SHALIMAR


 

SHALIMAR

    

    “Brakkk…!” Terdengar suara benda jatuh.

Tidak ada lagi keributan dari perempuan muda itu. Tubuhnya terjatuh di lantai keramik mewah keluarga Skyton. Tergeletak begitu saja, seperti daun kering yang dihempas angin.

    Mbok Sami datang tergopoh-gopoh dari dapur yang terletak di samping ruang rawat Shal, panggilan sayang untuk Shalimar. Tubuhnya yang besar makin terasa berat. Diseretnya langkah renta itu menuju ruangan Shalimar, perempuan yang beberapa bulan terakhir berkawan kekecewaan.

    “Bangun, Buuu…. Bangun!” teriak Mbok Sami dengan kencang. Kedua tangannya mengguncang-guncang bahu lemah dengan tubuh dalam posisi menelungkup.

    Tangan Mbok Sami meraba tubuh panas Shalimar. Beberapa hari terakhir Shal mengalami sepsis berat. Demamnya tak kunjung mereda, paramedis yang merawat mencurigai terjadi infeksi lanjutan. 

    “Mba Aurellll… Ibu jatuh, Mba!” suara Mbok Sami serak menahan guncangan emosi. Dari kamar kecil terdengar suara perempuan menyahut. Rupanya Aurel sedang ke kamar kecil saat kejadian mengenaskan itu berlangsung.

    Mbok Sami mencoba memeriksa tubuh Shalimar. Tangan dengan keriput yang menumpuk disetiap lekukan jari itu mulai menjelajahi tubuh malang  Shalimar. Mencari luka yang menebar bau amis.

    “Ya ampunnnn...! Bu!” Pekik Mbok Sami lagi. Aroma darah sudah menguasai ruangan, bercampur dengan aroma urin yang tumpah ke lantai. Tubuh yang terjerembab ke lantai membuat selang kateter terlepas dari vagina. Kantong Urin yang tersangkut kemudian tertimpa badan Shalimar. Tarik-menarik selang urin membuat urin yang tertampung di kantongnya meluap keluar.

    Aurel yang mendapat tugas jaga hari itu keluar dari kamar kecil yang ada dalam satu areal ruang rawat. Kedua tangannya sigap membalik tubuh Shalimar. Nampak darah mengucur dari lubang di leher tempat alat tracheos terpasang. Tangannya cekatan mengambil perban untuk menutup leher Shalimar yang berdarah.

    “Angkat badan Ibu ke ranjang, Mbok!” perintah Aurel cepat. Suara gaduh mendatangkan Pak Antok dari garase salah satu keluarga terkaya di Jakarta Selatan itu. Mereka berjuang bersama hingga tubuh lemah Shalimar kembali tergolek di ranjang perawatan. 

    Dokter Andre memasuki ruang rawat dengan tergesa. Tangannya cekatan memberi pertolongan. Aurel sungguh sigap mendatangkan dokter itu dalam waktu cepat. 

    Mereka sedang bergelut dalam kondisi darurat yang sama. Berjuang untuk menemukan sisa-sisa napas Shalimar yang baru saja berlalu.

    “Periksa saturasi oksigen. Ventilator SIMV RR 18, ya!” Seru Dokter Andre sambil menyiapkan obat-obatan yang diperlukan.

“Meropenem lanjut!”

“Mycamin lanjut!”

“Komponen darah sedang dikirim, kita siap untuk melakukan transfusi dua unit, dan ekstra plasbumin 25% selama dua hari kedepan.” Wajahnya pias.

Shalimar masih muda untuk jabatannya, belum lagi tiga puluh tahun dia sudah mengelola empat gedung pencakar langit di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan. Management yang professional membuat para pelaku bisnis berebut untuk menyewa satu dua lantai dari gedung yang dia kelola.

Dengan mata cokelat besar dan wajah tirus ia menyimpan kemampuan bernegosiasi yang mapan. Rambut cokelatnya dipotong sebahu, lebih demi kenyamanan dibanding gaya.

Dibalik tubuh jangkung, ramping, dengan kecenderungan kurus, Shalimar mampu bergerak cepat dan gesit.  Terdapat otot yang kuat di balik blazer yang membalut tubuhnya. Hidup produktif membuat rekening bank miliknya juga tebal. Sebuah kondisi yang menjadi magnet kuat bagi orang yang ingin memanfaatkannya. 

“Shal… Boleh?” tanya Steven sambil mengeluarkan kotak rokok berwarna merah. Satu kelopak matanya berkedip untuk meminta persetujuan Shalimar.

“Huhhhh…!” Shalimar menghela napas. Wajahnya berkerut-kerut menahan risau mendengar basa-basi pertanyaan yang tidak dibutuhkan saat berada di dekatnya. Seharusnya Steven sudah menyadari itu.

“Kau belum cukup mengenalku untuk bisa menilai apa yang kusukai atau tidak. Dan aku tidak pernah bilang kau boleh merokok disini!”

“Itu hal lain yang aku sukai tentangmu. Arogansi sangat khas dirimu,” Steven mengabaikan kerutan di dahi Shalimar. Ia mengeluarkan satu batang rokok dari kotak rokoknya.

Shalimar tidak yakin dirinya merasa lega dan baik-baik saja sampai ia melihat sebuah benda kecil bersinar terang disamping MacBook Air peraknya

“Punya siapa?” bisik Shalimar pelan. 

“Sejak kapan kamu memakai benda ini?” Shalimar menangkap tangan Steven yang hendak mengambil sebuah cincin bertahta kilatan berlian. 

Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir lelaki itu. Telinganya memanas. Air mukanya berubah merah. Ia segera memalingkan wajah dari perempuan yang sedang memegang kartu As. 

Dengan cepat Steven menuruni tempat tidur dan meraih celana jeans yang teronggok di lantai. Jemari kanannya cepat menyambar kunci mobil disamping meja nakas.  Jemari yang lain menyabet cincin yang menjadi sumber pertengkaran.

“Kamu tidak menjawab pertanyaanku!” teriak Shalimar garang. Dia paling tidak suka diacuhkan apalagi oleh laki-laki yang sudah menidurinya tiga bulan terakhir ini. 

“Brakkk!” Suara pintu kamar ditutup kencang. Dari balik jendela terlihat Steven meninggalkan halaman depan rumah mengemudikan  mobil sedan putih miliknya.

“Kamu akan segera kembali untuk ponsel berharga ini, huhhh!” Shalimar membuang wajahnya dari cermin.

“Laki-laki ceroboh!” Ia mengumpat lagi. Jemari lentiknya segera memainkan ponsel pintar  Steven. Beberapa informasi penting dapat dikumpulkan dari benda pintar itu. 

Dalam hitungan menit, semua akses perbankan Steven diblokir. Sampai saat ini uang masih memegang kendali yang cukup dasyat untuk menindas orang-orang macam Steven. Shalimar tidak membutuhkan waktu panjang untuk menjegal langkah laki-laki itu.

Tuan Charles, Ayah Shalimar seorang konglomerat baru. Jaringan bisnisnya berkembang pesat. Berawal dari produksi sandal jepit disebuah toko kontrakan yang kecil dan sumpek, sekarang gurita bisnisnya sudah melebar kemana-mana.

Dibalik kesuksesan sang ayah, ada seorang wanita yang bertahun-tahun hidup dalam tekanan. Nyonya Sarah seorang wanita pendiam yang tetap menjalani hidupnya dengan senyuman, bahkan ketika suaminya mengatur setiap gerak langkahnya.  Secara finansial perempuan yang paling dicintainya itu memang tergantung dengan suaminya. Shalimar tidak ingin itu terjadi padanya. Ia mengagumi ketenangan Sang Ibu dan keyakinannya yang mendalam, tetapi keyakinan itu bukanlah untuk Shalimar. Ibunya memang berhasil menjadi wanita dengan atribut-atribut yang paling dibanggakan Ayahnya-seorang ibu yang lembut, penurut, dan berbudaya. Shalimar tumbuh lebih liberal dan mandiri. Pengalaman dalam keluarga telah membentuknya menjadi  seperti sekarang. 

