Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan

Media Sosial (antara penolong/penghancur)


 

Seorang Kaisar Romawi mengatakan, 

 

Bila Anda merasa tertekan oleh sesuatu di luar, kesengsaraan itu bukanlah karena sesuatu itu sendiri, melainkan dari penilaian Anda terhadapnya.

 

Apa makna penting dari ungkapan itu?

 

Sang Kaisar ingin menyampaikan bahwa kita adalah sumber dari segala kejadian. Semua yang terjadi pada diri kita adalah hasil dari kreativitas kita sendiri. Pengalaman yang baik, menyenangkan, sedih, duka, menyengsarakan dan berbagai pengalaman hiidup lainnya adalah ciptaan kita sendiri.

 

Lalu apa hubungannya dengan media sosial?

 

Bagi sebagian besar orang, salah satu kebutuhan pokok manusia saat ini adalah bermedia sosial. Berinteraksi dengan orang lain tanpa harus bertemu muka. Membangun kelompok-kelompok baru tanpa mengenal mereka secara personal. Mengembangkan maksud dan tujuan tertentu baik dalam bidang bisnis, ekonomi, politik, sosial dan budaya. Ada berbagai macam target yang ingin dicapai, yang terkadang tidak terbaca dengan baik oleh netizen. Karena selain ada yang muncul ke permukaan sebagaimana adanya, banyak pula individu yang berkeliaran dengan topeng-topeng di wajah mereka.  

 

Pada saat Anda mengungkapkan cinta, kebahagian, kegembiraan, rasa antusias, rasa syukur kepada orang lain, dan mampu memengaruhi seseorang dengan begitu kuat, kemudian orang itu memengaruhi lebih banyak manusia lain, maka semua hasil positifnya akan kembali kepada Anda.


Anda tidak hanya menerima balasan cinta dari satu orang, melainkan dari semua orang yang sudah terpengaruh oleh pikiran, ucapan, dan sikap positif Anda.

 

Benar, cinta itu akan kembali kepada Anda dalam jumlah yang berlipat ganda, bahkan dari orang-orang tidak Anda kenal. 

 

Hal-hal baik apa yang akan dijumpai jika cinta kembali kepada kita dalam jumlah berlipat-lipat. Itu rahasia Semesta Raya. Hanya Anda yang telah menerima mampu untuk merasakannya. Rasa bahagia, suka cita, kejadian demi kejadian ajaib yang menjadi penolong, rejeki yang tiba-tiba hadir tanpa bisa ditebak, dan sebagainya. Semua akan menjawab pertanyaan itu dengan sempurna. 

 

Lalu bagaimana halnya jika Anda memengaruhi orang secara negatif?

Membangun opini yang menyesatkan, memberitakan kabar bohong dan penuh rekayasa, memelintir cerita sehingga Anda terkesan adalah korban ( playing victim ).

Tentu reaksi yang muncul dalam hidup akan setara dengan apa yang sudah Anda berikan. Semakin banyak orang yang terpengaruh untuk menghakimi sesuatu/seseorang/sekelompok orang secara negatif, maka semakin banyak kesusahan dan penderitaan yang akan Anda jumpai.

 

Sekarang semua kembali kepada diri kita masing-masing. 

Apakah kita akan menebar kebaikan atau memilih sebaliknya. 

 

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai netizen yang bijaksana?

Jangan langsung memercayai berita yang belum jelas sumbernya. Periksa kebenaran informasi dari pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan kabar tersebut. Hal penting lainnya, jangan melibatkan emosi dan perasaan Anda terlalu dalam pada sebuah kisah yang disajikan di media sosial (betapa bahayanya jika ternyata itu hanya gossip belaka maka kita sudah masuk dalam lingkaran negatif yang diciptakan penyaji kabar).


Read More

BUNGA TELANG



Bunga Telang

 

Siapa yang sudah menanam bunga Telang/Teleng di pekarangan rumah?

Kalau belum, ada baiknya untuk dicoba. Mengapa harus mencobanya? 

Karena selain cantik untuk dipandang, bunga Telang dikenal luas memiliki banyak manfaat baik bagi tubuh kita. 

 

Tanaman ini dapat ditemui tumbuh dilahan semak, hutan terbuka, dan vegetasi sungai. Beberapa orang menanamnya di pot, atau pagar rumah. Tanaman ini akan tumbuh merambat dengan pertumbuhan yang cepat. Tanaman ini tidak membutuhkan perawatan khusus. Walaupun termasuk berumur pendek, tetapi dia mampu tumbuh hinga mencapai panjang 2,5 meter.

 

Bunga Telang memiliki banyak nama seperti Butterfly Pea (Clitoria ternatea), Bluebellvine Blue Pea, Asian Pigeonwings, Cordofan Pea, dan Darwin Pea. Nama yang beragam menandakan jika tanaman ini sudah dikenal diberbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dll.

 

Bunga yang memiliki bentuk mirip klitoris kaum hawa ini, ukuran rata-rata panjangnya sekitar 4 cm dan lebar 3 cm. Paling sering dijumpai dengan warna biru. Selain itu bunga ini juga memiliki varian warna yang lain seperti putih, biru muda, dan ungu muda. Selain bentuk single, bunga Telang juga ada yang tumpuk.

