Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Setangkai Kamboja di Pemakaman




 Setangkai Kamboja di Pemakaman



        “Pergilah dengan damai. Rayakan kebebasan yang sudah lama Kau nantikan,” bisikan penuh kasih sayang itu terbang menghampiri telinga yang telah lama mati. Perempuan dengan wajah pucat terbujur kaku di atas bale-bale rumah itu masih menyuguhkan senyum sejak hembusan napas terakhirnya.

Beberapa keluarga mulai berdatangan menyampaikan bela sungkawa. Raut muka sembab menyiratkan sisa tangisan yang baru saja disudahi. Sebagian besar dari mereka lebih memilih tidak bertanya tentang jasad pucat yang ditutupi kain batik bercorak burung cendrawasih. Para tetangga ataupun kerabat yang datang merasa jika diam jauh lebih baik daripada melempar tanya yang sangat mungkin mengundang luka sang empunya rumah.

        “Dimana anak dan suaminya?” Pak Hasan menepuk pundak Desti. Orang-orang menoleh kearah datangnya suara. Satu-satunya yang membuka mulut itu adalah Ketua RW setempat.

        “Belum kembali dari Singapura. Mereka akan segera tiba dengan penerbangan terakhir malam ini,” Hening menjawab pertanyaan itu dengan wajah datar. Semua kembali terdiam, sementara langit semakin gelap digelayut mendung.

Lantunan doa-doa dan ayat suci mulai terdengar. Cuaca redup masih menguasai. “Aku cemburu kepada awan gelap itu, sungguh bahagia mereka berarak bebas di langit luas. Mengikuti angin yang membawanya berkelana. Jatuh ke bumi ketika dia menginginkannya,” Hening bergumam sambil menggenggam setangkai bunga Kamboja putih.

“Apa katamu?” tanya Desti dengan wajah kesal.

“Aku cemburu kepada awan gelap itu!” suara Hening mengejutkan para pelayat. Membalas pertanyaan Desti dengan raut kecewa, tanpa menoleh kepadanya. Serentak mereka yang mendengarnya mengalihkan pandangan pada kedua perempuan yang sedang berduka dibalik kerudung hitam.

“Diam Kau! Setelah pemakaman adikmu kita bicara!” hardik Desti kesal. Terbaca jelas jika perempuan itu marah karena Hening mulai menunjukkan keberanian melawannya.

“Baiklah! Aku pun bosan mengikuti maumu!” Hening mengangkat kedua kakinya dan pergi menuju ruang keluarga. Tangisannya kembali pecah. Tak seorang pun menyadari jika itu adalah luapan rasa tertekan yang bertahun-tahun sudah membelenggu hidupnya. Beberapa kerabat mendekati dan mengusap-usap lengan Hening. Berusaha mengingatkan jika tidak ada kehidupan yang abadi di dunia ini. Jika sesungguhnya tidak ada sesuatu yang benar-benar kita miliki seutuhnya. Rasa Ikhlas akan mendekatkan sedangkan penguasaan justru menjauhkan. 

            Seminggu telah berlalu sejak pemakaman Indah usai dilakukan. Hening mengemasi barang-barang, menurunkannya dari lantai dua dan meletakkannya di teras depan.

“Mau kemana?” tanya ibunya dengan raut muka heran.

Rupanya Desti telah menunggu keberanian Hening disalah satu kursi teras yang terbuat dari kayu cempaka.

“Aku tidak mau bernasib sama dengan adik perempuanku.” Hening menghempaskan tubuh pada kursi di samping Desti.

“Mengapa Ibu melahirkan kami?” Hening setengah berbisik.

“Pertanyaan apa itu?” Desti balik mengangkat kedua alisnya hingga berkerut hampir menyambung antara yang kiri dan kanan.

“Kau tidak menginginkan kami, jadi kupikir lebih baik aku pergi dengan baik-baik. Ahhhh, Ayah dan Indah pun sebenarnya pergi dengan baik-baik juga. Tapi aku tidak mau mengikuti cara mereka. Aku punya caraku sendiri.” Hening menarik kedua sudut bibirnya dengan berlawanan arah yang membentuk senyum getir. Senyuman yang hanya mampu dipahami olehnya sendiri.

         “Ayahmu hanya seekor buaya darat!” wajah Desti datar

         “Mungkin Ibu yang membuat Ayah berganti rupa. Pernahkah terpikir seperti itu?”

            Desti merasa pipinya ditampar keras oleh seorang perempuan muda yang dia lahirkan di masa lalu. Darah mengalir deras ke ubun-ubun yang mulai tipis. Sebagian rambut yang dulu lebat dan hitam legam telah memilih untuk merontokkan helainya. Pilihan yang terpaksa mereka lakukan karena lahan tempatnya bergantung semakin kering dari cinta.

            “Mungkin saja,” desis Desti pelan. Dengan penuh perjuangan dia mengumpulkan tenaga untuk melembutkan nada suaranya.

            “Sepertinya ini hari yang baik untuk kita berdua. Aku tidak mau kehilangan kesempatan emas ini. Sekarang hanya ada engkau dan aku. Singkirkan status ibu dan anak. Kita adalah dua sejawat yang lama tidak berjumpa,” Hening semakin rileks.

Ini kali pertama ia  dapat berbincang dengan lebih landai. Waktu yang tepat untuk bicara dengan wanita yang selama ini terlihat asing dimatanya. Wanita yang kerap menguasai medan percakapan hingga suaranya lebih terdengar sebagai perintah.

            “Kemana tujuanmu setelah ini?” tanya Desti polos.

            “Aku pun tidak tahu. Yang ada dalam pikiranku hanya keluar dari rumah ini terlebih dahulu. Nanti akan kupikirkan di jalan. Lagi pula untuk apa Ibu mengetahuinya. Setahuku Ibu hanya mementingkan pikiran dan perasaan diri sendiri saja,” Hening memperbaiki rambutnya yang dipermainkan angin sore.

            “Semoga Engkau berhasil mencapai harapanmu. Tapi sebaiknya pastikan dulu tempat yang akan kau tuju. Sebuah rumah kos? Atau kontrakan? Terserah. Yang penting kau ada di tempat yang aman.” Desti getir.

            Hening memandang lekat wanita asing disampingnya. Dia bukan Desti yang dikenal selama ini. Wajahnya masih tidak percaya dengan perubahan sikap ibunya sendiri.

    “Sejak kapan Ibu berpikir tentang kebaikanku?” Hening mengungkapkan rasa penasarannya akan sikap Desti.

            “Sejak Ibu merasakan gerakan pertama kalian dalam rahim, yang bentuknya kini semakin menyusut.” Desti semakin lunak.

            “Pernahkah kau katakan hal ini kepada Indah?” Hening makin tidak percaya.

            “Belum sempat kulakukan. Dia keburu sakit lalu pergi. Tidak ada kesempatan lagi untuk bertutur dengannya. Ibu sangat menyesalinya, dan tidak ingin mengulang cerita yang sama kepadamu.”

            Hening merasa tubuhnya terangkat keatas. Perempuan dua puluh lima tahun itu merasakan dirinya melayang-layang menerima siraman cinta yang lama tidak dia dapatkan. Kehilangan Indah bagai momentum besar dalam perubahan pandangan Desti. Semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. 

       “Mengapa baru kudengar semuanya hari ini, Bu?” Hening memanfaatkan waktu yang masih tersisa, sebelum dia pergi dari rumah. 

            “Sebaiknya kita tidak membahas tentang masa lalu. Kita tidak dapat merubah yang sudah terjadi,” Desti melipat kedua tangannya di dada sambil menghembuskan napas berat.