Beberapa minggu berlalu tanpa kehadiran Steven. Keuangan yang buruk akan membawanya kembali. Shalimar tidak memedulikannya. Laki-laki itu tidak pantas untuk dirindukan.

Shalimar mengisi waktunya dengan teman-teman sejawat. Meeting dari satu Gedung ke Gedung yang lain.  Makan siang bersama kolega bisnis, atau sekedar menikmati kopi di sebuah café favoritnya.

“Ada tawaran manis dari bos besar pemilik perusahaan farmasi. Sudah kuatur waktu pertemuan,” laporan pagi Sharon, sekretarisnya, terdengar cukup menjanjikan. 

Shalimar mengangkat sebelah alis. “Tawaran sewa gedung? Jelaskan lebih detil!”

Sharon terdengar semakin nyaring saat menjelaskan detil isi penawaran yang baru saja dia beritakan. Shalimar mengangguk tanda setuju.

Ia menduduki kursi bar dari kayu dan memperhatikan keadaan disekelilingnya. Jauh terasa lebih tenang dan nyaman dari bar yang biasa dia kunjungi. Tempat itu kurang lebih setengah penuh dan digaungi suara musik yang lembut. Pengunjung disini juga kelihatan sedikit lebih serius. Obrolan tentang bisnis, target perusahaan, ataupun masa depan. Shalimar merasa baru saja kabur dari pesta anak-anak muda yang hingar bingar dengan gaung suara lebih menyengat telinga. 

Sharon datang membawa minuman mereka. Dia duduk dan menyerahkan gelas kepada Shalimar, lalu mengangkat gelasnya sendiri kearah Shalimar.

“Semoga semua dilancarkan.”

Shalimar mengadukan gelasnya dengan gelas Sharon. Mereka bersulang untuk kelancaran bisnis hari itu.

‘Dorrr!” Suara tembakan menghentak. 

Tubuh Shalimar terjungkal ke belakang. Ambruk bersama rencana negosiasi bisnisnya hari itu. 

Ada lubang menganga di dada Shalimar. Darah membasahi lantai yang mengilap, menggenang, dan terus menetes. Percikan darah di dinding bar tampil bak lukisan misteri yang menceritakan sebuah kematian. 

“Bertahanlah, kumohon,” bisik Sharon frustasi. Matanya liar menoleh ke sekeliling ruangan mencari pelaku penembakan. Sayang, tidak satupun yang memberi petunjuk berarti. Penembak itu sungguh mahir melepaskan peluru dari arah yang tidak terduga.

Damn it!” teriak Sharon kesal.

Beberapa pegawai bar segera mengangkat tubuh Shalimar dan membawanya ke parkiran mobil. 

“Cepat ke rumah sakit!” perintah Sharon kepada Pak Antok yang terhentak melihat majikannya bersimbah darah. Tanpa bertanya lagi, mobil melesat bak terbang di angkasa.

Rumah sakit yang dituju sudah menunggu kedatangan mereka. Shalimar dibawa team medis ke ruang Instalasi Gawat Darurat untuk mendapatkan pertolongan maksimal, berharap kematian masih enggan menjemputnya. 

“Lakukan apa saja untuk menolongnya!” Dari ponsel terdengar jelas suara Tuan Charles memberi perintah kepada Sharon yang sedang duduk di depan ruang operasi. Tatapan matanya kosong. Dua penyidik dengan alat perekam suara dan gambar telah menunggunya untuk siap dimintai keterangan. 

Team kepolisian menyapu TKP dengan sigap. Mewawancarai beberapa orang dan memeriksa kamera pengawas di seluruh sudut bar. Terlihat menyeberangi ruangan, masing-masing mengeluarkan wadah ramping, menyemprot tangan mereka, depan belakang untuk menyegel minyak dan sidik jari. Mereka sedang berusaha keras untuk mengungkap siapa pelaku percobaan pembunuhan itu.

Dua bulan Shalimar tergolek di ruang Internal Care Unit. Setelah kondisi stabil  keluarga memutuskan untuk merawat Shalimar dengan home care. Tuan Charles menyiapkan sebuah ruangan khusus yang memungkinkan Shalimar dirawat professional setara dengan standar Internal Care Unit di rumah sakit.

“Aku masih belum paham dengan apa yang baru saja terjadi. Mengapa tidak ada yang mengawasinya? Bukankah dia tidak boleh dibiarkan sendiri?” Suara Tuan Charles meninggi. 

Mbok Sami dan Pak Antok hanya tertunduk lesu. Tidak ada yang harus mereka jelaskan untuk membuat pembelaan lagi. Rumah itu hanya dihuni oleh mereka dan team medis yang merawat.  Rekaman kamera pengawas memperlihatkan Shalimar mencabut sendiri kabel alat ventilator yang menempel dengan alat tracheos di leher. Semua penghuni rumah memiliki alibi yang kuat.

Shalimar terbangun dari kegelapan. Kelopak matanya menyipit. Dari sela-sela bilah tirai jendela nampak sinar fajar menyelinap malu-malu. Memancarkan garis-garis suram di ranjang. 

Badannya berguncang, gemetar, terpasung rasa sakit di sekujur tubuh. Dia memandang perih yang merayapi ranjang.  Selang ventilator sudah tersambung lagi dengan lehernya. Shalimar belum yakin apakah kali ini dia masih diberi waktu untuk bertahan. 

“Shal, bertahun-tahun yang lalu, Mama mengambilmu dari seorang wanita yang hendak membuang bayinya.” Pesan itu kembali terngiang di telinga Shalimar. Nyonya Sarah sedang membuka sebuah kotak misteri.

Semua belum usai, ada banyak pertanyaan yang harus di cari jawabannya. Siapa dibalik semua ini? Jika Shalimar adalah pewaris kerajaan bisnis Tuan Charles, lalu siapa yang menginginkan ketiadaannya.

Tuhan belum mengijinkan aku mati! 

Desis Shal dalam hati.

 

Read More

NYONYA PUAN



 

NYONYA PUAN

 

    “Apanya yang baik? Kalian akan terkejut kalau mendengar berita ini!” Suara Bu Rina tiba-tiba keceplosan diantara suara ibu-ibu yang sedang menawar daging dan sayuran.

    “Loh, emangnya Si Nyonya punya masalah dengan situ?” Seringai Bu Angga. Ibu-ibu lain yang sedang mengerubungi Mas Betok saling pandang.

    “Udahan, Bu Ibu… pagi-pagi jangan gosipin orang,” sergah Bu Sri dari balik sayur Kangkung yang tersusun rapi dalam gerobak kayu Mas Betok.

     “Coba aja, kalau Bu Sri yang ngalemin masalah saya. Mungkin Bu Sri udah nyerempet itu si Nyonya besar.” Bu Rina semakin kalap.

    “Halah… halah… ayo buruan ceritanya, Bu Rina! Kalau telat masak bisa gawat, keburu ditinggal suami kerja, nih!” Bu Angga setor pendapat pamungkas.

    Ibu-ibu kalau lagi ngumpul memang lebih sering gaduh daripada tenangnya. Sudah menjadi perangai para wanita di bumi ini. Mereka merasa nyaman di komunitas saat bisa ngobrol ngalor ngidul melepas penatnya otak dengan pekerjaan rumah yang monoton.

“Lama-lama Mas Betok juga bisa ketularan pelanggannya, banyak ngomong wae!” Bu Angga nambahin.