 

Sebuah penelitian dari Journal of Ethnopharmacology menunjukkan bahwa bunga Telang memiliki kualitas antiasthmatic. Journal of food Science an Technology juga menemukan bahwa bunga ini penuh dengan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh dan dapat mengurangi stress oksidatif (antidepresan)

 

Kelopak bunga Telang biasa dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami seperti teh, pewarna pudding, nasi, dll. Sedangkan daun, biji, dan akarnya dimanfaatkan sebagai obat herbal/tradisional.

 

Bagaimana cara mengonsumsi bunga Telang ini? 

 

1.     Sebagai pewarna alami, buga Telang tinggal diseduh dengan air hangat. Maka warnanya akan keluar dan menyatu dengan air.

2.     Sebagai sayuran, kelopak bunga Telang bisa  dimakan langsung bersama  lauk yang lain. Jangan lupa untuk mencuci bersih terlebih dahulu.

3.  Sembelit, bisa dikurangi dengan memanfaatkan biji bunga Telang. Ambil beberapa biji bunga telang kemudian dipanggang, dihaluskan menjadi bubuk. Bubuk biji bunga Telang dapat diminum bersama air hangat suam-suam kuku selama 3 hari. Selain bijinya, 10 gram akar bunga dapat direndam dalam 2 gelas air hangat selama 5 jam. Minum 2 kali sehari selama 3 hari.

4.     Mengunyah 2 lembar daun bunga Telang dapat mengurangi keluhan migrain.

5. Asupan 5 gram bubuk akar bunga Telang dapat membantu masalah gangguan pencernaan.

6.  Untuk mengurangi bengkak. Fungsi daunnya mirip  seperti daun nangka yang kering. Ambil beberapa daun secukupnya ditumbuk hingga berbentuk pasta kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang bengkak.

 

Nah, beberapa manfaat bunga telang yang telah diteliti adalah :

1.     Meningkatkan kesehatan otak dan jantung.

2.     Melancarkan siklus menstruasi pada wanita.

3.  Meningkatkan sistem saraf                                                                  (melancarkan peredaran darah, mengurasi stress)

4.     Mengobati gejala asma/bronkitis.

5.     Obat alami untuk Diabetes.

6.     Membantu menjaga Kesehatan mata.

7.     Baik untuk pencernaan.

8.     Meningkatkan daya ingat.

9.     Mengurangi rasa sakit kepala.

10.  Mengatasi rambut rontok.

11.  Sebagai pengganti kafein pada masa kehamilan.

12.  Sebagai pewarna alami pada makanan.

 




Read More

Catatan di Gunung Agung

EKSPEDISI JALUR TUA


    Aku tumbuh dari keluarga yang gemar traveling. Ayah dan ibu menurunkan darah itu kepada kami. Sejak kecil kami sudah terbiasa menjelajah pulau Bali dengan sepeda motor, mulai dari hanya dengan satu sepeda motor, hingga harus dengan dua sepeda motor karena sudah tidak cukup untuk empat orang dalam satu motor.

    Setelah menikah dan memiliki tiga anak, aku tetap mengisi waktu libur keluarga dengan memuaskan kegemaran itu. Anak ketiga kami pernah ikut menyeberang pulau Nusa Penida dengan boat kecil ketika berumur enam bulan. Keputusan untuk menginap semalam dan tidur di balik bangunan wantilan Pura Dalem Ped bukan tanpa pertimbangan. Hanya beralaskan tikar pandan, aku menyusui batitaku hingga terlelap di keesokan pagi. 

        Pada tanggal 18 Mei 2016 telepon genggamku berdering. Dari layar telpon aku membaca nama Odah Legian (nenek Legian), panggilan anak-anakku kepada nenek mereka.

"Sri, ibu dan bapak mau mendaki Gunung Agung tanggal 22 besok, kamu ikut ya!" ajak ibu. "Hah...! mendaki Gunung Agung?" aku balik bertanya. Ibu tahu betul aku suka bertualang. Sebelumnya kami sudah terbiasa mendaki bukit-bukit di beberapa tempat di Bali sambil memuaskan hasrat untuk bersyukur kepada Tuhan dengan mencapai pura-pura di ujung langit. Kali ini terasa agak berbeda. Tujuannya adalah gunung tertinggi di Bali. 

“Manfaatkan setiap kesempatan baik yang datang ke dalam hidupmu, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Kita tidak punya kuasa untuk masa depan.” kata ibu berusaha membuatku menjatuhkan pilihan kepada rencana itu. Malam itu aku katakan siap berangkat, tetapi akan minta ijin dulu kepada suami dan ketiga anakku. Mengajak mereka bertiga sudah tidak memungkinkan.

       Mendiskusikan rencana ini kepada anak-anak membutuhkan usaha lebih. Restu dari ketiga anakku jatuh menjelang hari keberangkatan. Aku yakin Tuhan punya rencana indah melalui ijin yang diberikan suami dan anak-anak. 