            “Masa lalu tidak bisa di rubah, tapi masa depan bisa diperbaiki,” Hening bangun dan mengangkat kursi yang sedang dia duduki. Perlahan memindahkannya kedepan kursi yang dipakai Desti. Tubuhnya makin merendah, kembali meletakkan pantatnya di kursi yang sama. Kedua tubuh ibu dan anak itu kini berhadap-hadapan.

            “Masa depanku sudah lenyap bersama kepergian Indah. Masa depanmu yang masih panjang. Temuilah adik iparmu. Peluk cucuku yang sudah dia rawat selama ini. Aku bersalah kepada mereka semua. Egoku membuat Indah pergi dalam kesepian yang dalam. Sekarang baru kusadari jika akulah yang memisahkan keluarga kecil itu.” Desti menutup kedua matanya dalam-dalam.

            “Kesepian sudah menjadi derita yang paling mengerikan. Bukannya menolong Indah yang tidak berdaya, aku justru membawanya kedalam kubangan yang sama. Aku merasa sangat bersalah kepada Eva. Dia akan mengenangku sebagai seorang nenek yang jahat.” Desti menitikkan air mata.

            Sore kembali sepi.

            Hening mulai bimbang antara meneruskan rencananya untuk pergi atau meneruskan perbincangan menarik itu. Dia belum mendapatkan jawaban atas perubahan sikap perempuan keras kepala yang ada dihadapannya. 

            “Ibu juga memisahkan aku dari Teguh!” Hening menatap lekat.

      “Kami masih saling mencintai. Dibelakangmu, kami melakukan pertemuan. Ibu tidak bisa mengurungku selamanya. Imajinasiku berkeliaran dijalanan. Mimpi kami tetap membara. Bukankah semua nasib ciptaan kita sendiri? Lalu mengapa keyakinan Teguh mengganggumu?” Hening kembali bersuara.

            Desti diam membisu. Ingatan melayang jauh kebelakang.

          “Indah mencintai suami dan anaknya. Singapura bukan negeri yang jauh. Hati Ibu yang jauh. Indah berhak menentukan nasibnya sendiri. Dekat dengan keluarga kecil yang dia cintai. Indah juga…,” belum selesai Hening melanjutkan.

           “Sudahlah! Dia sudah dimakamkan. Biarkan aku yang menanggung semuanya.” Desti menepuk dadanya sendiri.

         “Bukan Bu, yang menanggung sikap Ibu adalah Eva. Bersama waktu dan kesibukannya, Ayah Eva mungkin akan melupakan Indah. Tapi Eva… Dia akan mengenang Indah disepanjang napasnya. Merindukan wajahnya, suaranya, aroma tubuhnya, rindu semua dekapan Indah.” Hening bangun dan merapikan tas-tas bawaannya.

            “Aku yang paling tahu bagaimana cara menjaga Indah. Hanya Aku yang mampu merawatnya dari penyakit itu!” Desti mulai terisak.

            “Indah sudah berhasil melahirkan seorang Eva. Tidakkah itu cukup bagimu? Kalau memang Ibu yang paling hebat, lalu mengapa Indah mati juga?” Nada meninggi membulatkan tekad Hening untuk pergi. 

Rupanya kesadaran Desti belum cukup untuk menahan satu anaknya yang lain. Hening pergi membawa tas-tas yang berisi beberapa helai pakaian dan keperluan pribadinya ke ujung gang. Menjumpai seseorang yang sudah menunggunya dengan sabar. Baginya nasib adalah pilihan. 

Bunga-bunga kamboja bermekaran di halaman rumah yang didominasi warna putih. Semenjak kepergian Hening, lima tahun terasa melaju dengan lambat. 

"Tendang yang kuat, Nek!" teriakan Eva membuat Desti makin semangat. Dengan terhuyung Desti mengejar bola yang dilempar Eva, kemudian menendangnya hingga terjungkal. Eva tidak mampu menahan tawa. Terpingkal-pingkal melihat neneknya jatuh bermandi debu. Mereka bermain dengan bahagia. Tawa canda membuat rumah berkilauan cahaya. Panji yang sedang sibuk di dapur samping tersenyum simpul melihat tingkah nenek dan cucu itu.

"Heningggg! masuklah!" suara Panji memecah lamunan Hening yang berdiri mematung dibalik pagar rumah yang rendah. Hening tidak tahu harus berkata apa. Panji segera mematikan kompor yang sedang menunaikan tugasnya. Sambil berlari kecil Panji mendekati Hening yang masih diam seribu bahasa.

"Heiii... darimana saja Kau? kita ngobrol di dalam yuk!" Panji merayu adik iparnya. Hening masih diam. Tidak satu kata pun meluncur dari bibirnya yang ranum.

"Semua merindukanmu. Aku lagi masak nasi goreng dengan sosis ayam. Kamu pasti suka. Ayolah!" Panji masih berusaha. Dia menggaet lengan Hening lalu menariknya ke arah pintu masuk sambil mengecup kening Hening dengan lembut.

Hening menghembuskan napas lalu tersenyum.

"Kita harus menahan diri. Setelah ini akan ada banyak waktu. Aku tidak percaya dengan semua yang terlihat hari ini. Aku terlampau bahagia." Hening berbisik pelan dan lembut, membuat Panji tersenyum lebar.

"Masuklah dulu, Tuan Puteri. Ijinkan hamba melayanimu!" Panji menundukkan kepalanya. Hening terkekeh kegirangan.

"Rupanya setelah seminggu kalian disini menemani Ibu, ada banyak perubahan yang sudah terjadi. Lalu bagaimana caranya menyampaikan tentang rencana kita?" Hening mulai menggelayut di lengan Panji yang kekar. 

"Sabar, Sayang! Kita akan menemukan cara yang tepat." Panji merangkul Hening dengan hangat.

Di halaman rumah, Eva dan Desti menyudahi permainan. Mereka memandang kearah Panji dan Hening yang tampak mendekat.

"Mamaaaaa!" teriak Eva sambil berlari kegirangan. Sudah setahun terakhir dia mendekap Hening seperti layaknya memeluk Indah.


Read More

SHALIMAR


 

SHALIMAR

    

    “Brakkk…!” Terdengar suara benda jatuh.

Tidak ada lagi keributan dari perempuan muda itu. Tubuhnya terjatuh di lantai keramik mewah keluarga Skyton. Tergeletak begitu saja, seperti daun kering yang dihempas angin.

    Mbok Sami datang tergopoh-gopoh dari dapur yang terletak di samping ruang rawat Shal, panggilan sayang untuk Shalimar. Tubuhnya yang besar makin terasa berat. Diseretnya langkah renta itu menuju ruangan Shalimar, perempuan yang beberapa bulan terakhir berkawan kekecewaan.

    “Bangun, Buuu…. Bangun!” teriak Mbok Sami dengan kencang. Kedua tangannya mengguncang-guncang bahu lemah dengan tubuh dalam posisi menelungkup.

    Tangan Mbok Sami meraba tubuh panas Shalimar. Beberapa hari terakhir Shal mengalami sepsis berat. Demamnya tak kunjung mereda, paramedis yang merawat mencurigai terjadi infeksi lanjutan. 

    “Mba Aurellll… Ibu jatuh, Mba!” suara Mbok Sami serak menahan guncangan emosi. Dari kamar kecil terdengar suara perempuan menyahut. Rupanya Aurel sedang ke kamar kecil saat kejadian mengenaskan itu berlangsung.

    Mbok Sami mencoba memeriksa tubuh Shalimar. Tangan dengan keriput yang menumpuk disetiap lekukan jari itu mulai menjelajahi tubuh malang  Shalimar. Mencari luka yang menebar bau amis.