“Ya iyalah… kan dia pedagang keliling. Kalau diem aja mana ada yang noleh apalagi ngedeketin,” kelakar Bu Sri lagi sambil merapikan belanjaannya pagi ini. Ada daging ayam setengah kilo, sayur paku 2 ikat, bawang merah, bawang putih, terasi udang, dan tempe daun dua sisir.

Awal memulai berjualan keliling Mas Betok memanfaatkan sepeda motornya yang sudah tua. Setelah berjalan enam bulan ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan. Pelanggan yang agak malas bangun pagi seringkali terlewati atau malah motornya yang mengalami masalah di tengah jalan. Beban yang harus di tanggung menjadi semakin berat kalau harus mendorong motor sekaligus gerobak yang berisi barang dagangan. Tapi apapun sarana jualan sayurnya, Mas Betok tetap dihati ibu-ibu kompleks Griya Cinere Indah.

“Nyonya sombong itu sudah memecat suami saya dari perusahaan garment miliknya! Sekarang suami saya nganggur tidak ada pekerjaan!” Bu Rina membuka aib. Wajahnya memerah menahan amarah yang meluap. Tersirat kebencian yang sangat mendalam.

Tangan-tangan gesit yang sedang memilih barang belanjaan otomatis diam sesaat. Semua wajah berpaling kearah perempuan dengan tubuh tinggi besar berdaster biru muda. Sejenak Bu Rina menjadi pusat alam semesta.

Tidak ada yang berani memberi pertanyaan lanjutan. Masalah pekerjaan suami bukanlah masalah sepele. Hal sensitif menyangkut satu keluarga dalam sebuah rumah. Memberi komentar pun harus berhati-hati. 

Satu persatu ibu-ibu itu meninggalkan lokasi. Beberapa hanya memberikan semangat untuk Bu Rina. Semua tahu jika keluarga itu sangat bergantung kepada seorang sosok ayah yang dipanggil Budi dan Bu Rina hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang sehari-harinya sibuk urusan dapur, bersih-bersih rumah, dengan dua balita dalam masa pertumbuhan.

Tiga bulan sudah berlalu sejak Budi mendapatkan pekerjaan yang baru. Saat memasuki bulan kedua mengganggur, tiba-tiba saja sudah ada panggilan kerja dari perusahaan produksi pakaian jadi Hosana. Perusahaan ternama dengan jumlah tukang jahit sampai ratusan orang. 

“Aku ngga pernah ngajuin lamaran kerja kesana loh!” Saat itu Budi terheran-heran. Ada perusahaan dengan jenis bisnis senada menawarkan pekerjaan dimasa sulitnya. 

“Ini bukan kebetulan. Siapa yang mempromosikan aku kesana ya?” lanjutnya lagi.

“Mungkin mantan bosmu, Mas! Ngerasa bersalah kali dia. Makanya jangan asal pecat-pecat karyawan gitu!” Rina menepuk Pundak Budi sambil tersenyum sinis. Cukuplah satu bulan suaminya di rumah saja.

Budi seperti menikmati pekerjaan barunya.  Anteng dengan rutinitasnya di Hosana. Kalau bukan betah, pastinya masa kerja tidak sampai menyentuh tiga bulan.

“Nyahok itu si Nyonyah Puan! Biar dia tahu, kalau suamiku sudah dapat kerjaan baru! Dia pikir Cuma dia saja yang punya perusahaan gede. Orang kaya mah sukanya begitu, seenaknya wae sama orang kecil macam kita. Main pecat aja!” Diantara ibu-ibu yang mengerubungi Mas Betok, Rina makin sengit di pagi berikutnya. Rasa bangga akan pekerjaan baru suaminya seperti terbayar lunas untuk dendam di waktu yang lain.

“Udah Bu, syukurin ajah! Semoga lancar ya, kerjaan Mas Budi disono!” Bu Sri menyemangati disambut anggukan ibu-ibu lain. 

“Iya, Bu Rin, kita doain yah!” Bu Angga menimpali rekannya. Semua manggut-manggut setuju dengan ucapan Bu Angga.

“Maaaa…Mamaaa… ada tamu nungguin di rumah!” teriak Isha, putri kedua Rina. Semua menoleh kearah gadis kecil yang berlari tergopoh-gopoh mencari tubuh ibunya diantara para ibu yang sedang mengerubungi Mas Betok.

“Sini, Nak! Mamakmu lagi pilihin kamu lauk, nih!” Mas Betok berjongkok menyambut anak pelanggan loyalnya.

Isha tersenyum malu.

“Nyari Mama!” teriaknya lucu.

“Yo, wis! Totalin dulu belanjaanku!” pinta Bu Rina. Mas Betok bergerak cepat memasukkan belanjaan Rina sambil menghitung rupiahnya.

Dari kejauhan terlihat seorang wanita bersilang kaki sedang duduk di teras rumah dengan terusan warna kuning muda. Corak polkadot di bagian bawah dan hiasan renda menambah kesan bersahaja. Wajahnya cantik dengan kulit bersinar sawo matang. Dia menunggu dengan gelisah. Melihat bayangan Rina mendekatinya, perempuan itu langsung berdiri.

“Dengan Ibu Rina?” suaranya lembut.

“Iya, saya sendiri.” Wajah Rina bertanya-tanya. Dia berusaha mengingat mungkin sebelumnya pernah bertemu dengan perempuan ini di suatu tempat. File di kepala sudah dibolak-baliknya cepat, tapi tidak ada yang cocok dengan wajah perempuan ini. Dia tidak menemukan jawaban.

“Kalian bermain di dalam dulu, sayang!” pinta Rina kepada kedua putrinya. Anak-anak itu berlarian ke dalam rumah sambil berceloteh riang.

“Saya Susi, teman kerja Bapak Budi. Mohon maaf sudah mengganggu kesibukan Ibu.” Perempuan itu membuka perbincangan.

“Oohhh iya… iya…! Teman Mas Budi toh, ada apa ya, Mba?” Senyum Rina menyebar masih penuh dengan beribu tanya. 

“Kalau tidak mau saya laporkan, tolong peringatkan suami Ibu agar tidak terus menerus menggoda saya di tempat kerja!” Ucap perempuan manis yang sedang memberi kabar pahit itu. 

Deg!

Rina merasa kakinya bagai melayang di udara. Napasnya tersengal-sengal melepas kepergian perempuan muda itu. Rina berusaha mencapai kursi kayu di pojok teras untuk duduk sejenak. Menenangkan hati yang sedang bergemuruh hebat.

Lalu apa yang terjadi dengan Mas Budi di kantor sebelumnya? Apakah Nyonya Puan memecat Mas Budi demi menyelamatkan keluargaku? Mengapa aku tidak mencari kebenaran, malah mengumbar berita bohong. Bukannya memecah misteri Nyonya Puan, aku malah menyebar fitnah. Sungguh naifnya aku, menyemburkan lidah api ke jantungku sendiri. Bodohnya aku!

Rina tertunduk lesu memandang kedua putrinya yang sedang berantakin tempat tidur. Mereka melompat-lompat bermain dengan gembira. 

“ Maafkan saya, Nyonya Puan,” desisnya hampir tak terdengar. Hanya gemuruh tak menampakkan rupa.


Read More

NAPAS TITIPAN


Wajahnya kusut masai. Gelap mendominasi aura yang terpancar. Dahinya tertata apik oleh kerutan demi kerutan kulit yang makin menua. Beban yang berat hadir nyata dari wajah yang melipat.

Kadir adalah mahluk dari alam bawah yang sedang diberi kesempatan untuk mencicipi rasanya jadi manusia. Ternyata alam manusia itu kejam, sungguh kejam. Langkahnya terseok-seok menahan nyeri. Kawan-kawannya silih berganti memanfaatkan Kadir demi keuntungan sendiri. Pekerjaan yang digeluti malah melemparnya semakin jauh ke dasar jurang. Sebuah tempat yang sepi, pengap, lengang, dan gelap.