Dalam penanggalan kalender Bali, Sabtu, tanggal 21 Mei 2016 adalah bulan purnama. Hari baik untuk melakukan perjalanan spiritual. Sepulang dari kantor, aku bergegas mandi, memakai kain dan kebaya Bali. Setelah berpamitan, motorku melaju ke arah Legian Kuta. Tas ransel hitam milik Damar anak keduaku sudah tersangkut di punggung. Isinya hanya air putih, obat-obatan, kain pengganti dan sedikit perbekalan makanan. Jaket merah Bayu, anak pertamaku ikut menemani. Di rumah ibu, sudah siap empat orang temannya yang berusia sebaya beliau. Wah... ini ekspedisi kakek-kakek dan nenek-nenek. Aku adalah peserta termuda saat itu.




Sekitar pukul 16.30 Wita kami berangkat dengan tujuan kabupaten Karangasem, Bali, lokasi Gunung Agung berada. Perjalanan menjadi begitu menyenangkan karena teman-teman ibuku pandai bercerita, mulai dari kisah anak-anak, cucu, bahkan cerita dimasa muda mereka. Gelak tawa di dalam mobil membuat suasana menjadi hidup. Hampir tiga jam perjalanan dari kawasan Kuta, akhirnya kami sampai di Pura Pasar Agung, Desa Besakih, Karangasem, Bali. Kami tiba disaat gelap sudah mulai turun dan kabut menyelimuti seluruh areal kawasan hutan dan pura. Karena hari itu adalah bulan purnama, ada beberapa orang juga datang silih berganti untuk sembahyang di pura. Aroma dupa yang harum menerobos liang hidungku dengan bebasnya. Suasana yang hening dan kusyuk membuat hati tentram dan pasrah kepada Tuhan. Ibu mengajak kami segera menaiki tangga-tangga menuju areal utama pura. Napas yang terengah-engah membuat bibir mengepulkan asap. Yang pertama kami tuju adalah pemangku pura. Beliau menyambut kami dengan hangat. Istri dari pemangku pura menyuguhkan teh manis dan jajan pia Bali. Beliau sangat bersahaja. Ransel kami dikumpulkan di balai panjang.

"Kami senang menyambut kedatangan kalian." sapa beliau dengan santun. "Setelah selesai minum teh, persiapkan sarana sembahyang, mari saya temani untuk berterima kasih kepada Tuhan, karena semua sampai dengan selamat." lanjut beliau. Kami pun menurut dan larut dalam persembahyangan bersama.     

      Dingin mulai masuk ke celah-celah kain kebaya yang aku kenakan. "Saya mohon maaf karena tidak bisa menemani kalian munggah ke atas gunung. Ada pesamuhan desa yang harus saya hadiri besok pagi. Jadi kalian akan ditemani adik saya yang juga seorang pemangku, istrinya yang akan menjadi porter kalian, dan seorang pemandu yang akan menjadi leader kalian. Tongkat sudah saya siapkan ada di dapur pura. Sekarang istirahat dulu, pendakian dimulai jam 02.00 Wita," jelas beliau.

         Kami berkumpul untuk makan malam, dilanjutkan mulai mencari lokasi untuk tidur sejenak. Cuaca yang sangat dingin membuat kami tidak bisa terlelap. Kaos kaki segera membungkus kedua telapak kaki yang mulai kisut. Aku merasa was-was. Ternyata belum mulai mendaki sudah dingin sekali. Kami merasa tidak siap dengan peralatan yang seadanya. Kedua jemari tanganku kesemutan karena menahan dingin. Untuk menghangatkannya, Ibu segera mengoleskan minyak ramuan beliau. Ada ketakutan yang terbersit dalam pikiranku, jangan-jangan tubuhku beku di tengah pendakian. 

Jarum jam di balai panjang menunjukkan pukul 24.00 Wita. "Mari kita sembahyang dulu sebelum mulai mendaki!” Ibu kembali mengajak kami sembahyang di tengah malam purnama.








            Sekitar pukul 01.45 Wita pemandu kami datang. Sungguh waktu yang sangat singkat untuk dapat mendengar penjelasan dan arahan untuk pengalaman pertama ini. Kami benar-benar bermodalkan nekat. Kami berkenalan satu sama lain. Ada Jero Mangku pura bersama istrinya, dan Bapak Kadek yang merupakan leader kami. 

Sebagai persiapan terakhir, kami memeriksa kendi yang akan dipakai sebagai tempat penampungan tirta ( air suci ), yang akan kami ambil di atas gunung. Memastikan dua sesajen yang akan dijinjing Jero Mangku dan istrinya agar tidak tertinggal. Semua anggota ekspedisi juga sudah menggenggam tongkatnya masing-masing.

Tiba-tiba ibu Ketut Jati, sahabat ibuku berteriak. "Ya ampun, sandal saya putus!" teriaknya. Wah gawat, kami kebingungan. Tidak mungkin naik gunung tanpa alas kaki. Pemandu kami mengambil inisiatif untuk meminjam sandal dari penjual kopi yang ada di samping pura. Selalu ada pertolongan mengejutkan untuk orang yang tekun berusaha.