    “Ya ampunnnn...! Bu!” Pekik Mbok Sami lagi. Aroma darah sudah menguasai ruangan, bercampur dengan aroma urin yang tumpah ke lantai. Tubuh yang terjerembab ke lantai membuat selang kateter terlepas dari vagina. Kantong Urin yang tersangkut kemudian tertimpa badan Shalimar. Tarik-menarik selang urin membuat urin yang tertampung di kantongnya meluap keluar.

    Aurel yang mendapat tugas jaga hari itu keluar dari kamar kecil yang ada dalam satu areal ruang rawat. Kedua tangannya sigap membalik tubuh Shalimar. Nampak darah mengucur dari lubang di leher tempat alat tracheos terpasang. Tangannya cekatan mengambil perban untuk menutup leher Shalimar yang berdarah.

    “Angkat badan Ibu ke ranjang, Mbok!” perintah Aurel cepat. Suara gaduh mendatangkan Pak Antok dari garase salah satu keluarga terkaya di Jakarta Selatan itu. Mereka berjuang bersama hingga tubuh lemah Shalimar kembali tergolek di ranjang perawatan. 

    Dokter Andre memasuki ruang rawat dengan tergesa. Tangannya cekatan memberi pertolongan. Aurel sungguh sigap mendatangkan dokter itu dalam waktu cepat. 

    Mereka sedang bergelut dalam kondisi darurat yang sama. Berjuang untuk menemukan sisa-sisa napas Shalimar yang baru saja berlalu.

    “Periksa saturasi oksigen. Ventilator SIMV RR 18, ya!” Seru Dokter Andre sambil menyiapkan obat-obatan yang diperlukan.

“Meropenem lanjut!”

“Mycamin lanjut!”

“Komponen darah sedang dikirim, kita siap untuk melakukan transfusi dua unit, dan ekstra plasbumin 25% selama dua hari kedepan.” Wajahnya pias.

Shalimar masih muda untuk jabatannya, belum lagi tiga puluh tahun dia sudah mengelola empat gedung pencakar langit di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan. Management yang professional membuat para pelaku bisnis berebut untuk menyewa satu dua lantai dari gedung yang dia kelola.

Dengan mata cokelat besar dan wajah tirus ia menyimpan kemampuan bernegosiasi yang mapan. Rambut cokelatnya dipotong sebahu, lebih demi kenyamanan dibanding gaya.

Dibalik tubuh jangkung, ramping, dengan kecenderungan kurus, Shalimar mampu bergerak cepat dan gesit.  Terdapat otot yang kuat di balik blazer yang membalut tubuhnya. Hidup produktif membuat rekening bank miliknya juga tebal. Sebuah kondisi yang menjadi magnet kuat bagi orang yang ingin memanfaatkannya. 

“Shal… Boleh?” tanya Steven sambil mengeluarkan kotak rokok berwarna merah. Satu kelopak matanya berkedip untuk meminta persetujuan Shalimar.

“Huhhhh…!” Shalimar menghela napas. Wajahnya berkerut-kerut menahan risau mendengar basa-basi pertanyaan yang tidak dibutuhkan saat berada di dekatnya. Seharusnya Steven sudah menyadari itu.

“Kau belum cukup mengenalku untuk bisa menilai apa yang kusukai atau tidak. Dan aku tidak pernah bilang kau boleh merokok disini!”

“Itu hal lain yang aku sukai tentangmu. Arogansi sangat khas dirimu,” Steven mengabaikan kerutan di dahi Shalimar. Ia mengeluarkan satu batang rokok dari kotak rokoknya.

Shalimar tidak yakin dirinya merasa lega dan baik-baik saja sampai ia melihat sebuah benda kecil bersinar terang disamping MacBook Air peraknya

“Punya siapa?” bisik Shalimar pelan. 

“Sejak kapan kamu memakai benda ini?” Shalimar menangkap tangan Steven yang hendak mengambil sebuah cincin bertahta kilatan berlian. 

Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir lelaki itu. Telinganya memanas. Air mukanya berubah merah. Ia segera memalingkan wajah dari perempuan yang sedang memegang kartu As. 

Dengan cepat Steven menuruni tempat tidur dan meraih celana jeans yang teronggok di lantai. Jemari kanannya cepat menyambar kunci mobil disamping meja nakas.  Jemari yang lain menyabet cincin yang menjadi sumber pertengkaran.

“Kamu tidak menjawab pertanyaanku!” teriak Shalimar garang. Dia paling tidak suka diacuhkan apalagi oleh laki-laki yang sudah menidurinya tiga bulan terakhir ini. 

“Brakkk!” Suara pintu kamar ditutup kencang. Dari balik jendela terlihat Steven meninggalkan halaman depan rumah mengemudikan  mobil sedan putih miliknya.

“Kamu akan segera kembali untuk ponsel berharga ini, huhhh!” Shalimar membuang wajahnya dari cermin.

“Laki-laki ceroboh!” Ia mengumpat lagi. Jemari lentiknya segera memainkan ponsel pintar  Steven. Beberapa informasi penting dapat dikumpulkan dari benda pintar itu. 

Dalam hitungan menit, semua akses perbankan Steven diblokir. Sampai saat ini uang masih memegang kendali yang cukup dasyat untuk menindas orang-orang macam Steven. Shalimar tidak membutuhkan waktu panjang untuk menjegal langkah laki-laki itu.

Tuan Charles, Ayah Shalimar seorang konglomerat baru. Jaringan bisnisnya berkembang pesat. Berawal dari produksi sandal jepit disebuah toko kontrakan yang kecil dan sumpek, sekarang gurita bisnisnya sudah melebar kemana-mana.

Dibalik kesuksesan sang ayah, ada seorang wanita yang bertahun-tahun hidup dalam tekanan. Nyonya Sarah seorang wanita pendiam yang tetap menjalani hidupnya dengan senyuman, bahkan ketika suaminya mengatur setiap gerak langkahnya.  Secara finansial perempuan yang paling dicintainya itu memang tergantung dengan suaminya. Shalimar tidak ingin itu terjadi padanya. Ia mengagumi ketenangan Sang Ibu dan keyakinannya yang mendalam, tetapi keyakinan itu bukanlah untuk Shalimar. Ibunya memang berhasil menjadi wanita dengan atribut-atribut yang paling dibanggakan Ayahnya-seorang ibu yang lembut, penurut, dan berbudaya. Shalimar tumbuh lebih liberal dan mandiri. Pengalaman dalam keluarga telah membentuknya menjadi  seperti sekarang. 

Beberapa minggu berlalu tanpa kehadiran Steven. Keuangan yang buruk akan membawanya kembali. Shalimar tidak memedulikannya. Laki-laki itu tidak pantas untuk dirindukan.

Shalimar mengisi waktunya dengan teman-teman sejawat. Meeting dari satu Gedung ke Gedung yang lain.  Makan siang bersama kolega bisnis, atau sekedar menikmati kopi di sebuah café favoritnya.

“Ada tawaran manis dari bos besar pemilik perusahaan farmasi. Sudah kuatur waktu pertemuan,” laporan pagi Sharon, sekretarisnya, terdengar cukup menjanjikan. 

Shalimar mengangkat sebelah alis. “Tawaran sewa gedung? Jelaskan lebih detil!”

Sharon terdengar semakin nyaring saat menjelaskan detil isi penawaran yang baru saja dia beritakan. Shalimar mengangguk tanda setuju.

Ia menduduki kursi bar dari kayu dan memperhatikan keadaan disekelilingnya. Jauh terasa lebih tenang dan nyaman dari bar yang biasa dia kunjungi. Tempat itu kurang lebih setengah penuh dan digaungi suara musik yang lembut. Pengunjung disini juga kelihatan sedikit lebih serius. Obrolan tentang bisnis, target perusahaan, ataupun masa depan. Shalimar merasa baru saja kabur dari pesta anak-anak muda yang hingar bingar dengan gaung suara lebih menyengat telinga. 