“Mengapa kau tidak kembali saja?” tanya Bambang, sahabatnya. Mereka sudah bersahabat sejak masih menjadi siluman. Bambang banyak memengaruhi hidup Kadir dimasa lalu. Dia juga yang membuat Kadir bisa mendapat kesempatan untuk mencoba peruntungan sebagai manusia. 

Ketika diberi pilihan, Bambang meminta dilahirkan disebuah keluarga petani sederhana. Sedangkan Kadir memilih peruntungan yang lebih baik. Perpisahan dengan Bambang membuatnya menempuh jalan sesat. 

Kadir memilih rahim istri seorang tuan tanah. Besar harapannya untuk memperbaiki hidup menjadi lebih bergengsi. Uang dan kekayaan tentu memiliki kemampuan menyihir penduduk di kampungnya. Keluhuran budi pakerti menjadi terlupakan. Seperti barang bekas yang sebaiknya diletakkan jauh-jauh dari akal sehat.

Lahir dalam lingkaran kehidupan keluarga kaya membuatnya lupa kepada tujuan kelahiran kali ini. Kehidupan di neraka nyata ini penuh dengan godaan harta, tahta, dan cinta. Semua hal yang kemudian menghalanginya pulang kepada sifat-sifat luhur manusia.

Istri tuan tanah itu bernama Retno. Perempuan dengan garis rahang yang tegas. Setiap permintaan yang keluar dari mulutnya adalah perintah. Kadir dijaganya bagai buronan. Hidupnya dipantau dengan pengawasan melekat. Bahkan ketika Kadir memilih Nunung sebagai istri, sang Ibu enggan menyadari posisinya ada dimana.

Retno mampu membelokkan rencana matang yang siap dieksekusi beberapa jam lagi. Kehadiran Nunung menjadi bulan-bulanan Retno. Jangankan membela cintanya kepada Nunung, menolong pikiran-pikirannya sendiri saja Kadir tidak mampu. 

Nunung patah arang. Rumah tangganya bersama Kadir semakin tidak nyaman. Permasalahan mereka bukan hanya menjadi urusan sepasang suami istri saja. Dilain pihak, Kadir juga tertekan karena terkesan harus memilih satu diantara dua. Kadir terbunuh pelan-pelan oleh sikapnya yang mengambang ke kanan ke kiri bagai air di daun talas.

Seiring berjalannya waktu, Nunung menjadi keras kepala dan cenderung untuk berontak. Orang-orang yang tidak tahu menahu tentang akar masalah justru menyudutkan posisi Nunung. Bukannya dibantu keluar dari kubangan, Retno malah menekan kepala Nunung terjerembab semakin jauh ke dasar lumpur. Sebagai Ibu, Retno merasa berhak untuk menguasai hidup putranya. Jika hidup sang anak ada dalam kendali Retno, secara otomatis Retno merasa kehidupan menantunya juga ada dalam kuasanya.

“Yang aku sedihkan hanyalah ketidakmampuanku menolongmu. Aku hanya bisa diam dan bengong saja. Hasil perbuatanmu menjadi urusanmu sendiri. Kalaupun dulu kau diberi kesempatan yang sama, itu bukan karena aku. Kamu sendiri yang berhasil meniru jalan pilihanku.” Bambang tergopoh-gopoh membantu Kadir yang melangkah dengan terhuyung. Tumpukan kertas-kertas putih yang dikempitnya pada ketiak jatuh berserakan di lantai.

“Apa ini?” Wajah Bambang bertanya.

“Wasiat jika aku mati.” Kadir menyandarkan keningnya di tepi daun pintu dialasi dengan satu tangan. Kadir sedang mengatur irama jantung yang hilang timbul.

“Aku putus asa,” lanjutnya lesu.

"Aku mencintai Nunung!" Suara Kadir makin lirih.

"Sebelum menolong istrimu, lebih baik kau tolong dirimu sendiri terlebih dahulu, Dir!" Bambang mengguncang lengan lunglai disampingnya.

“Coba kau menemui seorang dokter yang praktek di ujung waktu. Mungkin dia dapat membantumu keluar dari masalah.” Bambang memberi saran sambil membantu Kadir menyusun kembali wasiat-wasiat yang tercecer dan kotor oleh cipratan karma yang kelabu.

Bambang kesal bukan pada penderitaan yang sedang dialami Kadir.  Melainkan karena ketidakmampuannya untuk mengatasi hal-hal yang bebas merajah hidupnya.  

Kadir tidak mau mendesak dirinya untuk segera membuat pilihan. Bukannya menentukan keputusan dari pemikiran akal sehatnya, ia malah sibuk mencerna pendapat orang lain. Mengikuti perintah Retno atau pun menjalankan rajah pesan dari kawan-kawan yang hanya mencari keuntungan pribadi. Kadir mulai mengalami kesulitan untuk meletakkan pikiran-pikirannya diatas pemikiran orang lain. 

Kadir memandang langit-langit. Sorot matanya sangat tertekan seperti seorang tahanan lapas yang menunggu sidang. Pertahanan akal sehatnya berserakan dilantai. Pandangan suramnya digelitik suara dokter yang membangunkan dari lamunan.

“Jadi selama ini siklus napas sudah tidak teratur ya?”  dokter itu mengulang informasi awal kedatangan. Kadir mengangguk pelan.  

“Sebelum ngobrol lebih lanjut, kita lihat dulu rekamannya, ya!“ Dokter itu tersenyum sambil mengoleskan sebuah krem dingin pada dahinya.

“Tahan, ya!“ Dokter itu mulai menyentuhkan sebuah alat pada area diatas kedua alisnya. Alat itu lebih mirip dengan alat penghisap debu mini. 

Aroma  wangi dokter mulai membangunkan bulu-bulu halus tubuhnya. Kadir memejamkan mata, sejenak berpikir dan menimbang-nimbang keputusannya. Apakah akan melanjutkan pemeriksaan ini atau tidak.

Kadir memandang layar di atas tempatnya berbaring, Layar itu menampilkan gambar dari mesin yang sedang memindai perbuatan sebelumnya..

        “Apakah saya masih mungkin untuk bahagia, Dok?” Dahi Kadir berkerut-kerut menampakkan keraguan.

“Sebelumnya sudah pernah melakukan pemeriksaan lengkap, ya?” Dokter itu menghentikan gerakan tangannya. 

“Belum, Dok!“ jawab Kadir datar.

“Kalau begitu, tahu darimana jika ada perbuatan sebelumnya yang bermasalah?“ Dokter itu kembali menahan senyumnya. Sedikit demi sedikit dokter mulai memahami Kadir sebagai manusia yang tidak punya pendirian. Menyadari jika Kadir telah melupakan jika hidup di dunia hanya bertamu. Memberikan tanggung jawab membahagiakan diri sendiri, justru kepada orang lain.

“Buktinya sampai sekarang saya tidak kunjung bahagia.“ Kadir membela pendapatnya. Merasa pikirannya paling benar. 

“Banyak sekali faktor penyebab mengapa seseorang tidak bahagia. Dan itu bukan melulu masalah fungsi organ. Orang awam sering memberikan vonis kepada tubuhnya sendiri. Padahal itu hanya ungkapan putus asa seolah-olah sudah tidak ada jalan lain.” Perempuan didepannya tersenyum.

"Dari pengamatan yang tampak, hidup Bapak terlihat baik-baik saja. Maaf, jika Bapak ingin segera melepaskan beban, sebaiknya Bapak datang dengan hati yang lebih tenang dan ikhlas.. Nanti saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.“ Dokter itu mengusap area pemeriksaan tadi dengan tissue kering. 