Tepat pukul 02.00 Wita dini hari kami berangkat. Menerobos hutan lebat dengan mengenakan kain panjang dan berkebaya. Beruntung ibu mengingatkanku mengenakan celana panjang di dalamnya. Suasana sangat sepi hanya terdengar desahan napas kami saat memijakkan kaki menaiki jalur tua itu. 

Beberapa kali wisatawan asing mendahului kami. Sebelumnya kami tidak bertemu dengan rombongan wisatawan asing itu di awal pendakian. Rupanya mereka mengawali pendakian dari arah Pura Besakih. Mereka bergantian melewati jalur kami dengan langkah kaki panjang. Beberapa penduduk lokal di kawasan Besakih berprofesi sebagai pemandu pendakian Gunung Agung. Lapangan kerja yang bagus dan sehat. 

Kami menyusuri hutan, bebatuan terjal dengan semangat. Beberapa kali sandal jepitku tersangkut di antara celah bebatuan muntahan gunung di tahun 1963, yang telah menewaskan ribuan orang itu. Sinar lampu senter seadanya membantu kami menempuh hingga seperempat perjalanan. 

Pendakian ini bertujuan memohon air suci di lokasi pura tertinggi, di gunung tertinggi dengan ketinggian 3.142 MDPL di pulau kami. Hal yang sama tidak akan dilewati para pendaki yang bertujuan wisata.

Tiba-tiba aku merasa ada mahluk berbulu lebat melewati kaki kanan bagian samping. Sejenak kuhentikan langkah. “Jangan kawatir, itu sahabat para pendaki disini.” kata Jero Mangku. Dengan bantuan cahaya rembulan dapat kulihat dua ekor anjing Bali sedang menemani pendakian kami. Warnanya hitam dan putih. Sungguh sebuah anugerah yang indah, walau akhirnya tidak kusadari kapan mereka berdua menghilang dari pandangan.

"Ini titik pertama. Semuanya agar terdiam, hening dan membaca tanda alam. Jika nanti terdengar gemuruh kilat dan petir tetapi tidak turun hujan, kita harus segera kembali turun. Itu pertanda dari alam bahwa di depan ada bahaya. Pendakian ini harus dihentikan sampai disini!" kata Jero Mangku. Mataku tertuju kepada sebuah gapura besar di depan sana. Aku heran, diatas gunung ada gapura?

Kami mengikuti saran dari Jero Mangku, larut dalam suasana meditasi di pura pertama. Suara angin menderu, gunung keramat ini ditangkup kabut. Bulan purnama memberkati kami dengan cahaya terang. Jika bukan karenanya, mungkin tebing-tebing dan jurang dalam itu akan diselimuti pekat. Pohon-pohon cemara dengan bahagia mempersembahkan kidung saling bersahutan. Ini pertama kali dalam hidupku tahu, jika pohon cemara dapat menyanyi dengan sangat indah dan merdu. Sunyi, hening, sepi. Hanya ada suara dari alam semesta. Jero Mangku memberi tanda bahwa keadaan aman. Pemilik tempat yang agung ini telah memberi restu-Nya. Bukan kilat dan gemuruh petir yang dihadirkan, melainkan keindahan. Kami sangat bersyukur bisa melanjutkan pendakian. 

Sesosok wanita tua tiba-tiba hadir diujung bebatuan di pinggir jurang. Tersenyum penuh kedamaian. Beliau berdiri di pinggir telaga kecil diantara tebing batu cadas. Ayahku menangis tersedu-sedu, menahan haru. Kami segera membuka sesajen yang terikat dalam besek dari bambu, menyalakan dupa, dan menyiapkan  bunga aneka warna. Semua bersimpuh memanjatkan doa dan rasa terima kasih, larut dalam syukur yang mendalam. Sungguh besar anugerah Tuhan kepada bumi ini. Dupa dan bunga-bunga yang harum semerbak menjadi sarana ungkapan keindahan dan rasa terima kasih kepada alam semesta. Melihat berkah Tuhan dapat dilakukan dalam keadaan suka maupun duka. Tetapi rasanya akan lebih agung ketika berkah itu kita syukuri dalam keadaan nyaman, hening, harum, dan indah. Itulah mengapa umat Hindu menjadikan bunga, api dupa, dan air sebagai bagian dari ungkapan bahagia mereka.


(Ini Photo Ibu saya, bukan ilustrasi perempuan yang hadir di pinggir tebing)


“Tidak baik berlama-lama diam dalam cuaca dingin,” kata Jero Mangku penuh isyarat. Kami mulai bergerak lagi, mendaki bebatuan untuk menggapai gapura di jalur yang tampak semakin indah. Hahhh…ternyata itu hanya sepasang pohon yang mirip gapura. “Penduduk disini meyakininya sebagai gerbang gaib Gunung Agung. Tidak semua orang mampu menangkap tanda-tanda alam, hanya kemurnian hati yang mampu menerimanya,” lanjut beliau.