Sharon datang membawa minuman mereka. Dia duduk dan menyerahkan gelas kepada Shalimar, lalu mengangkat gelasnya sendiri kearah Shalimar.

“Semoga semua dilancarkan.”

Shalimar mengadukan gelasnya dengan gelas Sharon. Mereka bersulang untuk kelancaran bisnis hari itu.

‘Dorrr!” Suara tembakan menghentak. 

Tubuh Shalimar terjungkal ke belakang. Ambruk bersama rencana negosiasi bisnisnya hari itu. 

Ada lubang menganga di dada Shalimar. Darah membasahi lantai yang mengilap, menggenang, dan terus menetes. Percikan darah di dinding bar tampil bak lukisan misteri yang menceritakan sebuah kematian. 

“Bertahanlah, kumohon,” bisik Sharon frustasi. Matanya liar menoleh ke sekeliling ruangan mencari pelaku penembakan. Sayang, tidak satupun yang memberi petunjuk berarti. Penembak itu sungguh mahir melepaskan peluru dari arah yang tidak terduga.

Damn it!” teriak Sharon kesal.

Beberapa pegawai bar segera mengangkat tubuh Shalimar dan membawanya ke parkiran mobil. 

“Cepat ke rumah sakit!” perintah Sharon kepada Pak Antok yang terhentak melihat majikannya bersimbah darah. Tanpa bertanya lagi, mobil melesat bak terbang di angkasa.

Rumah sakit yang dituju sudah menunggu kedatangan mereka. Shalimar dibawa team medis ke ruang Instalasi Gawat Darurat untuk mendapatkan pertolongan maksimal, berharap kematian masih enggan menjemputnya. 

“Lakukan apa saja untuk menolongnya!” Dari ponsel terdengar jelas suara Tuan Charles memberi perintah kepada Sharon yang sedang duduk di depan ruang operasi. Tatapan matanya kosong. Dua penyidik dengan alat perekam suara dan gambar telah menunggunya untuk siap dimintai keterangan. 

Team kepolisian menyapu TKP dengan sigap. Mewawancarai beberapa orang dan memeriksa kamera pengawas di seluruh sudut bar. Terlihat menyeberangi ruangan, masing-masing mengeluarkan wadah ramping, menyemprot tangan mereka, depan belakang untuk menyegel minyak dan sidik jari. Mereka sedang berusaha keras untuk mengungkap siapa pelaku percobaan pembunuhan itu.

Dua bulan Shalimar tergolek di ruang Internal Care Unit. Setelah kondisi stabil  keluarga memutuskan untuk merawat Shalimar dengan home care. Tuan Charles menyiapkan sebuah ruangan khusus yang memungkinkan Shalimar dirawat professional setara dengan standar Internal Care Unit di rumah sakit.

“Aku masih belum paham dengan apa yang baru saja terjadi. Mengapa tidak ada yang mengawasinya? Bukankah dia tidak boleh dibiarkan sendiri?” Suara Tuan Charles meninggi. 

Mbok Sami dan Pak Antok hanya tertunduk lesu. Tidak ada yang harus mereka jelaskan untuk membuat pembelaan lagi. Rumah itu hanya dihuni oleh mereka dan team medis yang merawat.  Rekaman kamera pengawas memperlihatkan Shalimar mencabut sendiri kabel alat ventilator yang menempel dengan alat tracheos di leher. Semua penghuni rumah memiliki alibi yang kuat.

Shalimar terbangun dari kegelapan. Kelopak matanya menyipit. Dari sela-sela bilah tirai jendela nampak sinar fajar menyelinap malu-malu. Memancarkan garis-garis suram di ranjang. 

Badannya berguncang, gemetar, terpasung rasa sakit di sekujur tubuh. Dia memandang perih yang merayapi ranjang.  Selang ventilator sudah tersambung lagi dengan lehernya. Shalimar belum yakin apakah kali ini dia masih diberi waktu untuk bertahan. 

“Shal, bertahun-tahun yang lalu, Mama mengambilmu dari seorang wanita yang hendak membuang bayinya.” Pesan itu kembali terngiang di telinga Shalimar. Nyonya Sarah sedang membuka sebuah kotak misteri.

Semua belum usai, ada banyak pertanyaan yang harus di cari jawabannya. Siapa dibalik semua ini? Jika Shalimar adalah pewaris kerajaan bisnis Tuan Charles, lalu siapa yang menginginkan ketiadaannya.

Tuhan belum mengijinkan aku mati! 

Desis Shal dalam hati.

 

Read More

NYONYA PUAN



 

NYONYA PUAN

 

    “Apanya yang baik? Kalian akan terkejut kalau mendengar berita ini!” Suara Bu Rina tiba-tiba keceplosan diantara suara ibu-ibu yang sedang menawar daging dan sayuran.

    “Loh, emangnya Si Nyonya punya masalah dengan situ?” Seringai Bu Angga. Ibu-ibu lain yang sedang mengerubungi Mas Betok saling pandang.

    “Udahan, Bu Ibu… pagi-pagi jangan gosipin orang,” sergah Bu Sri dari balik sayur Kangkung yang tersusun rapi dalam gerobak kayu Mas Betok.

     “Coba aja, kalau Bu Sri yang ngalemin masalah saya. Mungkin Bu Sri udah nyerempet itu si Nyonya besar.” Bu Rina semakin kalap.

    “Halah… halah… ayo buruan ceritanya, Bu Rina! Kalau telat masak bisa gawat, keburu ditinggal suami kerja, nih!” Bu Angga setor pendapat pamungkas.

    Ibu-ibu kalau lagi ngumpul memang lebih sering gaduh daripada tenangnya. Sudah menjadi perangai para wanita di bumi ini. Mereka merasa nyaman di komunitas saat bisa ngobrol ngalor ngidul melepas penatnya otak dengan pekerjaan rumah yang monoton.

“Lama-lama Mas Betok juga bisa ketularan pelanggannya, banyak ngomong wae!” Bu Angga nambahin.

“Ya iyalah… kan dia pedagang keliling. Kalau diem aja mana ada yang noleh apalagi ngedeketin,” kelakar Bu Sri lagi sambil merapikan belanjaannya pagi ini. Ada daging ayam setengah kilo, sayur paku 2 ikat, bawang merah, bawang putih, terasi udang, dan tempe daun dua sisir.

Awal memulai berjualan keliling Mas Betok memanfaatkan sepeda motornya yang sudah tua. Setelah berjalan enam bulan ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan. Pelanggan yang agak malas bangun pagi seringkali terlewati atau malah motornya yang mengalami masalah di tengah jalan. Beban yang harus di tanggung menjadi semakin berat kalau harus mendorong motor sekaligus gerobak yang berisi barang dagangan. Tapi apapun sarana jualan sayurnya, Mas Betok tetap dihati ibu-ibu kompleks Griya Cinere Indah.

“Nyonya sombong itu sudah memecat suami saya dari perusahaan garment miliknya! Sekarang suami saya nganggur tidak ada pekerjaan!” Bu Rina membuka aib. Wajahnya memerah menahan amarah yang meluap. Tersirat kebencian yang sangat mendalam.

Tangan-tangan gesit yang sedang memilih barang belanjaan otomatis diam sesaat. Semua wajah berpaling kearah perempuan dengan tubuh tinggi besar berdaster biru muda. Sejenak Bu Rina menjadi pusat alam semesta.

