingatkan umat Hindu untuk menyucikan diiri (Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan) dalam menyongsong Hari Raya Galungan yag semakin dekat.
Keesokan harinya, pada Soma/Senin Pon Wuku Dungulan adalah hari Penyajaan Galungan. Penyajaan berasal dari kata Saja dalam bahasa Bali. Saja berarti benar atau serius. Hari ini umat Hindu mulai mesaja atau mesajaang, yang berarti bahwa umat sudah semakin serius mempersiapkan Galungan. Pada hari ini ibu-ibu di Bali mulai membuat jajan untuk persiapan upacara Galungan.
Sehari sebelum hari raya Galungan, tepat pada Selasa Wage Wuku Dungulan dikenal sebagai hari raya Penampahan Galungan. Penampahan atau Penampan mempunyai arti “Menyambut”. Hari ini umat akan disibukkan dengan segala persiapan menyambut Galungan. Mulai dari menyembelih babi atau ayam. Daging yang dimasak akan menjadi pelengkap upacara di hari raya Galungan dan persiapan hidangan untuk sanak saudara yang datang berkunjung. Menyembelih babi atau ayam dimaknai sebagai simbolis membunuh semua sifat atau nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Hari ini juga dipercaya jika para leluhur mulai datang mengunjungi sanak keturunannya. Umat Hindu akan membuat punjung/sodan/suguhan sesuai kemampuan masing-masing. Pada hari ini orang Bali juga akan membuat Penjor yang dihias dengan berbagai hasil-hasil bumi, seperti kelapa, padi, buah, daun-daunan, dll. Penjor akan ditancapkan di depan rumah masing-masing. Penjor ini dimaknai sebagai rasa syukur atas semua anugerah alam semesta kepada umat manusia. Penjor yang dibuat dari bambu melambangkan gunung yang memberi kehidupan. Bambu melengkung ke bawah dimaknai sebagai rasa hormat kepada Tuhan pencipta alam semesta, menundukkan kepala/menundukkan ego dan senantiasa mulat sarira, eling atau ingat pada tujuan hidup.
Tepat pada hari Budha Kliwon Dungulan, semua umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan. Pagi hari akan diawali dengan upacara persembahan sesajen/banten Galungan yang merupakan wujud syukur atas segala limpahan anugerah Tuhan. Acara akan dilanjutkan dengan persembahyangan bersama mulai dari rumah masing-masing, rumah asal/leluhur, dan Pura yang ada di wilayah/lingkungan tempat tinggal. Bagi orang Bali, hari ini juga akan diisi dengan tradisi pulang kampung. Sembahyang ke rumah asal mereka. Bagi perempuan Bali yang sudah menikah, jika waktu dan kondisi memungkinkan, juga akan bersembahyang ke rumah orang tua mereka.
Sehari setelah Hari Raya Galungan dikenal dengan Hari Umanis Galungan. Pada hari ini umat akan mengisinya dengan saling mengunjungi sanak saudara, dharma shanti, dan rekreasi.
Rahajeng Galungan, dumogi rahayu lan shanti jagate.
Hari Literasi Internasional, 8 September 2020
Diperlukan sebuah keberanian untuk menyuarakan pikiran.
Dibutuhkan sebuah kebijaksanaan untuk menghargai sebuah perbedaan pendapat.
Dituntut sebuah perjuangan untuk mewujudkan tujuan itu.
Dan kemampuan literasi adalah salah satu alat untuk mencapainya
Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (id.m.wikipedia.org)
Hari Literasi Internasional atau Hari Aksara Sedunia bermula dari sebuah Konferensi Menteri Pendidikan Sedunia untuk membahas Pemberantasan Buta Aksara, yang diselenggarakan di Teheran, Iran, pada tanggal 8 – 19 September 1965. Pada saat itu pemerintah Republik Iran mengusulkan agar UNESCO memberikan hadiah literasi internasional kepada mereka yang berjasa dalam perjuangan melawan buta huruf.
Dalam perkembangan selanjutnya, dirasa wajib untuk mengingatkan semua penduduk dunia akan pentingnya sebuah gerakan literasi. Sejak tahun 1966 setiap tahun masyarakat dunia mulai memperingati Hari Literasi Internasional atau Hari Aksara Internasional. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kita bahwa membaca dan menulis adalah kebutuhan semua orang.