Kadir mengangguk tanda mengerti. Menuruni ranjang sambil menarik napas dalam-dalam. Dengan sisa kemampuannya sebagai lelaki, Kadir merayu napas yang sedari tadi menemani dengan terpaksa. Melangkah keluar dan menutup pintu ruangan dengan perlahan. Berharap jika masih ada kemungkinan untuk memperbaiki tingkah lakunya, sebelum semuanya terlambat. 

Kadir menyerahkan secarik kertas kepada petugas yang mengatur jadwal periksa pasien berikutnya, kemudian memilih salah satu kursi yang masih kosong untuk menunggu panggilan pembayaran tagihan konsultasinya.

Ahhh, Bambang benar, pikirnya.

Read More

Melepas Bara Panas

 

Menggenggam bara panas hanya akan membakar diri sendiri. 

Saya mulai menyadari hal ini setelah beberapa kali pernah hanyut dalam amarah yang meluap. Kekecewaan yang mendalam akan sikap orang lain terhadap saya. Merasa diperlakukan tidak adil dan dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. 

Tubuh menjadi oleng seperti tidak ada pijakan. Denyut nadi berlari cepat  tak terkendali. Usaha alamiah yang dilakukan hanya minum air putih hangat dan tetap sadar untuk menarik napas berulang-ulang dengan lebih rileks dan santai.  

 

Korban pertama dari amarah adalah diri kita sendiri.


Tubuh hanya berusaha memberikan pesan, jika saat itu kita sudah berlebihan menyikapi sesuatu. Selanjutnya logika mulai mengambil peran. Selama kita tidak menanggapinya, tubuh akan bosan untuk mengingatkan. Sikap yang baru berubah menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan terbitlah karakter. Arah selanjutnya akan mudah ditebak. Karakter akan membawa kita kepada takdir (kenyataan hidup yang kita terima).


Setiap detik adalah peluang untuk mengubah arah hidup kita. Dari sedih menjadi gembira, dari nyaman menjadi semakin bahagia. Tidak masalah apa yang sempat kita pikirkan atau rasakan sebelumnya. Segera kembali kepada frekuensi positif, kepada perasaan baik. 


Satu-satunya penolong paling dekat memang diri kita sendiri. Mengandalkan orang lain untuk membantu hanya akan mengulur waktu. Bantuan orang lain pun belum tentu datang tepat waktu dan sesuai dengan porsi yang kita butuhkan. Alhasil yang ada hanyalah kembali terpuruk dalam rasa penyesalan dan kecewa.


Be your self !


Tolong diri sendiri terlebih dahulu. Kemungkinan untuk terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan bisa datang kapan saja. Mulai dari hal yang ringan hingga berat (menurut versi masing-masing individu).

Mau berangkat kerja tiba-tiba turun hujan. Sedang buru-buru ke sekolah ternyata jalan yang dilewati mendadak macet. Bahan masakan sudah siap diolah tiba-tiba kompor mati karena gas habis. Karir sedang menanjak mendadak terjadi pandemi Covid-19. Begitu seterusnya, hal-hal yang diluar prediksi terjadi dengan cepat dan tidak bisa dihindari.

 

Ya, setiap saat kita dihadapkan kepada pilihan apakah akan memberikan cinta dan memanen kekuatannya atau tidak. Apakah kita akan menebarkan kasih atau memilih untuk menghentikannya. Pilihan itu terjadi secara terus menerus dari waktu ke waktu. Keputusannya  kembali kepada diri kita masing-masing.


Mengapa harus segera pindah frekuensi?

Karena amarah dan dendam itu berbahaya bagi tubuh dan pikiran kita. Tidak ada orang sempurna di dunia ini. Semua pernah mengalami suka dan duka. Kekurangan dan kelebihan. Karena itulah kita berbagi. Tujuannya agar kita hidup dalam keseimbangan. 


Apa yang diperlihatkan seseorang di media sosialnya bukanlah jaminan jika dia baik-baik saja. Bisa jadi semangat yang ditularkan adalah bagian dari usahanya untuk mengangkat dirinya sendiri kepada perasaan baik.  Berusaha meyakinkan diri jika semuanya pasti akan berlalu, jika dia mampu melewati setiap ujian hidupnya. 


So what ? gitu loh...


Jangan terpaku dan berpangku tangan. Bergeraklah ke tempat yang lebih baik. Berkumpul dengan orang-orang positif yang punya visi ke depan. Teman-teman yang semangat mewujudkan ide dan gagasan baik dalam hidupnya. Secara perlahan kita akan diwarnai oleh sikap-sikap baik mereka. 


Jangan menunggu orang lain untuk melakukannya. Doronglah dirimu sendiri terlebih dahulu. 

 

Orang bijak mengatakan, tidak ada dalih dalam kekuatan cinta.  Kita akan mendapatkan kembali apa yang kita berikan. Artinya, semua hal yang terjadi berasal dari dalam diri kita sendiri. 


Mari saling mengingatkan, saling mengisi satu sama lain. Dengan niat dan perasaan yang baik. 


Yang terpenting bukanlah apa yang sudah terjadi, melainkan bagaimana kita bereaksi terhadapnya


Try to live like a river. Forget your past and focus on your future.


Love you much, Universe 

nwsrimulyani

 

Read More

Malaikat Bersayap

Malaikat Bersayap

Biarkan aku mengendap sebagai luka lama yang berangsur-angsur sembuh, yang sabar menemanimu menangis demi menghangatkan sepi.
Biarkan jiwaku menjaga tubuhmu yang sedang berkelana.


(Lukisan yang tergantung di Lantai 25 Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospital Semanggi Jakarta)
 

"Jangaaan!" Teriakan Harum tertahan sepasang tangan dengan jari-jari kuat menekan bibirnya. Tangan kekar dan panas seorang lelaki. Entah datang dari arah mana. Dalam kegelapan tubuh yang kuat itu menghimpitnya ke pintu mobil. Lelaki itu semakin beringas tak terkendali. Dengan cepat tangan-tangan liar itu berusaha melepaskan jas putih yang menutup tubuh bagian atas. Otot paha yang kencang menahan tubuhnya hingga tak bisa bergerak. Harum berjuang mati-matian melepaskan diri dari cengkeraman lelaki asing itu. 

"Diammm!" Lelaki itu berteriak. Dengusan napasnya yang berbau alkohol mulai menjarah. Bibir panas itu mulai bergerak cepat mencium leher Harum yang jenjang. Dengan keberanian yang masih tersisa Harum menggigit kuping lelaki itu hingga mengerang kesakitan. Aroma darah segar mulai tercium.  Lelaki asing itu semakin berang. Dia memegang kuping yang robek oleh taring gigi Harum. Dengan kasar dijambaknya rambut Harum hingga tubuh Harum terjerembab ke belakang. Gadis berkulit kuning langsat itu mengerang di atas ubin kasar. Rasa kesal membuat lelaki itu makin buas bergerak di atas tubuh perempuan muda yang tampak sangat ketakutan.

"Buggg...!" Suara benda tumpul memukul lelaki itu tepat dibelakang kepalanya. Tiba-tiba lelaki itu diam tak bergerak. Seluruh kekuatan yang menindih tubuh harum lenyap seketika. Harum memanfaatkan situasi yang datang. Dia segera menggeliat bangun dan memperbaiki pakaiannya. Untunglah hari ini dia mengenakan setelan celana jeans dan kemeja berlapis. Setidaknya lelaki itu membutuhkan waktu panjang untuk memporak-porandakan kehormatannya. Geraknya cepat masuk ke dalam mobil dan segera menguncinya dari dalam. Yang ada di dalam pikiran Harum hanya satu. Segera pergi dari tepian jalan tempatnya memarkir mobil. Sejak pagi parkir rumah sakit sangat penuh sesak sehingga dia memilih parkir agak jauh.

"Tunggu!" Teriak lelaki yang telah menolongnya. 

