Cari Blog Ini
Cermin Hati
Matahari, Bulan, dan Kebenaran
Teratai Muda
Teratai muda yang bersemayam di tengah dada. Hanya engkau yang paling setia. Yang akan tetap menemani dalam keadaan apapun. Yang selalu mengingatkan untuk tetap tenang dan bersabar menghadapi dunia.
Terkadang suaraku memang samar bahkan menghilang. Tetapi engkau tetap mendengarnya. Daun-daun telinga kecilmu terlalu lebar untuk semua ceritaku. Menangkap makna setiap bait dengan utuh tanpa memantulkan pertanyaan baru. Mungkin karena engkau menyadari jika pada saatnya semua akan menjadi dungu dihadapanmu.
Teratai muda, aku kembali kepadamu. Tengoklah luka-luka ini. Kepada segala kerendahanku, waktu memberi pengalaman yang terlampau tinggi. Menyisakan suara langkah dari dalam.
Mengapa aku tidak lumat olehnya?
Seharusnya aku sudah terbelah menjadi bagian-bagian lebih kecil, hancur luluh bersalin rupa menjadi debu.
Tetapi tidak !
Setiap detik yang berlalu selalu membawaku kepadamu.
Teratai muda yang semakin memesona. Langkah ini sampai di belahan rambut beruban, tanpa rasa asing diantara pucuk-pucuk belia. Betapapun lirih dan lemahnya suaraku, ia hadir dari inti jiwa yang terdalam. Dan engkau selalu membuka kelopak-kelopak cantikmu, agar aku menghambur kepadamu.
Tarian Waktu
Aku yang menarikan waktu
Larut dalam tiap ketukan
Tanpa jeda
Aku adalah bintang dilangit luas
Menjelajah jagat hingga puas
Semesta menjagaku
Rindu
RINDU
Aku yang mencintaimu dalam sunyi
Tanpa riak emosi
Menjumpaimu sendiri
Ketika yang lain dipeluk ilusi
Sungguh ini memabukkan
Dikepung rindu yang enggan berkesudahan
Membawaku diam-diam
Terbenam jauh semakin dalam
Mengikuti arah arus
Menjaganya lekat agar tak tergerus
Kekasih…
Bagiku jarak ini hanyalah candaan waktu
Aku selalu punya alasan untuk menunggumu
Patah Hati Di Masa Lalu
MASA LALU
Aku sudah memaafkanmu
Jangan hadir lagi dalam ingatanku
Karena berkencan denganmu
Terlanjur menjadi bagian dalam hidupku
Aku sudah melupakanmu
Jangan datang lagi untuk bertanya tentang perasaanku
Aku sungguh tak punya kuasa merubahmu
Hanya karena merindukannya
Senja Kita
Lepas
Tak bermata
Lembut dibalut cinta
Aku adalah matahari senja
Yang hadir dengan manja
Menghilang dengan cepat
Tak memandang dimana kau memilih tempat
Aku adalah keindahan tanpa surai
Tiada guna kau menyeringai
Ketika cahayaku tak sampai
Itu karena engkau berkasih dengan lalai
Tataplah awan gelap
Genit menggodamu hingga terlelap
Menuduh cahayaku kelam
Hanya membuatmu luka menyambut malam
Amplop Kutukan
“Dua bulan bekerja disini, dan kamu sudah mengecewakan saya. Menurutmu ini hanya tentang bisnis, tetapi tidak buat saya. Sikapmu itu bisa menentukan bagaimana Lala akan memandang saya setelah hari ini!” seperti lebah, kata-kata Pak David terus mendengung ditelingaku.
Aku Mirah, seorang kredit analis dari salah satu bank perkreditan rakyat di Denpasar. Lulus dari bangku kuliah, adalah prestasi besar bagi keluarga kami. Ayahku hanya seorang housekeeping tua di salah satu hotel yang ada di daerah Kuta. Ibuku seorang pengajar tari dari satu sanggar ke sanggar lainnya. Maka ketika masa kuliahku berakhir, masuk ke dunia kerja menjadi tujuan pertama. Aku melayangkan lamaran ke beberapa perusahaan. Semakin banyak kail dilempar, semakin besar kemungkinan mendapat ikan, pikirku.