            Kami dihadapkan kepada susunan bebatuan hitam terjal dan tajam, dengan jurang yang dalam di sisi kiri dan kanan jalur pendakian. Sejenak aku menoleh ke belakang. Tampak pemandangan kota Karangasem begitu indahnya dengan lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang di daratan luas. Sesekali dalam hidupmu cobalah memandang dari sudut yang berbeda. Ketika kau melihat gunung itu indah, maka gunung pun sedang memuji keelokan yang terhampar dibawahnya.  

“Ketika kita lelah dalam perjalanan, cobalah tengok pencapaian yang sudah dilewati. Disana kita akan merasa semakin kuat.” Pesan Jero Mangku memberi kami waktu menikmati hadiah menakjubkan ini.  

            Di tengah pendakian, Pak Nyoman, satu orang team kami mulai demam. Suhu tubuhnya terus meningkat. Dengan persediaan obat-obatan di ranselku, Paracetamol segera menghuni lambungnya. Pemandu meminta untuk bertahan sebentar agar mendapat lokasi terbaik beristirahat. 

Tiba-tiba hujan gerimis turun, suara nyanyian daun cemara yang dilalui angin menderu semakin keras. Di bawah rintik hujan aku memeluk batu-batu besar yg kulewati, bagai sedang memeluk kuat-kuat gunung itu. Aku salut kepada keenam peserta lain. Ibuku yang berusia enam puluh tiga tahun, ayah enam puluh tujuh tahun, dan teman-teman beliau yang sebaya.

Belum pernah aku merasakan kepasrahan akan jiwa seperti saat itu. Suara radio pemandu yang ada di depan menjadi panduan jarak antara satu dengan lainnya. 

Pada ketinggian berikutnya, satu peserta  lagi tidak dapat melanjutkan pendakian. Jari jemari kaki ibu Kol, teman ibuku mendadak kaku dan sulit digerakkan. “Sepertinya asam urat saya kambuh!” kata ibu Kol sedih. Jero Mangku berusaha menghibur. “Jangan menyesali sebuah rintangan, mungkin dia hadir untuk menolong,” kata beliau dengan arif.

            Suara ayam hutan saling bersahutan menyambut kami. Langit di ufuk timur mulai memerah. Pertanda pagi akan tiba. Suara para penghuni gunung mulai terdengar sahut menyahut seperti di kebun binatang. Sungguh indah. Kami tiba di lokasi landai pertama tempat pendaki mendirikan kemah seadanya jika diperlukan menginap/beristirahat. Kami bertemu sepasang suami istri wisatawan dari Jerman. Mereka mengundang tubuh kami menikmati hangatnya api unggun. Kami juga disuguhkan teh hangat, dan coklat penambah kalori. Berkenalan dengan Fred dan Ferelly sangat menginspirasi kami untuk bersikap sabar akan pendapat seseorang.



(Dalam photo atas, tampak dua wisatawan Jerman dengan baju hitam) 


Dua orang teman kami, Ibu Kol dan Pak Nyoman terpaksa berhenti sampai di titik ini. Setelah memastikan mereka dalam keadaan aman dan nyaman, kami menitipkan mereka berdua kepada pelukan hangatnya api unggun.

            Jalur yang dilalui semakin sempit dan terjal, sampai kami tiba di pura yang menjadi tujuan utama. Tangis haru pun pecah. Kami bersyukur akan kebesaran Tuhan. Sebelum mencapai tempat ini, dia telah kujelajahi dalam mimpi sebelumnya. Luar biasa, terkadang semesta memberimu pesan lebih awal untuk sebuah kejadian.

            "Terima kasih Tuhan!" kata-kata itu meluncur tiada henti. Di belakang kami bebatuan tampak seperti kain putih dibentangkan turun dari atas gunung. Aliran lava letusan gunung keramat ini di waktu yang lampau. Sembahyang menjadi sungguh istimewa. 

“Tuhan memberkati pendakian suci ini, beliau melimpahkan air suci yang keluar dari sela-sela tebing terjal. Beberapa kali ada yang mendaki, mendapati tebing yang kering, bahkan setetes air pun tidak mengalir!” cerita Jero Mangku. 

Setelah selesai memohon air suci dan sembahyang kami memutuskan kembali turun. Walaupun ada rasa penasaran yang amat sangat, ingin memandang kawah gunung, tetapi kami tidak punya pilihan lain selain kembali. Ada dua kawan yg sedang sakit dengan sisa perbekalan yang mulai menipis membuat kami memutuskan segera turun.

    Mencapai tempat yang lebih rendah sama berbahayanya dengan mendaki. Semua punya tantangannya masing-masing. Ketika mendaki kita digoda oleh kesombongan akan pencapaian, maka ketika melewati  jalur turun kita diganggu oleh hasrat ingin segera sampai. Ini membuat kita menyalahkan kaki yang susah direm. Kondisi ini menjadikan kami agak terpisah jarak beberapa meter satu sama lain. 

Diantara pepohonan dan tebing terjal tiba-tiba aku mendengar suara bersamaan antara raungan tangis dan minta tolong. "Tolongggg...! Huuuu...huuuu... tolong!" Dari suaranya, itu adalah suara dan tangisan ibu Ketut Jati. Aku mendadak merasa ketakutan. Jangan-jangan Ibu Ketut Jati masuk jurang. 