Harum menyempatkan diri untuk menoleh ke arah datangnya suara. Seorang lelaki yang paling dibencinya sampai hari ini sedang berdiri tepat di depan mobilnya. Tidak mungkin menabrak lelaki yang sudah membantunya tadi. Sesungguhnya ini pertemuan kedua mereka setelah perpisahan beberapa tahun yang lalu. 

"Tolong antarkan aku pulang!" pintanya.

"Masuklah!" jawab Harum dengan bibir bergetar. Kakinya bagai mengambang di atas pedal gas mobilnya. Mata yang merah menahan tangis itu memandang awas kearah sekeliling jalanan yang sepi. Dia menyimpan banyak kekhawatiran. 


Bagaimana kalau laki-laki tadi adalah salah seorang anggota geng motor? Bagaimana kalau laki-laki asing itu bangun lagi dan mengejarku? Bagaimana kalau ada yang melihat peristiwa ini? pikir Harum dalam kalut.  


"Ayo, kita jalan saja!" ajak Awan menyadarkan Harum dari kalutnya.

Tanpa menjawab Harum menurut. Mobil berwarna putih mutiara itu segera melaju meninggalkan seorang lelaki asing yang terbujur tak berdaya. Tidak seorang pun dari mereka berdua ingin tahu kondisi orang itu. Harum akan menunggu panggilan polisi jika memang ada yang melaporkan peristiwa malam ini. Yang mendesak dilakukan sekarang adalah segera meninggalkan lokasi. 

Sambil tetap fokus dengan jalanan yang dilalui, Harum melirik tubuh lelaki kekar yang duduk disampingnya. Lelaki yang dadanya pernah menjadi sandaran kepala disaat lelah. Lelaki yang pundaknya pernah digelayuti dengan manja. Lelaki yang selalu menemani hari-hari Harum dimasa lalu.

 “Mengapa dulu kau tidak mau menungguku?“ gumam Awan datar.  Entah apa yang mendorongnya mengeluarkan kata-kata itu. Harum lebih memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan Awan. Hatinya masih kacau. Dia berusaha menata detak jantungnya yang hampir amblas. Hening, dua anak manusia itu hanya terdiam. Masing-masing kepala sibuk dengan pikirannya.

“Aku merasa ada sesuatu yang engkau sembunyikan. Apakah dokter muda itu sungguh mencintaimu?“ celetuk Awan tiba-tiba  mengejutkan Harum.

“Kamu memang sudah menolongku tadi. Tapi bukan berarti kamu boleh banyak bicara." Harum mengerutkan keningnya.

"Jangan menggangguku!“ Harum menambahkan.

“Aku tidak akan melakukannya.“ Awan membela diri.

“Ya, aku percaya. Kalau tidak, mana mungkin aku memberimu tumpangan." Harum mengejar mata Awan dengan galak. Harum belum mampu menyembunyikan rasa penasarannya. Angin mana yang membawa Awan datang menolong disaat yang tepat.

“Aku mencintaimu, Har!“ suara Awan cepat

"Diamlah! Please...." Harum melambatkan laju mobil.

“Aku sudah bertunangan. Diamlah!" lanjut Harum. 


Apa hebatnya mendengar ulangan kata cinta dari seorang mantan kekasih yang sudah menghianatiku, pikir Harum.


“Cinta tidak mengenal musim. Ijinkan aku menjelaskan semuanya, Har!” Wajah Awan sungguh memelas.

“Omong kosong! Aku sudah rela melepaskanmu,“ suara Harum semakin tinggi. 

"Sudahlah, diam dan jangan bicara lagi!" Harum memperbaiki posisi duduknya.


Aku adalah bagian yang selalu engkau lewatkan. Kehilanganmu membuat jiwaku penasaran. Andai Kau mengerti jika yang paling menyesakkan dan membuatku berdarah-darah adalah mengenangmu, keluh Awan.


Terhenyak, ingin rasanya Awan segera memeluk erat tubuh perempuan di sampingnya. Melumat bibir ranumnya hingga aliran listrik kembali menyengat sampai ujung kepala. Sampai kapanpun dia akan tetap mencintai perempuan ini.

Isi kepalanya menerawang lagi. Mengenang masa-masa terbaik dalam kehidupan percintaan mereka. Ketika hubungan itu hadir bagai cahaya pagi yang menghangatkan hari.


Awan segera menarik kepalanya ke belakang, lalu bersandar di jok kursi tempatnya duduk. Tidak mungkin bermimpi melakukan itu lagi. Keadaannya sudah tidak sama. Ragu-ragu diliriknya perempuan yang dulu pernah dia pertahankan dengan segenap kemampuan.  “Kapan bisa bertemu lagi?“ Suara Awan berusaha menggapai telinga Harum. Menoleh saja tidak dilakukannya, apalagi menjawab pertanyaan Awan. Pandangan Harum lurus ke depan. Awan mengerti jika tidak mungkin memaksa lagi. 


Dengan tangan kanannya, Awan memberi isyarat untuk berhenti. Mobil sedan mungil itu menepi, tepat di depan Panorama Town House Lebak Bulus Jakarta Selatan. Perlahan dia turun dan berlalu menjauh. Dari balik punggungnya hanya terdengar ucapan terima kasih. Tubuh Awan tenggelam di dalam gelap. Harum menyempatkan diri untuk melirik deretan rumah yang tertata rapi itu. Mengingat cerita masa lalu membuat kerut-kerut amarah yang tadi melukis bibirnya mendadak menghilang. Ada sesuatu yang terasa aneh. Aroma busuk berhembus semakin lama semakin kuat menusuk hidungnya. Harum segera menginjak pedal kopling dengan penuh dan memindahkan tuas transmisi dari posisi netral ke posisi gigi satu. Mobil mulai melaju setelah pedal gas di bawah kaki kanannya diberi tekanan. Harum mencoba mengintip ke belakang dengan bantuan kaca spion yang menempel pada plafon mobil di atas kepalanya. Dia sangat khawatir ada sesuatu yang aneh disana. Harum mengusap dadanya, semua baik-baik saja. Hampir saja dia kembali memanggil nama Awan. 


Harum menyusuri jalan TB Simatupang yang tidak pernah mati. Dari pagi hingga pagi lagi manusia seakan tidak pernah berhenti bergerak. Harum tersenyum kaku, menelan ludahnya. Sungguh ia tidak pernah menyangka, setelah beberapa tahun berpisah dengan Awan, mereka dipertemukan kembali di salah satu jalanan di pinggir kota Jakarta. Lelaki yang pernah singgah itu belum berubah. Harum berusaha menghapus ingatan. Harum berupaya menyembunyikan perasaannya jika malam ini rindu mereka berlarian saling mendahului.

"Dia sudah meniduriku," aku Sarah pelan.

Harum menoleh ke samping. Ditemukannya wajah Sarah yang menunduk. Tak percaya dengan kata-kata yang baru saja mengusik telinganya, Harum mengguncang pundak Sarah.

"Kamu bicara apa tadi?" selidik Harum.

"Awan sudah meniduriku," ulang Sarah pelan.

"Kamunya yang mau kan?" Harum balik bertanya.

Sarah menundukkan kepalanya lebih dalam. Harum hanya menatap jengah perempuan muda disampingnya. Kalau bukan karena rasa kasihan yang datang menyelinap, sudah sejak tadi Harum menampar pipi putih mulus Sarah.

"Dimana kalian melakukannya? Di kamar kos ini? Siaaal!" teriak Harum sambil berdiri. Lututnya gemetar menyangga tubuh yang mulai oleng.

"Jangan dijawab, aku tak bersungguh-sungguh ingin tahu bagaimana penghianatan itu kalian lakukan! Keluar dari kamarku!" teriakan berikutnya makin memekakkan telinga. Malam yang lengang menjadi saksi pertengkaran hebat di kamar kos mereka di salah satu sudut selatan pulau Bali.  