Tidak ada yang berani memberi pertanyaan lanjutan. Masalah pekerjaan suami bukanlah masalah sepele. Hal sensitif menyangkut satu keluarga dalam sebuah rumah. Memberi komentar pun harus berhati-hati. 

Satu persatu ibu-ibu itu meninggalkan lokasi. Beberapa hanya memberikan semangat untuk Bu Rina. Semua tahu jika keluarga itu sangat bergantung kepada seorang sosok ayah yang dipanggil Budi dan Bu Rina hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang sehari-harinya sibuk urusan dapur, bersih-bersih rumah, dengan dua balita dalam masa pertumbuhan.

Tiga bulan sudah berlalu sejak Budi mendapatkan pekerjaan yang baru. Saat memasuki bulan kedua mengganggur, tiba-tiba saja sudah ada panggilan kerja dari perusahaan produksi pakaian jadi Hosana. Perusahaan ternama dengan jumlah tukang jahit sampai ratusan orang. 

“Aku ngga pernah ngajuin lamaran kerja kesana loh!” Saat itu Budi terheran-heran. Ada perusahaan dengan jenis bisnis senada menawarkan pekerjaan dimasa sulitnya. 

“Ini bukan kebetulan. Siapa yang mempromosikan aku kesana ya?” lanjutnya lagi.

“Mungkin mantan bosmu, Mas! Ngerasa bersalah kali dia. Makanya jangan asal pecat-pecat karyawan gitu!” Rina menepuk Pundak Budi sambil tersenyum sinis. Cukuplah satu bulan suaminya di rumah saja.

Budi seperti menikmati pekerjaan barunya.  Anteng dengan rutinitasnya di Hosana. Kalau bukan betah, pastinya masa kerja tidak sampai menyentuh tiga bulan.

“Nyahok itu si Nyonyah Puan! Biar dia tahu, kalau suamiku sudah dapat kerjaan baru! Dia pikir Cuma dia saja yang punya perusahaan gede. Orang kaya mah sukanya begitu, seenaknya wae sama orang kecil macam kita. Main pecat aja!” Diantara ibu-ibu yang mengerubungi Mas Betok, Rina makin sengit di pagi berikutnya. Rasa bangga akan pekerjaan baru suaminya seperti terbayar lunas untuk dendam di waktu yang lain.

“Udah Bu, syukurin ajah! Semoga lancar ya, kerjaan Mas Budi disono!” Bu Sri menyemangati disambut anggukan ibu-ibu lain. 

“Iya, Bu Rin, kita doain yah!” Bu Angga menimpali rekannya. Semua manggut-manggut setuju dengan ucapan Bu Angga.

“Maaaa…Mamaaa… ada tamu nungguin di rumah!” teriak Isha, putri kedua Rina. Semua menoleh kearah gadis kecil yang berlari tergopoh-gopoh mencari tubuh ibunya diantara para ibu yang sedang mengerubungi Mas Betok.

“Sini, Nak! Mamakmu lagi pilihin kamu lauk, nih!” Mas Betok berjongkok menyambut anak pelanggan loyalnya.

Isha tersenyum malu.

“Nyari Mama!” teriaknya lucu.

“Yo, wis! Totalin dulu belanjaanku!” pinta Bu Rina. Mas Betok bergerak cepat memasukkan belanjaan Rina sambil menghitung rupiahnya.

Dari kejauhan terlihat seorang wanita bersilang kaki sedang duduk di teras rumah dengan terusan warna kuning muda. Corak polkadot di bagian bawah dan hiasan renda menambah kesan bersahaja. Wajahnya cantik dengan kulit bersinar sawo matang. Dia menunggu dengan gelisah. Melihat bayangan Rina mendekatinya, perempuan itu langsung berdiri.

“Dengan Ibu Rina?” suaranya lembut.

“Iya, saya sendiri.” Wajah Rina bertanya-tanya. Dia berusaha mengingat mungkin sebelumnya pernah bertemu dengan perempuan ini di suatu tempat. File di kepala sudah dibolak-baliknya cepat, tapi tidak ada yang cocok dengan wajah perempuan ini. Dia tidak menemukan jawaban.

“Kalian bermain di dalam dulu, sayang!” pinta Rina kepada kedua putrinya. Anak-anak itu berlarian ke dalam rumah sambil berceloteh riang.

“Saya Susi, teman kerja Bapak Budi. Mohon maaf sudah mengganggu kesibukan Ibu.” Perempuan itu membuka perbincangan.

“Oohhh iya… iya…! Teman Mas Budi toh, ada apa ya, Mba?” Senyum Rina menyebar masih penuh dengan beribu tanya. 

“Kalau tidak mau saya laporkan, tolong peringatkan suami Ibu agar tidak terus menerus menggoda saya di tempat kerja!” Ucap perempuan manis yang sedang memberi kabar pahit itu. 

Deg!

Rina merasa kakinya bagai melayang di udara. Napasnya tersengal-sengal melepas kepergian perempuan muda itu. Rina berusaha mencapai kursi kayu di pojok teras untuk duduk sejenak. Menenangkan hati yang sedang bergemuruh hebat.

Lalu apa yang terjadi dengan Mas Budi di kantor sebelumnya? Apakah Nyonya Puan memecat Mas Budi demi menyelamatkan keluargaku? Mengapa aku tidak mencari kebenaran, malah mengumbar berita bohong. Bukannya memecah misteri Nyonya Puan, aku malah menyebar fitnah. Sungguh naifnya aku, menyemburkan lidah api ke jantungku sendiri. Bodohnya aku!

Rina tertunduk lesu memandang kedua putrinya yang sedang berantakin tempat tidur. Mereka melompat-lompat bermain dengan gembira. 

“ Maafkan saya, Nyonya Puan,” desisnya hampir tak terdengar. Hanya gemuruh tak menampakkan rupa.


Read More

NAPAS TITIPAN


Wajahnya kusut masai. Gelap mendominasi aura yang terpancar. Dahinya tertata apik oleh kerutan demi kerutan kulit yang makin menua. Beban yang berat hadir nyata dari wajah yang melipat.

Kadir adalah mahluk dari alam bawah yang sedang diberi kesempatan untuk mencicipi rasanya jadi manusia. Ternyata alam manusia itu kejam, sungguh kejam. Langkahnya terseok-seok menahan nyeri. Kawan-kawannya silih berganti memanfaatkan Kadir demi keuntungan sendiri. Pekerjaan yang digeluti malah melemparnya semakin jauh ke dasar jurang. Sebuah tempat yang sepi, pengap, lengang, dan gelap.

“Mengapa kau tidak kembali saja?” tanya Bambang, sahabatnya. Mereka sudah bersahabat sejak masih menjadi siluman. Bambang banyak memengaruhi hidup Kadir dimasa lalu. Dia juga yang membuat Kadir bisa mendapat kesempatan untuk mencoba peruntungan sebagai manusia. 

Ketika diberi pilihan, Bambang meminta dilahirkan disebuah keluarga petani sederhana. Sedangkan Kadir memilih peruntungan yang lebih baik. Perpisahan dengan Bambang membuatnya menempuh jalan sesat. 

Kadir memilih rahim istri seorang tuan tanah. Besar harapannya untuk memperbaiki hidup menjadi lebih bergengsi. Uang dan kekayaan tentu memiliki kemampuan menyihir penduduk di kampungnya. Keluhuran budi pakerti menjadi terlupakan. Seperti barang bekas yang sebaiknya diletakkan jauh-jauh dari akal sehat.

Lahir dalam lingkaran kehidupan keluarga kaya membuatnya lupa kepada tujuan kelahiran kali ini. Kehidupan di neraka nyata ini penuh dengan godaan harta, tahta, dan cinta. Semua hal yang kemudian menghalanginya pulang kepada sifat-sifat luhur manusia.