“Siapkan tali panjang kita!” seru Jero Mangku kepada istri beliau. Ingatanku mulai memberi imajinasi berita-berita di koran, jika beberapa  pendaki sebelumnya ada yang jatuh ke jurang, tewas, dan hilang.

            Badanku bagai tertimpa batu besar ketika sampai di lokasi asal teriakan tadi. Ibu yang melahirkanku tergolek lemas dipapah bapak. Ibu mengalami hipotermia. Denyut nadinya tidak teraba, wajahnya pucat pasi, tidak bergerak dan setengah badannya membiru. Kami berteriak-teriak agar ibu bertahan. Kondisi panik melanda. Secara bergantian kami memijat ibu.

"Tuhan, jangan ambil ibuku sekarang!" hanya itu doa yang bergaung di dalam hatiku. Aku meminta pemandu kami memanggil team SAR. Mereka berusaha menenangkan.


"Kita berusaha dulu menyadarkan ibu!" kata Pak Kadek, pemandu kami. Lima belas menit berikutnya ibu mulai sadarkan diri. Pemandu segera memberikan ibu minum dan memaksa ibu makan pia agar ada energi. Karena tidak ada tandu, ibu menuruni terjalnya bebatuan dengan dipapah pemandu kami. 

Dalam perjalanan turun kami terus menerus berdoa agar ibu selamat. Di tengah pendakian turun, kami menjemput kembali dua rekan yang memutuskan menyudahi pendakian. Kondisi ibu semakin lama semakin membaik sampai di areal Pura Pasar Agung, tempat kami berkumpul diawal.       

          Perjalanan spiritual ini meninggalkan kesan yang tidak terlupakan. Pendakian yang mengajarkan kami untuk memberi persiapan lebih baik untuk pendakian berikutnya. 

“Bertahanlah, Pak. Semangat ya, Bapak harus sembuh. Ingat, kita akan mendaki Gunung Batur bersama-sama.” Aku berusaha menguatkan Bapak, ketika setahun kemudian Bapak terbaring di ranjang rumah sakit. 

Dalam keadaan lemah tak berdaya, Bapak memintaku mendekatkan kuping kanan ke bibir beliau. “Sri, bapak tidak akan pernah benar-benar meninggalkanmu!” pesan bapak sebelum menutup mata untuk selamanya. Aku sangat mencintaimu, Pak !

 

Read More

Floating Breakfast

Para pelancong mengenal Bali sebagai tempat yang istimewa untuk menikmati floating breakfast. Pemandangan laut yang indah, sawah hijau, gunung yang membiru, dan infinity pool memberi kesan sensasional.

Floating Breakfast 
Atau dikenal dengan sarapan mengambang adalah makan pagi (sarapan) di atas air. Semua menu akan diletakkan di atas nampan kayu yang  terapung. Aktivitas ini biasa dilakukan di atas kolam renang, danau, atau sungai yang airnya relatif tenang.

Baki yang digunakan sudah diberi alas gabus tebal yang tahan air. Baki akan mengapung bebas di atas air dan bisa dipindah/ditarik secara perlahan. Pada saat menikmati floating breakfast ini usahakan agar baki tidak ditekan terlalu kuat karena akan tenggelam.


(satu set floating breakfast at Balidroom Villas - Desa Tumbu Karangasem Bali)

Sarapan atau makan pagi 
Sering disebut sebagai waktu makan terpenting dalam satu hari kita akan beraktivitas. Makan pagi selalu dikaitkan dengan bekal energi untuk mengawali hari. Oleh karena itu makan pagi mendapat perhatian yang cukup istimewa. 

Manusia selalu ingin menikmati sensasi yang berbeda dalam kegiatan rutin mereka. Sepuluh tahun silam berkembang tren 'breakfast in bed' atau sarapan di ranjang. Menu makan pagi akan diletakkan di atas baki yang berkaki dan bisa diletakkan langsung di atas perut. Biasa dilakukan untuk memberi kejutan manis kepada pasangan, atau orang yang istimewa.

Hotel-hotel ataupun villa mulai melengkapi layanan mereka dengan model sarapan ini. Bagaimana rasanya? Tentu saja sangat menyenangkan apalagi jika dilakukan dengan orang-orang tercinta seperti pasangan, keluarga, ataupun teman-teman. Kita akan menemukan sensasi yang berbeda. 

Floating breakfast sebaiknya segera dinikmati secara bertahap. Udara terbuka membuat sajian menu akan cepat dingin. Usahakan tidak terlalu kenyang, karena tak baik jika langsung berenang. 
































Harga yang ditawarkan 

Tentu berbeda-beda menyesuaikan dengan menu makanan yang disajikan ataupun keistimewaan lokasi yang dipilih.


Buat yang masa kecilnya sering main ke sungai atau danau mungkin sudah menikmati  sensasi ini lebih awal. Mengirim makanan bekal dengan rakit bambu sambil bermain air bersama kawan-kawan menjadi pengalaman penyenangkan. 