Surel panggilan untuk seleksi karyawan datang dari tiga perusahaan. Perusahaan properti, perusahaan food and beverage, dan sebuah bank perkreditan rakyat yang ada di Denpasar. Berlatar ilmu ekonomi dan bisnis akhirnya aku menjatuhkan pilihan kepada perusahaan terakhir.
Sebulan berlalu dan aku berhasil lolos dari semua tahapan yang disyaratkan. Dengan rasa percaya diri, aku menandatangani kontrak kerja dengan jabatan kredit analis. Proses belajar dan praktek kulewati dalam satu bulan berikutnya. Dari prestasi itu aku berhak mendapat akses ke dalam sistem perusahaan untuk selanjutnya mempunyai kewenangan menganalisa calon customer perusahaan.
Hari itu aku mendapat tugas survey ke salah satu art shop yang menjual pakaian jadi di daerah Seminyak. Wilayah ini dekat sekali dengan rumah kontrakan kami yang berlokasi di daerah Kuta.
Lewat telepon kami menyepakati waktu kunjungan. Tepat pada pukul 11.00 Wita akhirnya aku tiba di lokasi. Bapak Budi menyambutku hangat. Aku dibimbing untuk masuk ke dalam art shop yang cukup besar. Di dalam terdapat satu ruangan yang difungsikan layaknya sebuah kantor kecil. Obrolan meluncur dengan nyaman, beliau membagi informasi bisnisnya dengan lancar.
Suasana mulai berubah ketika aku meminta penjelasan beberapa dokumen laporan rekening koran yang terlihat kurang aktif dengan transaksi agak mencurigakan. Nota-nota usaha yang dilampirkan juga nampak ganjil. Ada beberapa kejanggalan dalam kelengkapan data permohonan kredit yang diajukan.
Pak Budi menyeringai, sepertinya dia mencium firasatku. Tiba-tiba Bapak itu memanggil nama seseorang. Nama yang dipanggil datang dan masuk ke dalam ruangan bersama tiga lainnya. Mereka berdiri disekitar kami duduk. Nyaliku mulai mengkerut.
“Saya sangat membutuhkan dana itu, Mbak. Tolong dibantu!“ kata Pak Budi sambil menerima sebuah amplop dari tangan lelaki yang berdiri paling dekat dengan posisinya. Perlahan Pak Budi meletakkan amplop putih itu tepat di atas meja yang ada di depanku. Semua mata tertuju pada benda itu.
“Tentu, Pak Budi. Tetapi saya sudah digaji oleh perusahaan tempat saya bekerja. Tanpa diminta, saya akan membantu mewujudkan harapan Bapak!“ jawabku. Pak Budi bergerak meninggalkan ruangan pengap itu. Aku bangun dari kursi dan bersiap-siap meninggalkan ruangan yang makin menyesak. Seseorang dari mereka menepuk pundakku. “Duduk saja dulu, Mbak!” katanya. Sebuah permintaan halus yang disampaikan dengan wajah sangar.
Aku mulai terlibat baku tatap dengan empat laki-laki berangasan, yang sedang mengelilingiku dengan posisi bersandar di tembok ruangan. Aku harus keluar dari ruangan ini dengan selamat, tekadku bulat.
Tak lama, Pak Budi datang sambil membawa dua botol minuman ringan dalam kaleng. “Minum dulu, Mbak....!“ katanya. Aku meraih satu diantaranya. Setelah menolak amplopnya, dia mungkin saja tersinggung jika aku juga menolak minuman yang ditawarkan. Ocehan Pak Budi tentang aktivitas usahanya semakin membual. Dengan segala cara dia berusaha meyakinkan aku jika usahanya berjalan lancar. Selain retail untuk pasar lokal, produk juga diekspor ke luar negeri. Rekanan usahanya banyak. Tentu semua tanpa dokumen pendukung yang memadai.
Otakku sibuk mencari jalan untuk bisa keluar dengan aman. Lokasi kantor yang berada di dalam toko membuat orang yang berlalu-lalang di sepanjang trotoar daerah Seminyak itu tidak terlihat. Pak Budi mulai menyentuh amplop putih itu lagi dan meraih tangan saya. “Rejeki jangan ditolak. Kita sama-sama cari makan!“ katanya sambil berdiri.