Istri tuan tanah itu bernama Retno. Perempuan dengan garis rahang yang tegas. Setiap permintaan yang keluar dari mulutnya adalah perintah. Kadir dijaganya bagai buronan. Hidupnya dipantau dengan pengawasan melekat. Bahkan ketika Kadir memilih Nunung sebagai istri, sang Ibu enggan menyadari posisinya ada dimana.

Retno mampu membelokkan rencana matang yang siap dieksekusi beberapa jam lagi. Kehadiran Nunung menjadi bulan-bulanan Retno. Jangankan membela cintanya kepada Nunung, menolong pikiran-pikirannya sendiri saja Kadir tidak mampu. 

Nunung patah arang. Rumah tangganya bersama Kadir semakin tidak nyaman. Permasalahan mereka bukan hanya menjadi urusan sepasang suami istri saja. Dilain pihak, Kadir juga tertekan karena terkesan harus memilih satu diantara dua. Kadir terbunuh pelan-pelan oleh sikapnya yang mengambang ke kanan ke kiri bagai air di daun talas.

Seiring berjalannya waktu, Nunung menjadi keras kepala dan cenderung untuk berontak. Orang-orang yang tidak tahu menahu tentang akar masalah justru menyudutkan posisi Nunung. Bukannya dibantu keluar dari kubangan, Retno malah menekan kepala Nunung terjerembab semakin jauh ke dasar lumpur. Sebagai Ibu, Retno merasa berhak untuk menguasai hidup putranya. Jika hidup sang anak ada dalam kendali Retno, secara otomatis Retno merasa kehidupan menantunya juga ada dalam kuasanya.

“Yang aku sedihkan hanyalah ketidakmampuanku menolongmu. Aku hanya bisa diam dan bengong saja. Hasil perbuatanmu menjadi urusanmu sendiri. Kalaupun dulu kau diberi kesempatan yang sama, itu bukan karena aku. Kamu sendiri yang berhasil meniru jalan pilihanku.” Bambang tergopoh-gopoh membantu Kadir yang melangkah dengan terhuyung. Tumpukan kertas-kertas putih yang dikempitnya pada ketiak jatuh berserakan di lantai.

“Apa ini?” Wajah Bambang bertanya.

“Wasiat jika aku mati.” Kadir menyandarkan keningnya di tepi daun pintu dialasi dengan satu tangan. Kadir sedang mengatur irama jantung yang hilang timbul.

“Aku putus asa,” lanjutnya lesu.

"Aku mencintai Nunung!" Suara Kadir makin lirih.

"Sebelum menolong istrimu, lebih baik kau tolong dirimu sendiri terlebih dahulu, Dir!" Bambang mengguncang lengan lunglai disampingnya.

“Coba kau menemui seorang dokter yang praktek di ujung waktu. Mungkin dia dapat membantumu keluar dari masalah.” Bambang memberi saran sambil membantu Kadir menyusun kembali wasiat-wasiat yang tercecer dan kotor oleh cipratan karma yang kelabu.

Bambang kesal bukan pada penderitaan yang sedang dialami Kadir.  Melainkan karena ketidakmampuannya untuk mengatasi hal-hal yang bebas merajah hidupnya.  

Kadir tidak mau mendesak dirinya untuk segera membuat pilihan. Bukannya menentukan keputusan dari pemikiran akal sehatnya, ia malah sibuk mencerna pendapat orang lain. Mengikuti perintah Retno atau pun menjalankan rajah pesan dari kawan-kawan yang hanya mencari keuntungan pribadi. Kadir mulai mengalami kesulitan untuk meletakkan pikiran-pikirannya diatas pemikiran orang lain. 

Kadir memandang langit-langit. Sorot matanya sangat tertekan seperti seorang tahanan lapas yang menunggu sidang. Pertahanan akal sehatnya berserakan dilantai. Pandangan suramnya digelitik suara dokter yang membangunkan dari lamunan.

“Jadi selama ini siklus napas sudah tidak teratur ya?”  dokter itu mengulang informasi awal kedatangan. Kadir mengangguk pelan.  

“Sebelum ngobrol lebih lanjut, kita lihat dulu rekamannya, ya!“ Dokter itu tersenyum sambil mengoleskan sebuah krem dingin pada dahinya.

“Tahan, ya!“ Dokter itu mulai menyentuhkan sebuah alat pada area diatas kedua alisnya. Alat itu lebih mirip dengan alat penghisap debu mini. 

Aroma  wangi dokter mulai membangunkan bulu-bulu halus tubuhnya. Kadir memejamkan mata, sejenak berpikir dan menimbang-nimbang keputusannya. Apakah akan melanjutkan pemeriksaan ini atau tidak.

Kadir memandang layar di atas tempatnya berbaring, Layar itu menampilkan gambar dari mesin yang sedang memindai perbuatan sebelumnya..

        “Apakah saya masih mungkin untuk bahagia, Dok?” Dahi Kadir berkerut-kerut menampakkan keraguan.

“Sebelumnya sudah pernah melakukan pemeriksaan lengkap, ya?” Dokter itu menghentikan gerakan tangannya. 

“Belum, Dok!“ jawab Kadir datar.

“Kalau begitu, tahu darimana jika ada perbuatan sebelumnya yang bermasalah?“ Dokter itu kembali menahan senyumnya. Sedikit demi sedikit dokter mulai memahami Kadir sebagai manusia yang tidak punya pendirian. Menyadari jika Kadir telah melupakan jika hidup di dunia hanya bertamu. Memberikan tanggung jawab membahagiakan diri sendiri, justru kepada orang lain.

“Buktinya sampai sekarang saya tidak kunjung bahagia.“ Kadir membela pendapatnya. Merasa pikirannya paling benar. 

“Banyak sekali faktor penyebab mengapa seseorang tidak bahagia. Dan itu bukan melulu masalah fungsi organ. Orang awam sering memberikan vonis kepada tubuhnya sendiri. Padahal itu hanya ungkapan putus asa seolah-olah sudah tidak ada jalan lain.” Perempuan didepannya tersenyum.

"Dari pengamatan yang tampak, hidup Bapak terlihat baik-baik saja. Maaf, jika Bapak ingin segera melepaskan beban, sebaiknya Bapak datang dengan hati yang lebih tenang dan ikhlas.. Nanti saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.“ Dokter itu mengusap area pemeriksaan tadi dengan tissue kering. 

Kadir mengangguk tanda mengerti. Menuruni ranjang sambil menarik napas dalam-dalam. Dengan sisa kemampuannya sebagai lelaki, Kadir merayu napas yang sedari tadi menemani dengan terpaksa. Melangkah keluar dan menutup pintu ruangan dengan perlahan. Berharap jika masih ada kemungkinan untuk memperbaiki tingkah lakunya, sebelum semuanya terlambat. 

Kadir menyerahkan secarik kertas kepada petugas yang mengatur jadwal periksa pasien berikutnya, kemudian memilih salah satu kursi yang masih kosong untuk menunggu panggilan pembayaran tagihan konsultasinya.

Ahhh, Bambang benar, pikirnya.

Read More

Malaikat Bersayap

Malaikat Bersayap

Biarkan aku mengendap sebagai luka lama yang berangsur-angsur sembuh, yang sabar menemanimu menangis demi menghangatkan sepi.
Biarkan jiwaku menjaga tubuhmu yang sedang berkelana.