Membawa makanan dan menikmatinya di atas pohon juga seru dan menegangkan. Jadi teringat masa kecil saya. Tetangga kami mempunyai sebuah lahan yang cukup luas dengan pohon-pohon besar dan rindang. 

'Mr. Green' panggilan beliau yang saat itu gemar membuat rumah pohon dari bambu. Ada beberapa rumah pohon yang cukup tinggi dan luas. Cukup untuk maksimal sepuluh orang anak. Tempat itu menjadi tempat bermain untuk anak-anak di daerah kami. Sensasi makan bersama teman bermain yang tidak terlupakan.


So.... Kita bisa menciptakan berbagai macam cara untuk menikmati makan bersama. Karena bahagia itu bukan karena tempat dan fasilitas saja, melainkan lebih kepada dengan siapa kita menikmatinya. Cinta yang luas akan membuat makanan terasa semakin nikmat.

Enjoy your breakfast...






Read More

Tantangan Waktu Saat Menemani Anak-anak Belajar Secara Online

Saat ini banyak ibu-ibu merasa resah dengan tambahan tugas barunya. Menemani anak-anak belajar secara online. Agar tetap nyaman dan tidak mengundang emosi jiwa, sesekali luangkan waktu dan ajaklah mereka relaksasi sejenak. Memandang sawah nan hijau, kebun yang rimbun, atau pantai yang biru bisa dijadikan pilihan bijaksana. Merawat peliharaan di rumah juga kegiatan yang menyenangkan, dan masih banyak lagi hal-hal menarik yang dapat kita lakukan bersama.
Semua bertujuan agar belajar di keesokan harinya tetap nyaman dan tidak mengundang rasa jenuh. Hal ini merupakan efek samping dari sistem belajar yang meniadakan interaksi secara langsung. Sesuatu yang baru bagi anak-anak dan rentan mengundang rasa bosan.

Sesungguhnya menemani anak-anak belajar bukanlah hal yang baru. Setiap malam kita juga sudah terbiasa menemani mereka belajar. 

Waktu belajar menjadi salah satu point yang membuat pembelajaran secara online menjadi tantangan baru. Jika biasanya dari pagi sampai siang hari kita menitipkan anak-anak untuk belajar di sekolah, saat ini tugas itu beralih kepada kita. Ini bukan hal yang mudah untuk para ibu. 

Bagi ibu rumah tangga, waktu ini adalah waktu keramat dengan banyak tugas-tugas rumah tangga. Mulai dari belanja kebutuhan harian, menyiapkan sarapan, memasak, bersih-bersih rumah, membereskan cucian, mebanten, dan lain-lain. Rutinitas ini masih bisa disiasati dengan menukar waktu kerja kita. Yang biasa dikerjakan pagi hari bisa diganti ke siang. Tentunya setelah semua tugas-tugas anak selesai terlebih dahulu. Saya biasa mengajak anak-anak mengerjakan tugasnya di meja makan, bukan di dalam kamar mereka. Sambil menemani mereka belajar, masakan tetap dapat disajikan tepat waktu. Lakukan hal-hal yang bisa dikerjakan bersamaan dengan waktu anak-anak belajar. Sisanya bisa dialihkan ke waktu berikutnya. Semua pihak harus bersedia menurunkan ego. Sang Ibu dan anaknya. 

Untuk ibu-ibu yang bekerja, mungkin bisa menyiasati dengan menengok anak-anak di rumah saat jam makan siang (jika memungkinkan). Meminta dispensasi waktu kepada guru pengajar di sekolah juga bukan hal yang tabu. Jika kepercayaan antara guru dan orang tua sudah terjalin, hal ini bukanlah sebuah hambatan. Kebetulan di sekolah anak saya sangat terbuka akan hal ini. Jika ada upacara adat atau harus keluar kota, saya biasa menghubungi guru mereka untuk minta penundaan waktu. Saya biasa share loc atau mengirim photo lewat Whatsapp untuk membuktikan keadaan yang sebenarnya. Sejauh ini semua berjalan lancar. 

Penundaan karena suatu kepentingan bukan berarti meniadakan tugas tersebut. Semua bisa kita bicarakan dengan baik. Kondisi saat ini akan membuktikan seberapa dekat orang tua dengan pihak sekolah. Seberapa jauh kita mengenal guru-guru anak kita.

Semoga bermanfaat, tetap semangat untuk berkarya dan belajar. 



Read More

Lumba-lumba Dan Wisata Taman Laut Pantai Lovina







Berkejaran dengan waktu sudah menjadi gaya hidup manusia modern. Dari semua rutinitasnya, setiap orang membutuhkan waktu untuk istirahat sejenak. Itu karena tubuh kita juga membutuhkan waktu untuk relaksasi. Menyusun kembali kekuatannya untuk melanjutkan tugas-tugas bertumpuk di waktu berikutnya. 

Pulau Bali menawarkan beraneka macam tempat untuk kebutuhan yang satu ini. Bagi saya pulau Bali adalah pulau teristimewa. Bukan karena saya lahir dan menetap di Bali saja, tetapi pulau ini mempunyai semua jenis tempat wisata. Mulai dari gunung, laut, pantai, persawahan, dan lain-lain. 