Aku merasa sangat tersinggung dengan ucapan itu. Tetapi pandangan tajam dari empat lelaki lain membuatku digelayuti gentar. Mereka saling sahut menyahut memintaku menerima amplop itu. Aku berdiri dan memasukkan amplop itu ke dalam tas ranselku. Ucapan terima kasih berhasil membuat mereka tersenyum.
Motorku melaju ke arah Kuta, ibu adalah tujuanku selanjutnya. Setelah menyelesaikan makan siangnya, ibu segera menyambar helm yang tergantung di garase. Aku memacu motor sambil membonceng ibu dengan posisi menghadap ke depan. Aku kembali ke lokasi customer tadi.
Tepat di seberang toko itu aku berhenti. Ibu menyeberang jalan, berlari kecil menuju toko yang sudah kuinformasikan sambil membawa amplop putih tadi. Dari kejauhan kulihat ibu bertemu dengan Pak Budi. Wajahnya tampak kebingungan. Ibu menunjuk ke arahku. “Terima kasih, Pak!” seruku. Pak Budi hanya terdiam. Waktu yang sangat singkat itu dimanfaatkan ibu untuk menyeberang jalan kembali kepadaku. Rasanya lega, beban dipundak sudah kulepaskan.
Tiga puluh menit berlalu saat aku menyelesaikan laporan kunjungan survey hari ini. “Mirah, kamu dipanggil Pak David di ruangannya. Ayo kita ke dalam!” ajak Pak Agung, sales head kami. Aku menurut dan berjalan beriringan menuju ruangan kaca yg tampak lebih mirip akuarium di pojok ruangan.
“Bagaimana hasil analisa saudara ipar saya, Mirah?“ tanya Pak David menyapa. “Hari ini saya ada dua kunjungan. Saudara Bapak yang mana ya?“ aku balik bertanya.
Astaga, customer yang tadi kutolak amplopnya itu masih saudara ipar beliau. “Saya reject Pak!“ jawabku sambil menelan ludah. Pak David membelalakkan mata. “Baru dua bulan disini, kamu berani menolak pengajuan kredit adik ipar saya, Mirah?” suaranya meninggi menandakan beliau kesal. ”Maaf Pak, tapi semua alasan penolakan sudah diinformasikan di dalam hasil analisa,“ lanjutku membuat pembelaan. “Justru itu masalahnya. Laporan yang sudah diinput ke dalam sistem tidak bisa dirubah lagi. Seharusnya bicarakan dulu dengan saya!” Setengah berteriak beliau memintaku keluar ruangan.
“Terkadang jika situasi memburuk, kita terpaksa harus mundur selangkah. Menunggu dengan sabar sampai situasi kembali menguntungkan untuk memberi reaksi yang tepat. Tindakanmu itu sudah benar, Mirah,” kata ibu. Aku menundukkan wajah dalam-dalam. Ingin rasanya menenggelamkannya jauh ke dasar bumi. Ada rasa sakit yang mulai berdenyut, walau aku sendiri tidak tahu dimana letak bagian yang sakit itu. Makan malam yang tersaji di meja makan tidak mampu menarik perhatianku.
“Tapi, Pak David menuduhku menerima suap, Bu. Ada rekaman video saat aku mengambil amplop itu.” Kali ini tangisku benar-benar pecah. “Siapa yang mengirim rekaman itu kepada bosmu?” tanya ibu penuh selidik. “Ibu Lala, istri Pak David!” jawabku.
Aku menangis sesenggukan. Aku merasa sangat sakit. Sebuah luka baru yang muncul karena sebuah pengkhianatan. Ya, aku sedang dikhianati. Perusahaan yang perlahan mulai kucintai telah menjadikan aku korban untuk hati seseorang yang tidak ada hubungannya dengan struktur organisasi.
“Inilah hidup, Nak. Tidak ada seorangpun memiliki kewajiban untuk baik kepadamu. Jika pun ada yang berbaik hati, maka itu adalah keberuntungan.” Begitulah ibu, beliau sangat mengerti kondisi yang kuhadapi, bahkan disaat aku belum memahami diriku sendiri.