(Lukisan yang tergantung di Lantai 25 Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospital Semanggi Jakarta)
 

"Jangaaan!" Teriakan Harum tertahan sepasang tangan dengan jari-jari kuat menekan bibirnya. Tangan kekar dan panas seorang lelaki. Entah datang dari arah mana. Dalam kegelapan tubuh yang kuat itu menghimpitnya ke pintu mobil. Lelaki itu semakin beringas tak terkendali. Dengan cepat tangan-tangan liar itu berusaha melepaskan jas putih yang menutup tubuh bagian atas. Otot paha yang kencang menahan tubuhnya hingga tak bisa bergerak. Harum berjuang mati-matian melepaskan diri dari cengkeraman lelaki asing itu. 

"Diammm!" Lelaki itu berteriak. Dengusan napasnya yang berbau alkohol mulai menjarah. Bibir panas itu mulai bergerak cepat mencium leher Harum yang jenjang. Dengan keberanian yang masih tersisa Harum menggigit kuping lelaki itu hingga mengerang kesakitan. Aroma darah segar mulai tercium.  Lelaki asing itu semakin berang. Dia memegang kuping yang robek oleh taring gigi Harum. Dengan kasar dijambaknya rambut Harum hingga tubuh Harum terjerembab ke belakang. Gadis berkulit kuning langsat itu mengerang di atas ubin kasar. Rasa kesal membuat lelaki itu makin buas bergerak di atas tubuh perempuan muda yang tampak sangat ketakutan.

"Buggg...!" Suara benda tumpul memukul lelaki itu tepat dibelakang kepalanya. Tiba-tiba lelaki itu diam tak bergerak. Seluruh kekuatan yang menindih tubuh harum lenyap seketika. Harum memanfaatkan situasi yang datang. Dia segera menggeliat bangun dan memperbaiki pakaiannya. Untunglah hari ini dia mengenakan setelan celana jeans dan kemeja berlapis. Setidaknya lelaki itu membutuhkan waktu panjang untuk memporak-porandakan kehormatannya. Geraknya cepat masuk ke dalam mobil dan segera menguncinya dari dalam. Yang ada di dalam pikiran Harum hanya satu. Segera pergi dari tepian jalan tempatnya memarkir mobil. Sejak pagi parkir rumah sakit sangat penuh sesak sehingga dia memilih parkir agak jauh.

"Tunggu!" Teriak lelaki yang telah menolongnya. 

Harum menyempatkan diri untuk menoleh ke arah datangnya suara. Seorang lelaki yang paling dibencinya sampai hari ini sedang berdiri tepat di depan mobilnya. Tidak mungkin menabrak lelaki yang sudah membantunya tadi. Sesungguhnya ini pertemuan kedua mereka setelah perpisahan beberapa tahun yang lalu. 

"Tolong antarkan aku pulang!" pintanya.

"Masuklah!" jawab Harum dengan bibir bergetar. Kakinya bagai mengambang di atas pedal gas mobilnya. Mata yang merah menahan tangis itu memandang awas kearah sekeliling jalanan yang sepi. Dia menyimpan banyak kekhawatiran. 


Bagaimana kalau laki-laki tadi adalah salah seorang anggota geng motor? Bagaimana kalau laki-laki asing itu bangun lagi dan mengejarku? Bagaimana kalau ada yang melihat peristiwa ini? pikir Harum dalam kalut.  


"Ayo, kita jalan saja!" ajak Awan menyadarkan Harum dari kalutnya.

Tanpa menjawab Harum menurut. Mobil berwarna putih mutiara itu segera melaju meninggalkan seorang lelaki asing yang terbujur tak berdaya. Tidak seorang pun dari mereka berdua ingin tahu kondisi orang itu. Harum akan menunggu panggilan polisi jika memang ada yang melaporkan peristiwa malam ini. Yang mendesak dilakukan sekarang adalah segera meninggalkan lokasi. 

Sambil tetap fokus dengan jalanan yang dilalui, Harum melirik tubuh lelaki kekar yang duduk disampingnya. Lelaki yang dadanya pernah menjadi sandaran kepala disaat lelah. Lelaki yang pundaknya pernah digelayuti dengan manja. Lelaki yang selalu menemani hari-hari Harum dimasa lalu.

 “Mengapa dulu kau tidak mau menungguku?“ gumam Awan datar.  Entah apa yang mendorongnya mengeluarkan kata-kata itu. Harum lebih memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan Awan. Hatinya masih kacau. Dia berusaha menata detak jantungnya yang hampir amblas. Hening, dua anak manusia itu hanya terdiam. Masing-masing kepala sibuk dengan pikirannya.

“Aku merasa ada sesuatu yang engkau sembunyikan. Apakah dokter muda itu sungguh mencintaimu?“ celetuk Awan tiba-tiba  mengejutkan Harum.

“Kamu memang sudah menolongku tadi. Tapi bukan berarti kamu boleh banyak bicara." Harum mengerutkan keningnya.

"Jangan menggangguku!“ Harum menambahkan.

“Aku tidak akan melakukannya.“ Awan membela diri.

“Ya, aku percaya. Kalau tidak, mana mungkin aku memberimu tumpangan." Harum mengejar mata Awan dengan galak. Harum belum mampu menyembunyikan rasa penasarannya. Angin mana yang membawa Awan datang menolong disaat yang tepat.

“Aku mencintaimu, Har!“ suara Awan cepat

"Diamlah! Please...." Harum melambatkan laju mobil.

“Aku sudah bertunangan. Diamlah!" lanjut Harum. 


Apa hebatnya mendengar ulangan kata cinta dari seorang mantan kekasih yang sudah menghianatiku, pikir Harum.


“Cinta tidak mengenal musim. Ijinkan aku menjelaskan semuanya, Har!” Wajah Awan sungguh memelas.

“Omong kosong! Aku sudah rela melepaskanmu,“ suara Harum semakin tinggi. 

"Sudahlah, diam dan jangan bicara lagi!" Harum memperbaiki posisi duduknya.


Aku adalah bagian yang selalu engkau lewatkan. Kehilanganmu membuat jiwaku penasaran. Andai Kau mengerti jika yang paling menyesakkan dan membuatku berdarah-darah adalah mengenangmu, keluh Awan.


Terhenyak, ingin rasanya Awan segera memeluk erat tubuh perempuan di sampingnya. Melumat bibir ranumnya hingga aliran listrik kembali menyengat sampai ujung kepala. Sampai kapanpun dia akan tetap mencintai perempuan ini.

Isi kepalanya menerawang lagi. Mengenang masa-masa terbaik dalam kehidupan percintaan mereka. Ketika hubungan itu hadir bagai cahaya pagi yang menghangatkan hari.


Awan segera menarik kepalanya ke belakang, lalu bersandar di jok kursi tempatnya duduk. Tidak mungkin bermimpi melakukan itu lagi. Keadaannya sudah tidak sama. Ragu-ragu diliriknya perempuan yang dulu pernah dia pertahankan dengan segenap kemampuan.  “Kapan bisa bertemu lagi?“ Suara Awan berusaha menggapai telinga Harum. Menoleh saja tidak dilakukannya, apalagi menjawab pertanyaan Awan. Pandangan Harum lurus ke depan. Awan mengerti jika tidak mungkin memaksa lagi. 


Dengan tangan kanannya, Awan memberi isyarat untuk berhenti. Mobil sedan mungil itu menepi, tepat di depan Panorama Town House Lebak Bulus Jakarta Selatan. Perlahan dia turun dan berlalu menjauh. Dari balik punggungnya hanya terdengar ucapan terima kasih. Tubuh Awan tenggelam di dalam gelap. Harum menyempatkan diri untuk melirik deretan rumah yang tertata rapi itu. Mengingat cerita masa lalu membuat kerut-kerut amarah yang tadi melukis bibirnya mendadak menghilang. Ada sesuatu yang terasa aneh. Aroma busuk berhembus semakin lama semakin kuat menusuk hidungnya. Harum segera menginjak pedal kopling dengan penuh dan memindahkan tuas transmisi dari posisi netral ke posisi gigi satu. Mobil mulai melaju setelah pedal gas di bawah kaki kanannya diberi tekanan. Harum mencoba mengintip ke belakang dengan bantuan kaca spion yang menempel pada plafon mobil di atas kepalanya. Dia sangat khawatir ada sesuatu yang aneh disana. Harum mengusap dadanya, semua baik-baik saja. Hampir saja dia kembali memanggil nama Awan. 