Salah satu tempat favorit saya adalah Lovina. Untaian pantai di sepanjang pesisir Bali Utara. Tepatnya sepuluh kilometer ke arah barat dari kota Singaraja. Lokasinya berada di Desa Kalibukbuk Buleleng Bali. Kawasan wisata yang sangat terkenal disini adalah pertunjukan lumba-lumba di tengah laut dan wisata menyelam di kawasan taman laut. 

Daerah Lovina menyediakan berbagai jenis penginapan, villa, dan hotel dengan harga bervariasi. Semua bisa disesuaikan dengan isi dompetmu. Pantainya yang berpasir hitam selalu tenang dari deburan ombak. Karena dasar pantainya juga berlumpur, kita akan jarang menemui wisatawan bermain di tepi pantai. Biasanya para wisatawan lebih senang memanfaatkan waktu mereka untuk berenang di kolam yang disediakan hotel sambil menikmati pantai yang menyuguhkan pemandangan sunrise dan sunset menakjubkan.

Untuk dapat menemui kawanan lumba-lumba di tengah laut, kita harus berangkat dengan perahu nelayan sebelum matahari terbit. Lumba-lumba akan bermunculan di tengah laut antara jam 6 s/d jam 8 pagi waktu setempat. Setelah melewati jarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai, kita dapat menyaksikan atraksi mereka. Ada yang melompat-lompat atau sekedar berenang diantara perahu nelayan. Sungguh sebuah pemandangan yang menyenangkan. Aktivitas ini berlangsung sekitar dua jam. Setelah itu kita dapat menikmati keindahan flora dan fauna bawah laut dengan aktivitas menyelam. Di kawasan Taman Laut ini kita akan menjumpai banyak terumbu karang dan jenis ikan yang indah beraneka warna.

Kita tidak dapat membagi rasa. Kita hanya dapat menceritakan rasa itu lewat kata-kata. Sehingga rasa harus menjadi pengalaman sendiri bagi setiap orang. 
Read More

Ukuran Kecil Tapi Hasilnya Lumayan

"Ooo... ternyata kebunnya tidak luas, ya!" kata beberapa teman dan keluarga besar  yang datang berkunjung melihat kebun saya. Kata-kata yang sering terlontar ketika mereka menyaksikan langsung jika kebun saya hanyalah kebun di pekarangan atau lahan parkir seadanya.

Bagi masyarakat yang terpaksa harus menerima kondisi untuk dirumahkan akibat pandemi COVID-19 tentu mulai mencari cara agar ada penghasilan baru. Yang awalnya membuat kue atau masakan hanya sekedar untuk hobby, mulai memasarkan produknya secara online. Yang bisa menjahit kembali mengumpulkan kekuatan untuk berkreasi dengan kain dan benang. Yang mempunyai lahan cukup luas mulai memanfaatkannya untuk berkebun atau beternak. Semua cara dilakukan dengan tujuan yang sama, menyambung nafas kehidupan anggota keluarga masing-masing.

  

Bagaimana halnya dengan orang-orang yang tidak mempunyai lahan cukup luas?

Selama ada kemauan pasti ada jalan. Kita dapat memanfaatkan pekarangan sempit untuk berkebun dan bercocok tanam. Pilihan yang tepat tentunya adalah tanaman jangka pendek yang bisa segera dipanen. Contohnya adalah bayam, cabai, sawi hijau, kelor, ubi kayu, labu, dan lain-lain. Semua dapat disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia.  Kita dapat memanfaatkan media tanah dengan cara menanam di dalam pot, polybag ataupun di lahan terbuka. Pot/wadah yang dipakai juga tidak harus membeli yang baru. Botol plastik bekas, ember bekas, box plastik bekas tentu dapat difungsikan kembali. Bagi yang memilih media tanam dengan air juga dapat mulai mencoba system tanam hidroponik sederhana. 

 





Awalnya hasil kebun saya hanya untuk kebutuhan dapur keluarga.

Semakin lama hasil panennya semakin banyak. Hampir semua keluarga besar sudah ikut mencicipi. Berbagi itu rasanya memang nikmat, walau hanya sekedar sayuran.

Karena rajin posting di sosial media juga, lama kelamaan mulai ada yang bertanya.

"Ada yang mau dijual ngga?" kata tetangga dan pemilik warung kecil di sekitar rumah. Mulai deh, hasil kebun saya masuk ke warung-warung. Rata-rata satu warung minta tiga sampai tujuh kilogram terong, tiga sampai lima kilogram tomat,  dua kilogram cabai, dan seterusnya.



















Bagaimana dengan panduan cara berkebunnya?

Di era internet saat ini semua pertanyaan kita sudah mempunyai jawabannya masing-masing.  Mulailah memanfaatkan informasi dari gatget yang ada dalam genggaman.

 

Kita tidak akan pernah memahami proses dan menikmati hasilnya jika hanya menyimpan semua rencana di dalam kepala. Yuk, mulai dari sekarang. Setiap ketekunan pasti berujung kepada keberhasilan.

Read More