Gerakan literasi semakin digaungkan dari tahun ke tahun. UNESCO mengungkapkan bahwa saat ini setidaknya masih ada 773 juta orang dewasa di dunia yang masih belum bisa membaca dan menulis.
Dari data Badan Pusat Statistik, untuk saat ini ada sekitar 1.93% atau sekitar 3,29 juta orang di Indonesia masih mengalami buta aksara. Angka ini sudah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Indonesia belum terbebas dari masalah buta aksara, dan masih menyumbangkan angka itu untuk dunia internasional. Usaha untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari masalah buta huruf masih harus terus diperjuangkan.
Ketika internet dan produk-produk digital mulai merambah setiap negara, dunia literasi pun mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kemampuan literasi yang terdiri dari kemampuan membaca, menulis, berhitung, berbicara, dan memecahkan masalah menjadi dasar yang kuat bagi seseorang dalam berkomunikasi dan berbahasa.
Jadi, pentingkah Hari Literasi itu diperingati?
Tentu saja penting, karena saat ini kemampuan literasi adalah kebutuhan mendasar seseorang.
Dari data saat ini, lebih dari separuh angka buta huruf yang tinggi itu adalah perempuan. Sementara perempuan adalah pendidik awal seorang anak. Dalam kodratnya perempuan akan menjadi ibu. Bagaimana karakter seorang anak akan terbentuk, banyak ditentukan dari bagaimana seorang ibu mendidiknya.
Menantu Pilihan
Mustahil bagiku memberi penghormatan kepada seorang wanita yang sudah melahirkan calon suamiku. Setelah apa yang dilakukannya, aku merasa kehadiranku hanyalah musim panas dihatinya.
Entah menantu seperti apa yang diinginkan mamanya Bayu. Yang jelas profesiku sebagai seorang penulis sudah dicoret dari daftar perempuan yang layak masuk ke dalam keluarganya. Saat ini aku sedang membutuhkan sedikit ruang untuk merenungi apakah hubunganku dengan Bayu layak untuk dipertahankan.
“Alohaaa… kau sudah bangun, Sitha?” tanya Ratih dengan suara merdu. Sejenak aku menguap di telepon genggam. “Ya, ampunnn, Mak! Aku baru saja membuka mata. Semalam tidurku lelap sekali.“ Aku meraih jam weker disamping tempat tidur. Astaga, sudah jam lima pagi. Sontak saja aku melepaskan diri dari selimut yang membungkusku semalaman.
“Apa kau sudah berkemas-kemas, sayang? Oooahemmm…!” Kali ini Ratih bicara sambil menguap. Ternyata lewat sinyal pun, menguap bisa menular.
Aku turun dari tempat tidur dan menyeret langkah mendekati koper besar yang masih menganga lebar. Rupanya semalam aku ketiduran saat menyiapkan perjalanan hari ini. Aku lupa menutup koper itu. “Hmmm…aku merasa sudah memasukkan semua milikku ke dalam koper itu, kecuali Bayu!“ jawabku.
“Ha..ha..ha… forget him! sudahlah, lupakan sejenak Bayumu itu. Kalau beruntung, kamu bisa memasukkannya ke dalam kopermu beberapa tahun lagi,“ candaan Ratih lebih mirip kicauan burung pipit di pagi hari. “Ambyarrrr…!“ jawabku terkekeh.
Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, aku turun ke lantai bawah. Langkahku mengarah ke dapur. Dari rak penyimpanan piring, kuraih mug kesayangan. Sambil menguap lagi, kutuang kopi sachet varian Torabika Cappuccino ke dalam mug warna hitam bergambar tokoh Kapten Marvel, dari seri film-film Marvel. Telunjukku menekan tombol merah pada dispenser. Air panas meluncur ke dalam mug dan melebur dengan kopi. Aromanya cukup kuat untuk menggairahkan pagi.