Harum menyusuri jalan TB Simatupang yang tidak pernah mati. Dari pagi hingga pagi lagi manusia seakan tidak pernah berhenti bergerak. Harum tersenyum kaku, menelan ludahnya. Sungguh ia tidak pernah menyangka, setelah beberapa tahun berpisah dengan Awan, mereka dipertemukan kembali di salah satu jalanan di pinggir kota Jakarta. Lelaki yang pernah singgah itu belum berubah. Harum berusaha menghapus ingatan. Harum berupaya menyembunyikan perasaannya jika malam ini rindu mereka berlarian saling mendahului.

"Dia sudah meniduriku," aku Sarah pelan.

Harum menoleh ke samping. Ditemukannya wajah Sarah yang menunduk. Tak percaya dengan kata-kata yang baru saja mengusik telinganya, Harum mengguncang pundak Sarah.

"Kamu bicara apa tadi?" selidik Harum.

"Awan sudah meniduriku," ulang Sarah pelan.

"Kamunya yang mau kan?" Harum balik bertanya.

Sarah menundukkan kepalanya lebih dalam. Harum hanya menatap jengah perempuan muda disampingnya. Kalau bukan karena rasa kasihan yang datang menyelinap, sudah sejak tadi Harum menampar pipi putih mulus Sarah.

"Dimana kalian melakukannya? Di kamar kos ini? Siaaal!" teriak Harum sambil berdiri. Lututnya gemetar menyangga tubuh yang mulai oleng.

"Jangan dijawab, aku tak bersungguh-sungguh ingin tahu bagaimana penghianatan itu kalian lakukan! Keluar dari kamarku!" teriakan berikutnya makin memekakkan telinga. Malam yang lengang menjadi saksi pertengkaran hebat di kamar kos mereka di salah satu sudut selatan pulau Bali.  

Sarah beringsut mengambil tas besar yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Apalagi yang mungkin dilakukan Harum selain mengusirnya. Tarikan napas yang semakin memburu membuat Sarah bergerak lebih cepat. Itu menjadi malam terakhir Harum dan Sarah ngobrol berdua di kamar kos mereka. Sakit hati Harum sudah sampai diujung. Dipandangnya hasil test pack kehamilan yang tergeletak disamping tempat tidur mereka. Ada dua garis merah muncul dengan jelas. 

Mengingat cerita itu membuat Harum menarik napas panjang. Semakin ke depan, nyatanya hanya waktu yang menyembuhkan luka hati. Masa lalu memang susah untuk menghilang. Dia selalu bimbang untuk menemukan jalan pulang. Itulah alasan kuatnya merantau ke Jakarta. Sebuah kota asing yang kini menjadi rumah baginya. Bersyukur pekerjaannya sebagai seorang dokter berhasil membuatnya sibuk dan perlahan-lahan hanyut dalam rutinitas baru. Di kota ini juga dia bertemu lelaki lain yang berhasil membuatnya lupa, jika sebelumnya pernah sangat hancur.


Hari ini adalah jadwal Harum untuk jaga di IGD. Dengan semangat dia mengosongkan segelas susu hangat dan melumat tuntas roti lapis berselai nanas kesukaannya. Setelah mengucap syukur atas berkah Tuhan, Harum bergegas mengambil jas putih bersih yang tergantung di lemari pakaian. Langkahnya pasti menyambut hari. Harum adalah seorang dokter di rumah sakit Mitra Sehat. Ada banyak kondisi yang membuatnya menyelesaikan pendidikan kedokterannya dalam waktu singkat. Kemampuan akademis yang sempurna dan rasa sakit hati membuatnya bertekad untuk cepat.

 "Code Blue!!!" Teriak seorang perawat IGD. Teriakan yang paling dikhawatirkan seluruh nakes disana. Sebuah sinyal kegawatdaruratan. Sontak Harum melompat ke ruangan pasien yang dimaksud. Baru saja operan jaga dengan kolega sebelumnya. Suasana sibuk IGD rumah sakit Mitra Sehat sudah menyapanya. Perempuan malang di atas brankar itu berusaha bertahan dalam keadaan tersengal-sengal karena sesak napas. Disampingnya berdiri seorang laki-laki berpakaian lusuh.

"Saya suaminya, Dok!" ujar laki-laki itu dengan wajah pucat.

"Ah, iya ya...!" Jawab Harum singkat masih dengan perasaan bingung dengan pemandangan yang ada didepannya. Entah apa yang menjadi alasan alam semesta mempertemukannya dengan perempuan ini lagi. Harum mengusir rasa penasarannya dan bergerak cepat untuk memberi pertolongan.

"Ambil set resusitasi di depan!" seru Harum kepada seorang siswa perawat yang mematung dengan wajah pucat. Mungkin ini pengalaman pertamanya menyaksikan pasien yang sedang bertaruh nyawa. "Pasang monitor, panggil residen anastesi untuk evaluasi dan back up ICU...!" Intruksi Harum memenuhi sebagian ruang IGD

"Mohon menunggu diluar, Pak. Segera daftarkan istri Bapak di front office dan kami akan berusaha menolong istri Bapak." Harum memberi pengertian kepada suami perempuan itu.

"Tolong aku...." Sayup-sayup terdengar suara lemah pasien itu. Sebenarnya tanpa meminta tolongpun, Harum tidak pernah ragu untuk memberi pertolongan kepada setiap pasien yang datang. Hanya saja ketenangan Harum dalam bertugas hari ini cukup terganggu. Dia berusaha bersikap profesional dan menerima kenyataan. Perempuan ini adalah salah satu pasiennya di IGD hari ini, yang memiliki hak sama dengan pasien lainnya. 

"Siapkan set intubasi...!" seru Harum sambil memasang sarung tangan yang baru. Harum segera melakukan intubasi dan memompa napas pasien. Junior yang lain melakukan kompresi dada karena nadi semakin melemah. 

"Harum, ma...maafkan aku. Awan tidak ber...salah. Di...dia menyusulmu ke kota ini. Se...tahun yang lalu A...Awan sakit. Dia dikuburkan di TPU Ta...Tanah Me...Merah!" Sarah berjuang sekuat tenaga mengeja kalimat yang sudah lama ingin dia sampaikan. 

Berampul-ampul adrenalin sudah diinjeksikan. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dua puluh menit melakukan resusitasi jantung paru, layar monitor berseru nyaring menampilkan aktivitas datar jantung pasien. Kedua pupil Sarah berdilatasi maksimal.

Harum merasa seluruh plafon ruang IGD menghimpitnya dengan kuat. Sakit sekali, terlampau sakit untuk dia lalui sendiri.

"Maafkan aku, Ibu. Aku gagal lagi menjaga titipanmu. Bahkan sampai hari inipun aku masih tidak mampu menolong saudara sambungku sendiri," gumam Harum lirih. 


Dilepasnya jas putih yang membalut tubuhnya. Harum merasa sesak. Tatapan kosong jatuh kepada tubuh Sarah yang pucat pasi. Satu-satunya saudara perempuan yang dititip ibu sambungnya, ketika almarhum ayahnya menikah lagi. Lalu, siapa lelaki yang hadir menolongnya selama ini? Harum menutup wajahnya dengan kedua tangan.










 


Read More