Sarah beringsut mengambil tas besar yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Apalagi yang mungkin dilakukan Harum selain mengusirnya. Tarikan napas yang semakin memburu membuat Sarah bergerak lebih cepat. Itu menjadi malam terakhir Harum dan Sarah ngobrol berdua di kamar kos mereka. Sakit hati Harum sudah sampai diujung. Dipandangnya hasil test pack kehamilan yang tergeletak disamping tempat tidur mereka. Ada dua garis merah muncul dengan jelas. 

Mengingat cerita itu membuat Harum menarik napas panjang. Semakin ke depan, nyatanya hanya waktu yang menyembuhkan luka hati. Masa lalu memang susah untuk menghilang. Dia selalu bimbang untuk menemukan jalan pulang. Itulah alasan kuatnya merantau ke Jakarta. Sebuah kota asing yang kini menjadi rumah baginya. Bersyukur pekerjaannya sebagai seorang dokter berhasil membuatnya sibuk dan perlahan-lahan hanyut dalam rutinitas baru. Di kota ini juga dia bertemu lelaki lain yang berhasil membuatnya lupa, jika sebelumnya pernah sangat hancur.


Hari ini adalah jadwal Harum untuk jaga di IGD. Dengan semangat dia mengosongkan segelas susu hangat dan melumat tuntas roti lapis berselai nanas kesukaannya. Setelah mengucap syukur atas berkah Tuhan, Harum bergegas mengambil jas putih bersih yang tergantung di lemari pakaian. Langkahnya pasti menyambut hari. Harum adalah seorang dokter di rumah sakit Mitra Sehat. Ada banyak kondisi yang membuatnya menyelesaikan pendidikan kedokterannya dalam waktu singkat. Kemampuan akademis yang sempurna dan rasa sakit hati membuatnya bertekad untuk cepat.

 "Code Blue!!!" Teriak seorang perawat IGD. Teriakan yang paling dikhawatirkan seluruh nakes disana. Sebuah sinyal kegawatdaruratan. Sontak Harum melompat ke ruangan pasien yang dimaksud. Baru saja operan jaga dengan kolega sebelumnya. Suasana sibuk IGD rumah sakit Mitra Sehat sudah menyapanya. Perempuan malang di atas brankar itu berusaha bertahan dalam keadaan tersengal-sengal karena sesak napas. Disampingnya berdiri seorang laki-laki berpakaian lusuh.

"Saya suaminya, Dok!" ujar laki-laki itu dengan wajah pucat.

"Ah, iya ya...!" Jawab Harum singkat masih dengan perasaan bingung dengan pemandangan yang ada didepannya. Entah apa yang menjadi alasan alam semesta mempertemukannya dengan perempuan ini lagi. Harum mengusir rasa penasarannya dan bergerak cepat untuk memberi pertolongan.

"Ambil set resusitasi di depan!" seru Harum kepada seorang siswa perawat yang mematung dengan wajah pucat. Mungkin ini pengalaman pertamanya menyaksikan pasien yang sedang bertaruh nyawa. "Pasang monitor, panggil residen anastesi untuk evaluasi dan back up ICU...!" Intruksi Harum memenuhi sebagian ruang IGD

"Mohon menunggu diluar, Pak. Segera daftarkan istri Bapak di front office dan kami akan berusaha menolong istri Bapak." Harum memberi pengertian kepada suami perempuan itu.

"Tolong aku...." Sayup-sayup terdengar suara lemah pasien itu. Sebenarnya tanpa meminta tolongpun, Harum tidak pernah ragu untuk memberi pertolongan kepada setiap pasien yang datang. Hanya saja ketenangan Harum dalam bertugas hari ini cukup terganggu. Dia berusaha bersikap profesional dan menerima kenyataan. Perempuan ini adalah salah satu pasiennya di IGD hari ini, yang memiliki hak sama dengan pasien lainnya. 

"Siapkan set intubasi...!" seru Harum sambil memasang sarung tangan yang baru. Harum segera melakukan intubasi dan memompa napas pasien. Junior yang lain melakukan kompresi dada karena nadi semakin melemah. 

"Harum, ma...maafkan aku. Awan tidak ber...salah. Di...dia menyusulmu ke kota ini. Se...tahun yang lalu A...Awan sakit. Dia dikuburkan di TPU Ta...Tanah Me...Merah!" Sarah berjuang sekuat tenaga mengeja kalimat yang sudah lama ingin dia sampaikan. 

Berampul-ampul adrenalin sudah diinjeksikan. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dua puluh menit melakukan resusitasi jantung paru, layar monitor berseru nyaring menampilkan aktivitas datar jantung pasien. Kedua pupil Sarah berdilatasi maksimal.

Harum merasa seluruh plafon ruang IGD menghimpitnya dengan kuat. Sakit sekali, terlampau sakit untuk dia lalui sendiri.

"Maafkan aku, Ibu. Aku gagal lagi menjaga titipanmu. Bahkan sampai hari inipun aku masih tidak mampu menolong saudara sambungku sendiri," gumam Harum lirih. 


Dilepasnya jas putih yang membalut tubuhnya. Harum merasa sesak. Tatapan kosong jatuh kepada tubuh Sarah yang pucat pasi. Satu-satunya saudara perempuan yang dititip ibu sambungnya, ketika almarhum ayahnya menikah lagi. Lalu, siapa lelaki yang hadir menolongnya selama ini? Harum menutup wajahnya dengan kedua tangan.










 


Read More

Percintaan Tanpa Tubuh (Sitha & Rahwana)

Sudah tiga hari sejak pertama kali Sitha lebih memilih untuk bicara tanpa mata yang terbuka, bibir yang diputuskan mengatup, dan telinga yang entah masih mampu mendengar celoteh dunia atau tidak. Satu-satunya yang mampu dia tangkap hanya suara lembut lelaki disampingnya.

"Aku tahu engkau masih ada disana, karena itu mari tetap bicara," bisik Rahwana.


Di bawah rembulan, tubuh Sitha bersinar perak. Dagingnya padat membentuk lekuk-lekuk tubuh seorang dewi. Semesta senyap seketika. Alam pun takjub menikmati kecantikan Sitha yang sedang tergolek lemah di atas bale-bale perahu yang terbuat dari kayu cendana. Angin yang sempat merayapi tubuh Sitha segera merendahkan ombaknya, tidak ada yang kuasa menyaksikan keindahan perempuan itu. Mahluk laut lebih memilih untuk berlindung dalam persembunyian. Tidak ada yang berani memandang kekasih hati seorang raksasa itu.

Rahwana menatap tubuh didepannya dengan seksama. Menyaksikan keindahan yang dipamerkan perempuan itu tidak lantas membuatnya berlaku raksasa. Tidak terlintas di kepalanya untuk mengambil kesempatan emas itu. Mata ketiganya hanya tertuju kepada jantung Sang Dewi. Dia melihat ada gerakan lembut disana. Seiring gerakan perahu yang digoyang hasrat untuk bercumbu.

Laki-laki bertubuh kekar itu mendengus. Asap putih mengepul dari kedua lubang hidung yang berbulu lebat. Bola matanya membesar menahan rindu.  Gerakan tertahan dari sebentuk cinta kepada seorang perempuan yang baru saja diculiknya.

"Tidak ada yang menaruh rasa melebihi aku," bisik Rahwana lembut.

"Dan engkau menyukainya dengan diam-diam," lanjutnya pelan.

Lengang, sepi, hanya senyap yang menemani pertemuan itu. Sebuah perjumpaan yang sudah direncanakan semesta. Harus ada yang menolong Rahwana untuk bicara kepada kekasihnya. Hanya dengan melemahkan kesadaran Sang Dewi percakapan itu bisa terjadi. Dalam keadaan biasa, mereka tidak mempunyai kemampuan untuk bertutur tentang hati masing-masing. 