Perlahan aku melangkah ke samping jendela dapur, berdiri disana sambil menyesap kopi. Diluar masih tampak remang-remang. Ingatanku terbang pada kejadian sebulan lalu. Ketika pertama kali Bayu mengajakku mampir ke rumahnya di daerah Ubud, Bali.
Rumah Bayu cukup luas dengan gaya arsitektur Bali. Struktur bangunan banyak dipengaruhi tradisi Bali dan Jawa Kuno. Bangunan nampak didominasi bahan lokal seperti kayu kelapa, bambu, kayu jati, batu, dan batu bata. Selain dari materialnya, kesenian atau ukiran pada setiap elemen desain juga memiliki karakteristik budaya yang kental. Secara keseluruhan menampilkan keunikan rumah adat Bali, tanpa melupakan suasana yang asri dan nyaman. Sayang keindahan rumahnya tidak berbanding lurus dengan sikap mamanya kepadaku.
“Menurut mama, dia tidak sepadan dengan kehidupan kita. Kegemarannya mengetik di depan laptop juga tidak menjanjikan masa depan yang cerah,” ucap tante Dewi sore itu. Semua terjadi begitu saja. Tanpa disengaja aku mendengar pembicaraan mereka dari balik dinding ruang tamu. Aku berjingkat-jingkat menempelkan daun telingaku ke dinding ruangan yang terbuat dari bata merah itu.
“Perempuan, kalau dari kecil hanya dirawat seorang ayah, hasil pendidikannya akan beda, Bay…! Mama ngomong ini demi kebaikan.” Hening sesaat. “Kebaikan aku atau kebaikan mama?” Bayu balik bertanya. “Mengapa orang tua selalu merasa tahu apa yang dibutuhkan anaknya?” Suara langkah Bayu terdengar mendekat, membuatku buru-buru meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke dalam kamar. Melihat ada yang tidak beres, ayah segera menyusul dari belakang. Ayah duduk dihadapanku, menatap wajah seraya memegang daguku. Gerakan tangan ayah membuat wajahku terangkat . Kami bersitatap dalam kebekuan.
“Apakah Bayu menyakitimu?” tanya ayah pelan. Aku menggelengkan kepala. “Kalau bukan dia, lalu siapa?” tanya ayah lagi. “Tanpa sengaja, aku mendengar pembicaraan tante Dewi dengan Bayu. Sepertinya beliau kurang setuju dengan hubungan kami.” Ayah terdiam lalu tersenyum. “Jangan membuktikan sesuatu untuk orang lain. Yang membenci hanya mampu melihat kekurangan,” kata ayah sambil melepaskan tangan kanannya dari dagu lancipku.
Sejak kejadian itu, aku meminta Bayu tidak menemuiku. Ini tidak adil untuk Bayu, tetapi apa yang sudah dilakukan tante Dewi juga menyakiti hatiku. Menyinggung almarhum ibu, selalu membuatku sensitif. Rasa sakit yang tidak dilihat seseorang karena berada jauh dibalik permukaan dan tidak ada luka yang tampak oleh mata.
Ya, ibuku memang meninggal dengan tragis, saat usiaku sepuluh tahun. Malam itu aku mendengar suara ribut dari arah dapur. Nenekku sedang menumpahkan seluruh amarahnya kepada ibu, tanpa sisa. Entah apa yang mereka ributkan, nenek memang punya kebiasaan mengomentari setiap hal yang dilakukan ibuku. Ayah seringkali meminta ibu agar sabar menghadapi mertuanya. Aku melihat tidak seorang pun ada yang menolong ibu. Yang ada hanya tuntutan demi tuntutan. Setiap ibu ingin menumpahkan kegelisahannya, ayah selalu menempelkan telunjuk kanannya di bibir ibu. Menyuruhnya diam. Mungkin ayah juga tidak punya solusi menghadapi situasi seperti itu. Antara membela ibuku atau ibunya sendiri.
Sebelum aku terlelap, ibu datang mencariku. Ada sesuatu yang amat menghantui di dalam mimiknya, seolah ibu ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak menemukan kata-kata. Keesokan harinya kami menemukan ibu sudah tidak bernyawa, tergolek di kamar mandi dengan urat nadi tangan kirinya menganga lebar.