Dengan berat hati aku menuruti permintaan Pak David. Surat pengunduran diri akan membuatku terhindar dari tuduhan melanggar prinsip integritas dalam perusahaan. Sebelumnya, melalui telepon Ibu Lala menuduhku meminta sogokan lebih besar dengan cara menolak permohonan kredit. Sejatinya, sampai sekarang pun aku tidak pernah mengetahui nilai uang dalam amplop kutukan itu.
Setahun selanjutnya, ketika aku melewati jalan raya Basangkasa Seminyak, kusempatkan menoleh lokasi toko saudara ipar Pak David. Toko itu tutup dan berganti dengan yang lain. Aku mencoba mampir dan mencari info kepada penyewa yang baru. “Pak Budi tersandung kasus penipuan, Mba. Saya kurang jelas juga,” jawab ibu muda itu.
Benar kata ibu, jika kebenaran akan meninggikan kebaikan dan kehidupan yang suci. Kebenaran tidak dapat hidup di dalam hati yang lemah.
Aku melanjutkan perjalanan menuju studio tari yang kurintis bersama ibu. Ahhh, tentu Mba Nia pegawai kami sudah tidak sabar menungguku. Ada banyak permintaan kostum tari dan jadwal pentas yang masuk ke surelku.
(Penggalan Cerpen Dalam Buku Salma Dan Lelaki Kiriman Tuhan NW Sri Mulyani. Ada banyak cerita lain yang dapat dbaca dalam buku itu. Untuk pemesanan buku silahkan dm ke @nwsrimulyani)
Cinta Kepada Anak Perempuan
Perempuanku
Cinta ini tak lekang oleh waktu
Ikut memintal nafasmu
Sampai akhir masa
Jagalah muruahmu
Risau Hujan
Dia datang karena diundang mendung
Pergi pun karena dijemput mentari
Mengapa kau risaukan itu
Tetaplah bermain ibu menjagamu
Tiada guna kau berkeras dada
Arahnya sudah ada
Ikuti saja nak
Keras hati hanya membuatmu bertalu-talu menghirup cemburu
Syak wasangka hanya menghujani derita bagi sukamu
Kembangkan senyummu
Karena kebahagiaan itu dirasakan
Bukan dipikirkan
Desau Hati
Jika risau mengganggumu
Ingatlah doa ibu menyanggamu
Untuk apa berpatah hati
Semesta belum semua kau susuri
Untuk apa kecewa
Belum semua ilmu kau bawa
Bumi belum habis kau pijak
Jangan merasa kehilangan jejak
Cerita Dari Wayan
Info cerita kehidupan terbaik 2020
Navigation List
Paling Dibaca
-
Ada tiga hal yang tidak dapat disembuyikan lama, dia adalah matahari, bulan, dan kebenaran (Buddha). MATAHARI Ahli astronomi modern telah pa...
-
Berkejaran dengan waktu sudah menjadi gaya hidup manusia modern. Dari semua rutinitasnya, setiap orang membutuhkan waktu untuk istirahat sej...
-
P EREMPUANKU K ita betina berkuku genap yang bisa berburu dan mengasuh liar dan anggun diteriknya padang ilalang kehidupan j aga martabatmu ...
-
Cermin yang mampu memantulkan wajahmu pun tidak dapat memantulkan dirimu yang sebenarnya. Terkadang bercermin membuat kita sadar jika hi...
-
Setiap ibu di jagat ini adalah guru pertama seorang anak. Sebagai seorang wanita, engkau akan memahaminya dengan baik. Pendidikan su...
Kategori
Formulir Kontak
Cari Blog Ini
Label
- Adat dan Budaya (2)
- Buku Saya (3)
- Cerpen (13)
- Galungan di Bali (1)
- Kreativitas (4)
- Lifestyle (7)
- Malaikat Bersayap (1)
- Puisi Hati (11)
- Sharinghati (22)
Mengenai Saya
- NW Sri Mulyani
- Berbagi hal positif dalam bidang seni kepenulisan, bercocok tanam, budaya Bali, inspirasi wanita dan keluarga.
Menyesal Itu Luka
Anak-anak yang membuang-buang waktunya harus memahami ini dengan lebih bijaksana. Masa muda hanya sekali. Jika terlewat dan Anda belum meman...