Rama, sang penguasa akan melindungi Sitha dengan pasukan berlapis. Sedangkan Rahwana ditawan amarah jika harus bersitatap dengan lelaki yang telah merebut kekasih hatinya dimasa lalu.

"Mengapa selalu ada yang merasa lebih tahu siapa yang aku inginkan? Merasa lebih mampu memberikan semua yang aku butuhkan. Belum sekalipun mereka bertanya langsung tentang hal itu kepadaku. Semua merasa benar dengan pikiran masing-masing. Merasa paling tahu yang terbaik untuk hidupku, tanpa mau mendengar apa yang sesungguhnya aku inginkan." Bibir Sitha tetap terkatup. Rahwana tersenyum mendengar keluh hati kekasihnya. Ingin sekali segera membawa Sitha terbang kesebuah tempat yang tidak terjamah. Hanya ada mereka berdua disana. 

"Bukankah aku telah bersemayan dihatimu? Jika perjumpaan kasat mata hanya menimbulkan peperangan. Mari bercakap dalam tidurmu." Bisikan lembut itu diterbangkan angin ke dalam lubang telinga Sitha. Seorang perempuan yang sedang kasmaran tetapi memilih untuk menidurkan semua anggota tubuhnya. Toh, dalam pikiran, memadu hasrat terasa lebih menggairahkan.

Perahu kehidupan itu mulai bergoyang. Terombang ambing ditengah lautan luas. Mereka pun bercinta dalam hening. Ruang yang tak tersentuh logika. Tanpa gerakan ataupun suara yang tertangkap telinga. Sebuah pergumulan di atas awan, yang hanya disaksikan oleh Sang Hyang Candra. Desahan demi desahan yang semakin terdengar parau. Ada jiwa yang sedang kebingungan mencari tubuhnya kembali. Setelah perjumpaan yang lama mereka nantikan.


(Sebuah cerita fiksi yang saya persembahkan untuk seorang wanita hebat yang sedang berjuang dalam tidurnya. Jalan cerita yang hanya ada dalam imajinasi penulis dan bukan kejadian sebenarnya. )








Read More

Luka Hati

Ada hati yang pernah kau tinggalkan disini. 
Ketika tergoda langit luas menjadi alasan untuk lupa mengemas.
Disaat kau kembali, aku terlanjur saling dekap dengan luka.


"Aku tidak betah dengan anak itu, Shan. Baunya luar biasa. Aku mual kalau dekat dengannya. Apa kau tidak menyuruhnya sikat gigi dan mandi yang bersih?" kata Erwin dengan ketus. Tanpa menoleh dia bergegas pergi meninggalkan Shanti, istrinya.

Shanti menarik napas panjang. Belum juga sehari penuh Wulan ada di rumah mereka. Tidak cukup sekali Erwin menyenggolnya dengan kata-kata yang menyudutkan keberadaan Wulan di rumah itu. 

Shanti menghampiri Wulan yang terpekur sendirian di pojok rumah. Anak perempuan berusia lima tahun itu nampak kusut masai. Wajahnya penuh ketakutan. Rambutnya yang ikal hampir gimbal karena jarang disisir, bajunya kucel., dan bau badannya menebar kemana-mana. Sambil menutup setengah hidung mungilnya, dia menuntun Wulan ke kamar mandi. Ahhh... suamiku tidak salah. Wulan memang sangat bau. 

Shanti merawat Wulan dengan segulung perjuangan yang tidak berujung. Sepuluh tahun tidak berhasil hamil membuatnya jengah. Dia butuh seseorang yang dapat dijadikan tumpuan. Luapan cinta yang minta segera dituang kepada seseorang. Wulan menjadi tempat yang baik untuk meneteskan kasih sayang yang terlanjur lama gelisah.

Sudah tiga tahun sejak Wulan menjadi anak angkatnya. Lambat laun Shanti pun terbiasa dengan kesibukan baru itu. Ketika waktu membesarkan Wulan sedang meminta banyak perhatian, karir Erwin semakin melambung. Tuntutan pekerjaan membuat Erwin sering pergi keluar kota dan meninggalkan mereka berdua. 

Pagi itu Shanti mendapati Wulan menangis di samping meja makan. Terduduk lemas sambil memegang pantat mangkuk pencampur adonan pancake. Dia menyentuh pundak gadis kecil itu. Dengan tangan yang lain Shanti mengusap air mata yang menetes ke lantai.

"Tidak apa-apa, sayang! Kita akan memulainya lagi. Mungkin adonan berikutnya akan menjadi pancake terbaik yang pernah kita buat selama ini." Shanti menenangkan hati Wulan yang dibakar kecewa.
Dipeluknya tubuh Shanti dengan kuat. Mendekap Shanti membuat Wulan menikmati kasih seorang ibu. Disana ada kerinduan yang sangat besar. Mengamati Shanti selama tiga tahun terakhir membuat Wulan memahami alasan mengapa dia mulai mencintainya.

"Ayo, Wulan. Kita lihat papa dulu yuk, nanti keburu telat berangkat ke kantor!" ajak Shanti sambil menarik tangan Wulan menuju garase mobil. Wulan mengangguk tanda setuju. Wajahnya ceria mengikuti langkah Shanti dari belakang.

"Ma, aku sudah tidak bisa melayani perempuan itu lagi," kata Erwin sambil menutup pintu mobil yang akan membawanya ke kantor.
"Perempuan? Mama tidak tahu kalau papa sudah melayani perempuan lain."
Tangannya menangkap kaca jendela yang belum sepenuhnya tertutup. Erwin mendongakkan kepala lewat jendela. 
"Dia mulai memeras kita. Menukar Wulan dengan uang yang tidak pernah cukup. Aku capek, Ma...."  Wajah Erwin berubah sayu.

Deg, Shanti merasa jantungnya amblas ke bumi.

"Papa tidak pernah cerita apapun." Shanti mengernyitkan dahi. Sungguh dia tidak menyadari jika selama ini Erwin berusaha mempertahankan Wulan. Erwin terkesan sibuk dengan pekerjaan dan sangat jarang menanyakan perkembangan gadis belia itu. Sekalinya bertemu Erwin lebih banyak melontarkan keluhan daripada melambungkan pujian untuk anak itu.

"Kalau kamu ingin bertemu Ibu kandungmu, tengoklah langit di atas kepala. Kasih sayang Ibumu akan melindungi anaknya setiap saat." Wulan tidak pernah melupakan ucapan Erwin ketika suatu malam sang Ibu menitipkannya kepada Shanti disebuah jalanan sempit kota. Saat ketika keputusan untuk adopsi sudah disepakati.

Wulan mendengar semua pembicaraan itu. Dia memberi isyarat dengan tangannya. Dia tidak menginginkan ibu kandungnya. Bayangan tangan kasar menampar wajahnya muncul lagi. Hentak teriakan itu kembali bergema. Wulan berlari menjauh. Erwin yang sudah siap menancapkan gas memilih keluar dari dalam mobil. Dengan sigap dia berlari mengejar. Shanti berteriak-teriak meminta pertolongan para tetangga. Wulan terlanjur mengambil separuh hidupnya. 

Semua usaha yang mereka lakukan tidak memberi hasil. Wulan terlanjur menghilang dibalik kerumunan orang di pinggir jalan. Kali ini mereka benar-benar kehilangan gadis itu.

Dengan bantuan polisi pada hari kedua semenjak dia menghilang, Wulan ditemukan di bawah jembatan. Erwin hanya memeluk erat istrinya yang menangis sesenggukan memandang tubuh Wulan yang tak lagi bernyawa. Gadis bisu itu terlalu banyak menyimpan luka.















 

 




Read More