Sekarang, aku dapat memahaminya dengan lebih baik. Ibuku sangat menderita. Tertekan oleh sikap mertuanya, ditambah sikap ayah yang membungkam jeritan hatinya. Setelah upacara pemakaman ibu berlalu, aku melihat jika cinta ayah kepada ibu adalah suatu padanan cinta sejati. Perasaan kehilangan dan duka citanya membuat ayah tidak pernah menikah lagi, sampai sekarang. Dengan merawatku sepenuh hati, ayah telah meninggalkan cintanya hanya kepada ibuku seorang.
Ada sebuah pekerjaan besar yang menuntut perhatian dan konsentrasi penuh. Itu kabar yang kusampaikan lewat WhatsApp. Bayu menerima alasan itu. Dalih yang cukup masuk akal dan masih mengandung kebenaran. Ini adalah awal dari sebuah mimpi besarku di masa depan. Aku sedang menyiapkan sebuah skenario film, yang diadaptasi dari salah satu novel terlarisku.
Seminggu yang lalu aku menyempatkan diri datang menemui tante Dewi. Ayah telah membuatku lebih kuat dari sebelumnya. Aku ingin menyelesaikan semuanya dengan cantik dan anggun.
Seperti biasa rumah itu selalu tenang dan sepi. Tante Dewi nampak terkejut dengan kehadiranku. Kami duduk berdua di halaman samping rumah. Tempatnya asri dan sejuk. Tante Dewi menyuguhkan teh melati yang hangat. Ini sangat membantu meningkatkan mood bicaraku.
“Kemarin Bayu memohon agar saya menerima lamarannya. Tekadnya bulat untuk meninggalkan Tante, memilih tinggal dengan saya dan memulai hidup baru di Jakarta,” aku menyisipkan senyum diantara ceritaku.
Wajah oval tante Dewi memucat. “Kalau saat ini saya menolak lamaran Bayu, bukan karena saya takut. Saya hanya ingin agar Tante tidak kehilangan dia,” lanjutku. “Jika suatu hari nanti, Bayu menikah dengan seorang wanita pilihan tante, saya pastikan Bayu akan membenci Tante selamanya. Sedangkan Tante, akan mengingat saya seumur hidup Tante. Hanya karena kebaikan saya maka semua yang Tante inginkan tercapai.” Aku tidak memberi kesempatan tante Dewi bicara. Beliau nampak tertegun tidak mengucapkan satu patah katapun. Setelah menyelesaikan tegukan terakhir, aku meninggalkan tempat itu.
Aku tersadar dari lamunan setelah melihat sebuah mobil city car berwarna putih mengambil posisi parkir di depan pintu gerbang rumahku. Ratih sudah datang menjemput. Aku bergegas mandi dan tidak mau terlambat sampai di bandara Ngurah Rai. Aku tidak akan memberi ruang untuk penundaan. Aku memiliki semua waktu yang dibutuhkan untuk menunjukkan prestasi terbaikku kepada dunia.
Bayu bukanlah tempat untuk menghentikan langkah. Jika dia sungguh-sungguh menginginkan aku, akan dicarinya sebuah jalan untuk menemukanku. Tidak ada yang harus aku khawatirkan. Kepergian mendiang ibu mengajarkan aku akan banyak hal. Jangan masuk ke sarang singa sebagai seekor domba. Terkadang Tuhan memberi luka, hanya untuk menyelamatkan kita dari duka yang lebih dalam.
(Penggalan Cerpen NW Sri Mulyani dalam Buku Salma Dan Lelaki Kiriman Tuhan)
Perempuanku
Kita betina berkuku genap
yang bisa berburu dan mengasuh
liar dan anggun
diteriknya padang ilalang kehidupan
jaga martabatmu
pemimpin tak gentar digertak zaman
rajah semesta tersimpan di lekuk lidah
menjagamu sepanjang jalan
Tantangan Waktu Saat Menemani Anak-anak Belajar Secara Online
Sesungguhnya menemani anak-anak belajar bukanlah hal yang baru. Setiap malam kita juga sudah terbiasa menemani mereka belajar.
Waktu belajar menjadi salah satu point yang membuat pembelajaran secara online menjadi tantangan baru. Jika biasanya dari pagi sampai siang hari kita menitipkan anak-anak untuk belajar di sekolah, saat ini tugas itu beralih kepada kita. Ini bukan hal yang mudah untuk para ibu.
Bagi ibu rumah tangga, waktu ini adalah waktu keramat dengan banyak tugas-tugas rumah tangga. Mulai dari belanja kebutuhan harian, menyiapkan sarapan, memasak, bersih-bersih rumah, membereskan cucian, mebanten, dan lain-lain. Rutinitas ini masih bisa disiasati dengan menukar waktu kerja kita. Yang biasa dikerjakan pagi hari bisa diganti ke siang. Tentunya setelah semua tugas-tugas anak selesai terlebih dahulu. Saya biasa mengajak anak-anak mengerjakan tugasnya di meja makan, bukan di dalam kamar mereka. Sambil menemani mereka belajar, masakan tetap dapat disajikan tepat waktu. Lakukan hal-hal yang bisa dikerjakan bersamaan dengan waktu anak-anak belajar. Sisanya bisa dialihkan ke waktu berikutnya. Semua pihak harus bersedia menurunkan ego. Sang Ibu dan anaknya.
Untuk ibu-ibu yang bekerja, mungkin bisa menyiasati dengan menengok anak-anak di rumah saat jam makan siang (jika memungkinkan). Meminta dispensasi waktu kepada guru pengajar di sekolah juga bukan hal yang tabu. Jika kepercayaan antara guru dan orang tua sudah terjalin, hal ini bukanlah sebuah hambatan. Kebetulan di sekolah anak saya sangat terbuka akan hal ini. Jika ada upacara adat atau harus keluar kota, saya biasa menghubungi guru mereka untuk minta penundaan waktu. Saya biasa share loc atau mengirim photo lewat Whatsapp untuk membuktikan keadaan yang sebenarnya. Sejauh ini semua berjalan lancar.
Penundaan karena suatu kepentingan bukan berarti meniadakan tugas tersebut. Semua bisa kita bicarakan dengan baik. Kondisi saat ini akan membuktikan seberapa dekat orang tua dengan pihak sekolah. Seberapa jauh kita mengenal guru-guru anak kita.
Semoga bermanfaat, tetap semangat untuk berkarya dan belajar.
Lumba-lumba Dan Wisata Taman Laut Pantai Lovina
Arti Keluarga
Cerita Dari Wayan
Info cerita kehidupan terbaik 2020
Navigation List
Paling Dibaca
-
Ada tiga hal yang tidak dapat disembuyikan lama, dia adalah matahari, bulan, dan kebenaran (Buddha). MATAHARI Ahli astronomi modern telah pa...
-
Berkejaran dengan waktu sudah menjadi gaya hidup manusia modern. Dari semua rutinitasnya, setiap orang membutuhkan waktu untuk istirahat sej...
-
P EREMPUANKU K ita betina berkuku genap yang bisa berburu dan mengasuh liar dan anggun diteriknya padang ilalang kehidupan j aga martabatmu ...
-
Cermin yang mampu memantulkan wajahmu pun tidak dapat memantulkan dirimu yang sebenarnya. Terkadang bercermin membuat kita sadar jika hi...
-
Setiap ibu di jagat ini adalah guru pertama seorang anak. Sebagai seorang wanita, engkau akan memahaminya dengan baik. Pendidikan su...
Kategori
Formulir Kontak
Cari Blog Ini
Label
- Adat dan Budaya (2)
- Buku Saya (3)
- Cerpen (13)
- Galungan di Bali (1)
- Kreativitas (4)
- Lifestyle (7)
- Malaikat Bersayap (1)
- Puisi Hati (11)
- Sharinghati (22)
Mengenai Saya
- NW Sri Mulyani
- Berbagi hal positif dalam bidang seni kepenulisan, bercocok tanam, budaya Bali, inspirasi wanita dan keluarga.
Menyesal Itu Luka
Anak-anak yang membuang-buang waktunya harus memahami ini dengan lebih bijaksana. Masa muda hanya sekali. Jika terlewat dan Anda belum meman...




















